Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

Si Pendusta Besar, Nama Lengkap dan Kunyahnya

بسم الله الرحمن الرحيم

SI PENDUSTA BESAR, NAMA LENGKAP DAN KUNYAHNYA

(Arsip 19 Desember 2006)

Bukan mudah memaju maksud
Simpang siur jalannya kusut
Majunya lambat beringsut-ingsut
Patah di tangan banyak yang susut
Menuju maksud ke jalan pasti
Sukar dan sulit bukan seperti
Mengadu bukti di medan ini
Jika tak jujur…celakalah pasti
Taubatlah yang harus ‘kau hampiri
Abdurrahman bin Abdul Karim At-Tamimi, Abu Auf; Abdurrahman Al-Kadzab-lah panggilan mantapnya.Gelar Lc (Lisanse) didapatnya dari Universitas Kairo, Mesir, Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, bukan Lc agama Islam seperti yang diduga banyak orang.
Berkaitan dengan penulisan nama dan gelar, ada upaya untuk me”maling”kan umat dari permasalahan yang prinsip kepada hal-hal yang tidak ada pengaruhnya terhadap inti permasalahan sebagaimana yang ditulis oleh Abu Salma, seorang lelaki (?) di balik cadar, tiada berani menunjukkan batang hidungnya-sikap yang sangat dicela oleh Syaikh Rabi’ (terhadap orang yang menulis artikel tetapi hanya menggunakan nama samaran atau menggunakan kunyah saja!). Anehnya, rajul ini menukil sendiri kecaman Syaikh tersebut, tetapi dia sendiri tetap bersembunyi di balik cadarnya. Apakah dia menulis artikel sambil bermimpi?
Maka –sebagaimana sebuah syair- kita katakan kepada –lelaki di balik cadar- Abu Salma, atau Abu Abdirrahman Al-Thalibi atau Abu Abdillah Al-Mishri, Abu Jibril, Abu Mush’ab atau siapapun dari kalangan Hizbiyyun yang merasa tenang dengan berlindung di balik nama kunyah dan samarannya:
Hasratmu hendak berlari bersamaku, kawan
Tapi jangankan berlari, berjalan cepatpun ‘kau tak dapat
Bukan karena tenagamu kurang atau badanmu lamban
Tapi karena (nama) samaranmu, langkahmu ‘tlah terhambat
Hasratmu hendak membubung tinggi, kawan
Tapi “rambut panjangmu” tersangkut sepucuk ranting
Kausentakkan “rambut”, “kebaya suteramu” terkait duri
Keperempuanan! Itukah yang lebih penting?
Abu Salma mempermasalahkan (artikel 17,5 bukti) penulisan “Ya Abdurrahman Al-Kadzab”. Dikatakannya, ini jahil dalam bahasa arab, yang benar (menurutnya) adalah “Ya Abdarrahman Al-Kadzdzab” ada tasydid di dalamnya.
Beberapa hal penting yang harus dicermati dari bantahannya ini:
1.Penyusun menggunakan kaidah bahasa Indonesia dan bukan kaidah bahasa arab. Secara otomatis kata seruan “Ya” dalam bahasa Indonesia tidak berpengaruh apapun terhadap kata yang mengikutinya sebagaimana lafal “Ya” yang berfungsi sebagai huruf nida’ dalam bahasa arab yang memansubkan kata setelahnya.
Tentang Al-Kadzab, dalam kaidah serapan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, huruf yang ditasydid TIDAK ADA KEHARUSAN untuk ditulis dobel, contoh Umar bin “Khathab”, “ummat” diserap ke dalam bahasa Indonesia dan cukup ditulis “umat”. “Terror” (Inggris) cukup ditulis “Teror” (Ind). Apakah Abu Salma telah lupa dengan pelajaran tingkat SMP ini? Ataukah selama ini belajar terus di negeri arab sehingga wajar kalau tidak tahu kaidah dasar bahasa Indonesia?
