Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

AQIDAH BATIL SUFI ISLAM NUSANTARA VS AQIDAH TAUHID MUSLIM NUSANTARA (Bantahan Terhadap Said Aqil Siradj 10)

Bismillahirrohmanirrohim. o

Bantahan Terhadap Said Aqil Siradj 10:

Aqidah Batil Sufi Islam Nusantara vs Aqidah Tauhid Muslim Nusantara

 

Sejenak Duduk di Beranda Alkisah Milik Jemaat Islam Nusantara Selaku Penentang Dakwah Muslim Nusantara (baca: Walisongo)

وشهد شاهد من أهلها

Sudah menjadi sunnatullah bahwa peperangan antara Ahlul Haq dengan Ahlul Batil akan senantiasa ada sampai akhir zaman kelak. Akan senantiasa muncul para pembawa panji-panji kebenaran yang akan berdiri menghadang seruan para duat penyeru di pintu-pintu jahannam serta para pendusta dari kalangan para pembela (advokat) kesesatan dan kekufuran.

Diantara bentuk KAMPANYE DUSTA wajah dakwah Jemaat Islam Nusantara (JIN) adalah mempersonifikasikan dirinya di hadapan umat sebagai dakwah ramah para wali (songo), padahal sikap dan perilaku mereka benar-benar 180° bertolak belakang dengan aqidah Muslim Nusantara (baca: Walisongo) yang diantara bentuk hikmah Muslim Nusantara untuk menjaga aqidah umat adalah munculnya kisah “radikalisme” (yang diperangi JIN tentunya) Muslim Nusantara berupa vonis Hukuman Mati terhadap penyebar ajaran sesat perusak aqidah, Syaikh Siti Jenar sebagaimana kisah dibunuhnya al Hallaj.

Pembelaan Jemaat Islam Nusantara (JIN) terhadap Syaikh Siti Jenar bersama aqidah kufur Wihdatul Wujud dari vonis “radikal” Hukuman Mati Muslim Nusantara (Walisongo) nampaknya menjadi titik tolak pembelaan mereka (advokat) terhadap berbagai paham sesat yang lainnya dengan mengkamuflasekan diri untuk mengecoh dan membetot simpati umat sebagai gerakan ramah anti radikalisme yang sejatinya adalah wadah untuk membela, melindungi dan menyuarakan paham radikal sesat dalam berIslam.
Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar jika kita menyimak dan menyaksikan bukti-bukti penentangan yang sangat nyata dedengkot JIN, Said Aqil Siradj terhadap vonis mati Syaikh Siti Jenar yang diputuskan oleh Muslim Nusantara (baca:Walisongo) dalam versi kisah yang mereka kisahkan sendiri.
Wajah lain Islam Nusantara adalah pembelaan total penggagasnya (SAS) terhadap paham sesat Wihdatul Wujud Manunggaling Kawulo Gusti Syaikh Sufi Siti Jenar.

Islam Nusantara & Aqidah Kufur Wihdatul Wujud

Prof Dr KH Said Aqil Siradj, sang Ketua Umum PBNU di dalam ceramah Maulid 11 Januari 2015 di Sidoarjo.

Transkrip:
“Kita ini sebenarnya tidak ada, kita ini diadakan oleh yang ada. Yang ada sebelum kata ada itu ada. Kita menggunakan kata ada karena ada yang ada. Kita menggunakan kata tidak ada karena ada yang ada. Maka semua adalah ada, tidak ada itu tidak ada. Ahmad tidak ada di masjid, Ahmadnya tidak ada tapi tidak adanya Ahmad, ada. Gelas kosong, airnya yang tidak ada, kosongnya? Ada. Oleh karena itu yang ada hanyalah yang ada.

Kita buktikan…kita buktikan…
Kita menggunakan kata ganti dhamir, pronoun ana, anta, huwa. Aku, engkau, dia. Bisa dipakai siapa saja, aku Ahmad, aku Hasan, aku Husein, aku Maryam, aku Zainab, aku Fathimah, engkau Ahmad, engkau Hasan, engkau Husein, engkau Zainab, engkau Maryam, engkau Fathimah. Dia Ahmad, dia Hasan, dia Husein, dia Fathimah, dia Zainab, dia Maryam, kan ngoten nggih (demikian kan)?

