FENOMENA TAKATTUL DAN VONIS-VONIS HADDADIYAH SECARA ZALIM TERHADAP AHLUSSUNNAH
Asy-Syaikh Ali al-Hudzaifi Asy-Syarafi hafizhahullah
“Saya mengkritik suatu fenomena buruk yang masuk ke dalam dakwah, yaitu takattul (pengelompokan/pengkotak-kotakan), dan pengangkatan slogan-slogan yang bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka, alih-alih engkau bertanya kepadaku tentang dalil atas hal itu agar aku bisa membuktikannya kepadamu, justru engkau menuduhku dengan Haddadiyyah secara zalim.
✅Dan siapa yang menuduhku dengan Haddadiyah itu? Justru yang menuduhku itu lebih dekat kepada Haddadiyyah daripada aku, karena dia mencela sebagian ulama Ahlus Sunnah dan memusuhi sebagian orang-orang mulia karena fanatisme.
Kemudian muncul pula orang lain bersamanya, berbicara tanpa ilmu dan memfitnahku bahwa aku menuduh para ulama memiliki bitaanah (lingkaran dekat) yang buruk.
Apakah seseorang yang membela diri dan menjelaskan kedustaan para pemfitnah itu layak dianggap sebagai orang yang mencaci maki? Dan apakah berlaku atasnya perkataan Ibnu Taimiyyah bahwa membalas hanya dengan celaan dan makian adalah hal yang semua orang bisa lakukan? Apakah para imam Islam itu dicap sebagai tukang mencaci hanya karena mereka pernah mendustakan sebagian perawi dan ahli bid’ah?
Alangkah baiknya jika engkau mencegah para sufaha’ (orang bodoh) yang ada di sekitarmu agar tidak menuduh orang-orang yang tidak bersalah dengan Haddadiyah. Itu lebih utama bagimu daripada menyemangati mereka dari balik tirai.
Dan perkataan Ibnu Taimiyyah yang engkau bawa itu tidak tepat tempatnya, maka jangan dijadikan hujjah. Ini adalah kali kedua atau ketiga engkau mengutip perkataan Ibnu Taimiyyah atau Ibnu Qayyim di tempat yang tidak semestinya.
🫴Dalam waktu dekat, insya Allah, aku akan jelaskan apa itu takattul (pengelompokan) yang tercela itu.”
