SYAIKH DAURAH MUZANI AHMAD BADUKHIN SANG PENGACARA MMA MENEGAKKAN HUJJAH BAHWA DIRINYA BUKANLAH ULAMA KIBAR PEMUTUS PERKARA, MENJADIKAN DIRINYA SEBAGAI TANDINGAN ULAMA KIBAR KARENA LANCANG MASUK PADA PERKARA YANG SUDAH DIANGKAT KEPADA SYAIKH BUKHARI !!
Ahmad Badukhin berkata:
Atau orang tersebut akan berkonsultasi dengan asy-Syaikh al-Bukhari dalam masalah ini, karena masalah ini telah diangkat kepada beliau, dan beliau telah melihat semua yang dimiliki oleh kedua belah pihak.
Dan tidak sepantasnya seorang penuntut ilmu untuk menjadikan dirinya sebagai tandingan bagi para ulama, atau berusaha masuk dalam masalah yang telah diangkat kepada seorang ulama yang diakui dan diridhai oleh Salafiyyin, dan mungkin saja dia tidak mengetahui hakikat perselisihan ini.
Ucapan yang lurus bak panah bercahaya
Meluncur jernih dari hati yang setia
Tak bengkok ke kanan, tak pula miring ke kiri
Apalagi saling tikam dengan lidahnya sendiri
Hari ini berseru: “Ikutlah yang benar bersama Kibar!”
Esok bicara: “Tapi aku yang harus dibenar!”
Sungguh lidahmu lincah berputar
Tak peduli jejak katamu yang pernah dilontar
Lidahmu berkhotbah di mimbar kata
Mengajak bersatu di Indonesia menebar cinta
Tapi tanganmu lihai menyulut bara
Menusuk punggung bersama provokasi tawa penjahat MMA
Kau bilang, “Ikuti Ulama Besar,”
Namun yang ku dengar—dirimu sendiri yang minta diKibar²
Kala tak cocok dengan fatwa yang bijak
Datang lengkingan suara kecil agar dirimu tampak galak
Tiap petuah seakan nasihat presisi
Namun kontradiksinya meliuk-liuk di sisi
Meminta bersatu, tanganmu memecah
Menuntut adab, tapi mulutmu mencacah
Kau tuding orang manhajnya menyimpang
Padahal belokmu sendiri sudah jauh dari arah pematang
Yang semestinya kau cela kamu malah jadi tamunya
Yang seharusnya kau peringatkan malah jadi teman setia
Ah, betapa licin jejak kaki di lumpur nista
Berdalil sunnah tapi niat tersembunyi dinyata
Seakan duduk sebagai pengadil padahal pengacara
Tugasmu tak henti membela terdakwa saja
Wahai lidah, kenapa engkau licik
Bersumpah di atas garis lurus, tapi hatimu picik
Kau tuntut orang jujur berpijak
Sedang dirimu berdiri di pasir yang retak
Wahai penebar diksi bertopeng nasihat
Tak setiap kata bersayap berarti rahmat
Kadang, nasihatmu hanyalah panah bermadu
Menghujam bukan demi kebenaran, tapi tuk lindungi klienmu
Kejujuran itu bukan sekadar status bergaya
Tapi nyawa dari kebenaran yang nyata
Jangan kau kotori dengan ambisi terselubung
Atas nama baik namun kamu jatuh terjungkung
Jadilah lidah yang tulus, bukan topeng berpoles
Jangan jadi juru nasihat yang penuh kelicinan di lapangan es
Ucapan yang tak selaras dengan nurani
Akan menghinakan diri sendiri
Ingatlah, kejujuran tak suka drama panggung
Tak butuh aplaus dari jamaahmu yang bingung
Satu hati yang lurus pada Rabb-nya
Lebih mulia dari seribu topeng yang dibela Kibar palsunya
(ChatGPT humanizer, dengan perubahan, penyesuaian dan tambahan di sini sana)