Kalau sudah mati semua, kalau kita sudah mati semua, kemana aku, engkau, dia yang pernah kita gunakan itu? Kemana aku, engkau, dia yang dulu pernah kita gunakan untuk si Ahmad, si Husein, si Khalid, si Abubakar, si Toto… kemana?

Tinggal Aku satu yang tidak akan mati! Laa ilaaha illa ana. Ai laa wujuda illa ana, ai laa ana illa ana. Tiada tuhan kecuali aku kata Allah. Artinya tidak ada yang wujud kecuali aku, atau tidak ada aku kecuali aku.
Paham mboten? Paham mboten? Alaaaa mboten patek paham niku!

Ketika kita sudah mati semua, kemana kembalinya engkau? Engkau Ahmad, engkau Abubakar, engkau Hasan, engkau Zainab wis mati kabeh lha nang ndi iku? Tinggal satu engkau yang hidup selama-lamanya……

Laa ilaaha illa anta, tiada tuhan kecuali Engkau
Laa wujuda illa anta, tidak ada yang ada kecuali Engkau
Laa anta illa anta, tidak ada Engkau kecuali Engkau…… paham mboten?

Dia, dia Ahmad, dia Hasan, dia Abubakar, dia Khalid sudah mati semua..
Dia Zainab, dia Fathimah, dia Maryam sudah mati semua sudah…
Tinggal Dia yang tidak akan mati selamanya
laa ilaaha illa huwa, tiada tuhan kecuali dia
Ay laa wujuda illa huwa, tidak ada yang wujud kecuali dia
Laa huwa illa huwa, tidak ada dia kecuali dia……

04.05 Jadi hakekatnya aku, engkau, dia adalah…. Allah. Hakekatnya aku Allah, hakekatnya engkau Allah, hakekatnya dia adalah….Allah.

Syaikh Siti Jenar, namanya Abdul Jalil, puteranya Pangeran Darusela dari Caruban Cirebon, bukan orang Sidoarjo, orang Cirebon itu. Syaikh Siti Jenar orang mana? Cirebon namanya Abdul Jalil. Beliau ngaji pada Syaikh Dzatul Kahfi yang kuburannya di Gunungjati itu. Rupanya ngajinya feqih terus, haram, halal,wajib, sunnah, makruh, bosen. Akhirnya budhal (berangkat) ke Palembang mendapatkan guru namanya Abdullah al Habsyi atau al Haddad, lupa saya. Setelah itu pergi haji. Pulang dari haji Syaikh Abdul Jalil ngomong, “Anallah…Aku Allah… Aku Allah “, ditangkep, diadili oleh pengadilan, Ketua pengadilannya, Ketua Majelis hakimnya Syaikh Ja’far Shadiq bin Utsman al Hamadani alias Sunan Kudus.

Vonisnya, keputusannya bahwa Siti Jenar harus dipancung! Harus dibunuh! Karena mengatakan ANALLAH.
Padahal KALAU WAKTU ITU ADA SAYA, SAYA BELAIN PAK! SAYA BELAIN!
Ketika Siti Jenar ngomong AKU ADALAH ALLAH… BENER! NGGAK NGGAK SALAH! ANALLAH… AKU ALLAH! Apa artinya? Yang sebenar-benarnya aku itu…. Allah. Adapun aku Jenar, aku Abdul Jalil nggak ono iki (tidak ada ini), paling-paling pitungpuluh (70) tahun. Tapi yang sebenar-benarnya aku selama-lamanya adalah…. Allah.

Kalau waktu itu ada saya, SAYA MENJADI ADVOKAT SAYA, SAYA MENJADI PEMBELANYA APA PENGACARANYA, SAYANG SAYA BELUM LAHIR WAKTU ITU.
Kalau saya ada, “Benar, Siti Jenar ngomong Aku itu Allah benar! Artinya satu-satunya aku adalah… Allah. Aku Ahmad, aku Khalid, aku Hasan… pinjeman. Kulo panjenengan yen ditakoni (saya, anda kalau ditanya), “Iki montore sopo yo, mobile sopo yo kok apik iki (ini montornya siapa, mobilnya siapa ya kok bagus begini)? Mobilku, ojo banter-banter (jangan keras-keras)ngomong -ku, sopo weruh engko bengi gak iso ngomong (siapa tahu nanti malam tidak bisa bicara) -ku. …..” –selesai penukilan

Gambar 1. Video Penentangan Dedengkot Islam Nusantara atas vonis mati Walisongo terhadap tokoh Sufi Wihdatul Wujud Syaikh Siti Jenar serta kesiapannya untuk menjadi advokat Wihdatul Wujud.

Url bukti: https://youtu.be/lnQTSLU4hCI

Demikianlah, penggagas Islam Nusantara telah memamerkan kepada kita sekalian aqidah Wihdatul Wujudnya dan pembelaan dan pembenaran 100% aqidah kufur tersebut serta kesiapannya untuk menjadi advokat Syaikh Siti Jenar (jika sudah lahir di kala itu). Nampak pula bukti kedustaan Islam Nusantara yang mengklaim sebagai penerus perjuangan Walisongo. Bahkan Aqidah Muslim Nusantara (baca: Walisongo) adalah musuh bagi Aqidah Sufi Islam Nusantara.

Di sisi Islam Nusantara juga terdapat kisah pengadilan Wali Songo yang berujung pada vonis “radikal ala JIN” hukuman mati sidang majelis Muslim Nusantara (baca: Wali Songo) terhadap tokoh sesat Islam Nusantaranya SAS, Syaikh Sufi Siti Jenar.

“Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.” -selesai penukilan –
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Syekh_Siti_Jenar

Nukilan:
“Serat Centhini jilid 1 menuliskan kisah Syeh Siti Jenar pada pupuh 38 (1-44). Karya sastra ini tidak menyebut asal mula Syeh Siti Jenar melainkan langsung pada peristiwa yang menyebabkan dirinya dihukum mati. Pada suatu ketika, Prabu Satmata (Sunan Giri) memanggil delapan wali yang lain untuk menghadap ke Giri Gajah, di istana Argapura. Kedelapan wali tersebut adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ngampeldenta, Sunan Kudus, Syeh Siti Jenar, Syekh Bentong, Pangeran Palembang, dan Panembahan Madura. Masing-masing wali menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki hingga giliran Syeh Siti Jenar yang berkata, “Menyembah Allah dengan bersujud beserta ruku’nya, pada dasarnya sama dengan Allah, baik yang meyembah maupun yang disembah. Dengan demikian hambalah yang berkuasa dan yang menghukum pun hamba juga.” Semua yang hadir terkejut sehingga menuduhnya sebagai pengikut aliran Qadariyah, menyamakan dirinya dengan Allah, serta keterangannya terlalu jauh. Syeh Siti Jenar membela diri dengan berkata bahwa ”biar jauh tetapi benar sementara yang dekat belum tentu benar”. Hal tersebut membuat Prabu Satmata hendak ?menghukumnya mati supaya kesalahan prinsip ajaran Syeh Siti Jenar jangan sampai tersebar.?

Setelah itu diadakan pertemuan kedua untuk menghakimi tindakan Syeh Siti Jenar. Pertemuan hanya dihadiri tujuh orang wali dengan dihadiri Syekh Maulana Magribi. Saat Syekh Maulana menegaskan nama Siti Jenar, ia menjawab, “Ya, Allah nama hamba, tidak ada Allah selain Siti Jenar, sirna Siti Jenar, maka Allah yang ada.” Hal tersebut membuatnya dihukum penggal bersama dengan tiga orang sahabatnya.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Syekh_Siti_Jenar

syaikh siti jenar

Gambar 2. Alkisah Syaikh Siti Jenar (musuh Walisongo), tokoh Sufi Islam Nusantara yang beraqidah kufur Manunggaling Kawula Gusti ay Wihdatul Wujud.

(Al)Kisah Pertarungan Tokoh Muslim Nusantara (Sunan Kali Jaga) vs Tokoh Islam Nusantara (Syaikh Sufi Siti Jenar)

Nukilan:
“Alkisah : Para Wali Songo melalui Sunan Bonang menugaskan Sunan Kali Jaga untuk menjemput Syekh Siti Jenar untuk ditanyai dan mempertanggung jawabkan atas siar ajarannya. Para Wali rada segan bertemu Syekh Siti Jenar ntah apa alasannya,
maka menugaskan Sunan Kali Jaga yang mempunyai sejarah sosialisasi pendekatan lebih baik dalam berdakwah ( Para Wali menggunakan metoda tradisional Islam dalam berdakwah, hanya Sunan Kali Jaga selain metoda tradisional dia juga memakai cerita peWayangan dalam berdakwah ). Maka pergi lah Sunan Kali Jaga beserta beberapa santri untuk menjumpai Syekh Siti Jenar dan membawanya ke hadapan para Wali untuk ditanyai mengenai ajarannya.

Setelah berhadapan dengan sang Syekh dan menjelaskan maksud kedatangannya, Syekh Siti Jenar mengajukan beberapa syarat kepada Sunan Kali Jaga, dia mau mengikuti kemauan Sunan Kali Jaga menemui para wali, kalau Sunan Kali Jaga mampu menjawab pertanyaannya tentang hakikat ALLAH dan mampu mengalahkannya dalam Ilmu adu kesaktian

Ternyata Sunan Kali Jaga mampu menjawab semua pertanyaan Syekh Siti jenar sesuai dengan Syariah Islamiah. Syekh Siti Jenar terkagum-kagum. Pada uji tanding kesaktian, Syekh menghantamkan tongkatnya ke tanah dan membuat dirinya melesak masuk kedalam bumi, Sunan Kali Jaga mengikutinya turut melesak masuk ke perut bumi … kemudian Syekh memisahkan jasad nya dgn Ruh nya dan ketika dicek oleh para santri beliau bener-bener dalam keadaan “MATI” tanpa nafas, jantung diam yang otomatis nadi pun diam, Hanya terdengar suara Syekh Siti Jenar yg berasal ntah darimana dan menyuruh Sunan Kali Jaga menghidupkan diri nya. Kemudian Sunan Kali Jaga membaca beberapa ayat-ayat suci Alquran yg membuat Ruh Syekh Siti Jenar benar kembali ke jasadnya

Syekh Siti Jenar mengaku kalah dan mau dibawa untuk menghadap para WALI
( hehehe hanya alkisah )”
http://forum.detik.com/wali-songo-vs-syekh-siti-jenar-t578808.html

Sebuah alkisah MLM (Mulut Lewat Mulut) pertarungan seru adu kesaktian antara Muslim Nusantara (dalam hal ini diwakili oleh Sunan Kalijogo yang berpegang dengan syariat) melawan murid dari tokoh Sufi Islam Nusantara (dalam hal ini diwakili oleh Syaikh Siti Jenar) yang mengharubiru sampaipun dinaikkan ke layar filem:

https://youtu.be/O9ObzYIwIFo

Maka Sunan Kalijogo Sang tokoh syariat Muslim Nusantara akhirnya memenangkan duel “radikal” ini setelah mengalahkan murid dari tokoh sufi Islam Nusantara, Syaikh Siti Jenar.

Adakah orang-orang yang berakal dapat mengambil pelajaran dari alkisah yang tersebar MLM tersebut?! Allahul musta’an.

Ngeri!! Islam Nusantara Menegaskan Lagi sebagai Pengusung, Pembela & Pembenar 100% Aqidah Kufur (Siti Jenar &) Al Hallaj!!

Telah berlalu uraiannya bahwa dari alkisah MLM (yang tidak bisa diverifikasi keshahihannya) yang tersebarluas di masyarakat sendiri ternyata justru merupakan bantahan yang membongkar klaim dan kedustaan mereka.

Al Hallaj dan Syaikh Siti Jenar benar 100%
Berikut transkrip pidato dedengkot Islam Nusantara, Said Aqil Siradj.

00.57 …Jadi aku, kamu, Allah aaa.. dia adalah Allah, bukan Ali, bukan Ahmad, bukan Toto, bukan Maryam, bukan Zainab, itu cuma 70 tahun. Yang selamanya aku Allah, yang selamanya engkau Allah, yang selamanya dia Allah.

Maka Al Hallaj atau Syaikh Siti Jenar mengatakan AKU ALLAH BENAR 100%, SEDIKITPUN TIDAK SALAH. Hanya waktu itu sayang atau bagaimana kepentingan politik atau apa (ada yang menyeletuk: “belum ada NU) ..tertawa.

02.01 Kalau kita renungkan, kita ini sebenarnya tidak ada, hanya kita ini diadakan. Kita ini nggak ada sebenarnya, hanya diadakan oleh yang ada. Sedangkan yang ada hanyalah yang ada, tidak ada itu tidak ada karena tidak ada itu ada. Kita gunakan kata ada karena ada yang ada. Kita gunakan kata tidak ada karena ada yang ada. Maka kita semua ada manifestasi dari yang ada tersebut. Nanti malem dipikir…….(pendengar) hahaaaaha” –selesai penukilan

Gambar 3. Video bukti pembelaan dan pembenaran 100% dedengkot JIN atas aqidah kufur Sufi Wihdatul Wujud Syaikh Siti Jenar dan Al Hallaj.

Url bukti: https://m.youtube.com/watch?v=K3I_lqwGyRc&feature=youtu.be

Para Ulama Syafi’iyah Menelanjangi Kekufuran Aqidah Islam Nusantara ay Said Aqil Siradj ay Syaikh Siti Jenar ay Al-Hallaj

Sesungguhnya para pemilik aqidah kufur Wihdatul Wujud di dalam sejarah Islam telah divonis mati oleh para ulama terdahulu. Hanya saja datang Jemaat Islam Nusantara (JIN) berupaya keras untuk menyebarluaskan dan menghidupkan kembali aqidah kufur tersebut dari kuburannya.

Telah kita saksikan bersama bukti kedustaan Islam Nusantara yang mengaku sebagai penerus Dakwah Walisongo, bahkan aqidah kufur Islam Nusantara adalah musuh bagi dakwah Muslim Nusantara (Walisongo).

Berikut beberapa pernyataan para ulama dari pembesar Syafi’iyah serta nukilan keterangan dari para ulama Ahlussunnah yang lainnya.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

١~ قال ابن كثير _رحمه الله_ في ترجمة الحلاج :
هو الحسين بن منصور الحلاج، كان جده مجوسيا من أهل فارس، نشأ أي الحلاج بواسط و دخل بغداد و تردد إلى مكة، و قد صحب سادات الصوفية كالجنيد و عمرو المكي.
و حكي عن غير واحد من العلماء إجماعا على قتله، و أنه قتل كافرا، و كان مشعوذا متلونا، فهو مع كل قوم على مذهبهم إن كانوا أهل سنة أو رافضة أو معتزلة أو صوفية أو فساقا و غيرهم، و ما زال يضل الناس و يسموه عليهم حتى ادعى الربوبية فسجن في بغداد بعد فتوى العلماء. (البداية و النهاية ، ١١/١٣٨).

“Dia (al-Hallaj) adalah al-Husain bin Manshur al-Hallaj, kakeknya adalah seorang Majusi yang berasal dari penduduk Faris, dia tumbuh besar yakni al-Hallaj di daerah Wasith lalu ia masuk ke kota Bagdad dan berbolak-balik ke Mekah, dia banyak berteman dengan pemimpin-pemimpin sufi , seperti al-Junaidi dan Amr al-Makki.

Diriwayatkan lebih dari satu ulama atas kesepakatan mereka untuk membunuhnya, dan bahwasanya ia dibunuh karena kekafirannya.

Dia adalah tukang sihir yang MUTALLAWWIN (BERUBAH-UBAH PENDIRIAN), maka dia berada di atas madzhab semua golongan sekalipun golongan itu adalah Ahlus Sunnah, Rafidhah, Mu’tazilah, Sufiyah atau orang-orang fasik dan selainnya. Dia senantiasa menyesatkan manusia dan… sampai-sampai dia mengaku-ngaku memiliki sifat Rububiyyah, maka diapun kemudian di penjara di Bagdad . Para Ulama ahli fiqih bersepakat untuk mengafirkannya dan menyatakan bahwa dia adalah seorang zindiq, dan bahwasanya dia adalah tukang sihir lagi pendusta yang di bunuh di Baghdad setelah mendapat fatwa dari para Ulama untuk membunuhnya”. ( al-Bidayah wan Nihayah ,11/138 )

Berkata Imam adz-Dzahabi di dalam kitab (al-Mizan) :

٢~ وقال الإمام الذهبي في (( الميزان )) :
الحسين بن منصور الحلاج المقتول على زندقة ما روى ولله الحمد شيئا من العلم، وكان له بداية و تأله و تصوف، ثم انسلخ من الدين و تعلم السحر و أراهم المخاريق و أباح العلماء دمه. انتهى

“al-Husain bin Manshur al-Hallaj yang di bunuh karena ia seorang zindiq, dia tidak pernah meriwayatkan (segala puji hanya milik Allah) sedikitpun dari ilmu, dia memiliki pemikiran al-Bidayah , at-Ta-alluh, dan Tasawwuf, kemudian berpaling dari agama dan belajar ilmu sihir dan dia memperlihatkan kepada manusia keanehan-keanehan. Para Ulama telah menghalalkan darahnya.”

Berkata Imam asy-Syaukani rahimahullah :

٣~ قال الإمام الشوكاني _رحمه الله_ :
أما الحلاج فهو الفاتح لباب الوحدة الذي شغل بها ابن عربي و أهل نحلته عمره، و تقدم القافلة في هذه المقالة الكفرية. (( الصوارم الحداد، ص ٩٧- ٩٨))

“Adapun al-Hallaj maka dia adalah pembuka pintu wihdatul wujud yang kemudian Ibnu Arabi menyibukkan umurnya dengannya (wihdatul wujud) dan orang-orang yang mengikuti pemikirannya. Dan telah lalu bait sya’ir (yang ditulis oleh Ibnu Arabi) yang di dalamnya terdapat ucapan-ucapan kufur.” ( ash-Shawarim al-Haddad, hal 97-98 )

Berkata asy-Syaikh Muqbil rahimahullah :

٤~ قال الشيخ مقبل _رحمه الله_ :
و من الصوفية أيضا من أصبح زنديقا و قتل بسبب الزندقة، وهو الحسين بن منصور الحلاج و تبعه أبو العباس بن عطاء، فقتل الحسين بن منصور الحلاج ثم بعد زمن قتل أبو العباس على الزندقة.
و سمع الحسين بن منصور الحلاج رجلا يتلو آية فقال : لو شئت لقلت مثلها، و هكذا ابن الفارض فإنه أيضا تزندقة و في تائيته التي فيها الكفر الصراح. (( المصارعة ،ص٣٧٧ ))

“Dan diantara orang-orang Sufi yang menjadi zindiq serta dibunuh dengan sebab kezindiqan adalah al-Husain bin Manshur al-Hallaj dan kemudian dia diikuti oleh Abul Abbas bin Atha, lalu al-Husain bin Manshur al-Hallaj dibunuh dan setelah beberapa lama kemudian dibunuhlah Abul Abbas karena kezindiqannya.

Al-Husain bin Manshur mendengar ada seseorang membaca ayat al-Qur’an lalu ia (al-Hallaj) berkata : “Kalau engkau mau aku akan berkata sama sepertinya ‎(yakni ,perkataannya itu sama seperti ayat al-Qur’an -pen)”.

Demikian pula Ibnul Faridh dia juga seorang zindiq dan dalam bait sya’ir at-taa’iyyahnya terdapat kekufuran yang sangat jelas.” ( al-Mushara’ah, hal 377 )

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Rabi’ al-Madkhali hafizhahullah :

و قال الشيخ محمد بن ربيع المدخلي _حفظه الله_ :
و مذهب الحلول و هم القائلون بأن الله يحل في الإنسان تعالى الله عن ذلك، و قد نادى بذلك بعض الغلاة من الصوفية كالحسين بن منصور الحلاج، الذي أفتى العلماء بكفره و قتله، و قد قتل و صلب سنة ( ٣٠٩ ه)، و قد نسب إليه قوله :
أنا من أهوى أنا نحن روحان حللنا بدنا
فإذا أبصرتني أبصرته وإذا أبصرته أبصرتنا
فالحلاج حلولي يؤمن بثنائية الحقيقة الإلهية، فيزعم أن الإله له طبيعتان هما اللاهوت و الناسوت، وقد حل اللاهوت في الناسوت، فروح الإنسان هي اللاهوت و بدنه ناسوته.
و رغم أنه قتل فقد تبرأ منه بعض الصوفية، و أما بعضهم فقد عدوه من الصوفية و صححوا له حاله، و دونوا كلامه. (( حقيقة الصوفية ، ص ١٦- ١٧ ))

“Madzhab al-Hulul adalah madzhab yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala bersatu dangan manusia -Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu- , dan sebagian al-Ghulah dari kalangan orang-orang sufi menyatakan demikian seperti al-Husain bin Manshur al-Hallaj, dimana para Ulama telah memfatwakan atas kekafirannya dan memfatwakan agar membunuhnya. Dia dibunuh dan disalib pada tahun (309 H.), dan dinisbahkan sebuah sya’ir kepadanya :

“Siapakah aku apakah dia adalah aku
kita adalah ruh yang bersatu dalam badan kita
jika engkau melihatku engkau melihatnya
dan jika engkau melihatnya engkau melihat kami

Maka al-Hallaj adalah Haluli, dia percaya kepada penyatuan hakikat ilahiyyah, sehingga dia menyangka bahwa Ilaah memiliki dua tabi’at yaitu al-Laahut dan an-Naasut, dan (menurutnya) al-Laahut telah menyatu dengan an-Naasut, maka ruh manusia (menurut al-Hallaj) adalah al-Laahut dan badannya adalah an-Naasut. Hinalah dia bahwa dia dibunuh.

Sebagian dari orang-orang sufi berlepas diri dari (kesesatannya), adapun sebagian mereka maka mereka telah mengeluarkannya dari golongan sufi, dan membenarkan keadaannya (yakni, keadaanya dibunuh karena kafir -pen), dan menganggap hina ucapannya.” (Haqiqatush Shufiyyah , hal. 16-17 )

Url bukti: http://tukpencarialhaq.com/2014/10/13/mengapa-al-hallaj-dihukum-bunuh/

Kesimpulan

Telah dusta Islam Nusantara tatkala menyatakan sebagai penerus dakwah Walisongo.

Muslim Nusantara (baca: Walisongo) telah berupaya menumpas Aqidah Kufur Wihdatul Wujud dengan mengeksekusi mati pembawa dan penyebarnya, Syaikh Siti Jenar namun kemudian datang Jemaat Islam Nusantara (JIN) berupaya membangkitkan kembali aqidah kufur dari alam kuburnya serta menegaskan penentangannya terhadap vonis mati Walisongo dan menyatakan diri sebagai Advokat aqidah kufur Wihdatul Wujud Syaikh Siti Jenar.

Pembelaan dan pembenaran 100% Islam Nusantara terhadap aqidah kufur Wihdatul Wujud Al Hallaj dan Syaikh Siti Jenar.

Islam Nusantara mempropagandakan serta menyebarluaskan Aqidah Kufur Wihdatul Wujud.

Telah Dusta Islam Nusantara tatkala menyandarkan dirinya sebagai bermadzhab Syafi’i, bahkan para pembesar Syafiiyah menegaskan kafirnya Al-Hallaj yang beraqidah Wihdatul Wujud dan itulah sebagai penyebab dibunuhnya Al Hallaj sementara dedengkot JIN Said Aqil Siradj malah menegaskan benarnya 100% aqidah kufur Wihdatul Wujud.

⚔ Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
Klik ➡️JOIN⬅️ Channel Telegram:
http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com

 

Baca juga:

 

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>