2. Haruslah dibedakan antara “penulisan lafal bahasa arab ke dalam tulisan latin Indonesia” dengan “penulisan kosa kata/istilah bahasa arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia”. Contohnya: “Majlis” (lafal aslinya dalam bahasa arab demikian), tetapi karena termasuk kosakata serapan, secara otomatis disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia menjadi “Majelis” dan bukan “Majlis” seperti yang ditulis Abu Salma. Demikian juga “Syaithan” cukup ditulis “Setan” (walaupun demikian, kita tidak akan menyalahkan jika ada yang menulis “Syaithan”).
3.Kalau mengikuti kaidah seperti yang dimaukan Abu Salma, kritikannya itu justru berbalik dan menghantam dirinya sendiri, contoh :
Salafiyyin (ada tasydidnya) dia tulis Salafiyin
-Haddadiyyah dan Haddadiyyin (ada tasydidnya) dia tulis Haddadiyah dan Haddadiyin.[1]
-Yaa Abdarrohmaan dia tulis Ya Abdarrahman (tidak menggubris panjang pendeknya harakat)
-“Arob” ditulisnya “arab”, adakah huruf “ra” dalam bahasa Arob?
-“AtTamimiy” ditulisnya “At-Tamimi”
ditulis “Minbar”, padahal pelafalan bahasa arab dan penulisan dalam bahasa Indonesia tidaklah berbeda: “Mimbar”
Dari sini nampak jelas “kualitas sesungguhnya” dari “orang ‘alim hizby” ini dan kita berharap agar dia lebih bersungguh-
sungguh lagi dalam mengenal dan mempelajari kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Bagi orang yang suka berkilah, mungkin saja kesalahan ketik ataupun tulis bisa dijadikan sebagai masalah besar untuk mengecoh umat. Bisa saja kalau kita tulis latin “Yaa Abdarrohmaan Al-Kadzdzab”, Hizbiyyin berkilah lagi, misalnya: “Menulis nama orangnya saja sudah salah/tidak becus, anak ingusan mau macam-macam! Lihat ijasah SD/Ibtidaiyah-ku, disitu tertulis ABDURRAHMAN dan bukan ABDARROHMAAN!” Selain itu, dia sendiri menulis “al-Utsadz Abdurrahman At-Tamimi”, Apakah Salafiyyin kemudian berkata kepadanya:”Jangankan orang yang baru belajar bahasa Arab, anak iqra’pun tahu bahwa guru disebut “Ustadz” dan bukan “utsadz”! Tetapi kita tidak mempermasalahkannya karena ini hanyalah kesalahan ketik semata dan sama sekali tidak berpengaruh apapun dalam membantah secara ilmiyyah bukti-bukti kedustaan At-Tamimi yang kami ajukan.
Kalau mau jujur, model penulisan apapun yang dipilih (berdasarkan lafal ataukah serapan) maka di dalam bahasa Indonesia keduanya tidak berpengaruh apapun terhadap arti dan maknanya. Jelas-jelas rumahnya sedang terbakar hebat, masih sempat pula untuk berdebat kenapa sampai bisa terbakar? Upayakan dulu untuk memadamkan apinya agar rumahnya tidak keburu habis, Allahu yahdiikum.
Buat Abu Salma, kalaupun masih ngotot juga dan memaksa agar kita mengikuti kaidahnya (setelah babak belur sedemikian rupa) maka kita katakan: “Sesungguhnya ralatmu itu semakin menguatkan dan mengokohkan gelar al-Kadzabnya! Bukankah PENULISAN YANG BENAR MENURUT ANDA adalah “YA ABDARRAHMAN AL-KADZDZAB?!” Tidakkah ralatmu ini semakin memantapkan penekanan bunyi dalam pelafalannya? Segala puji hanya untuk Allah yang telah menyingkap tabir kesamaran ini.


10.1 PUJIAN ULAMA TERHADAPNYA
Empat bintang amanah-kuasa didapatnya dari Masyayikh Yordan. Menguasai penerjemahan dan pendistribusian serta segala hal yang terkait dengan hak-hak semua karya ilmiyyah Syaikh Salim Al-Hilaly, Syaikh Ali bin Hasan, Syaikh DR. Muhammad bin Musa Nasr, dan Syaikh Masyhur bin Hasan Salman Hafidhahumullah.
Empat pelita ‘kau adu hadapkan
“Tuk tebar kesamaran dan kebingungan
Wajah hizby –sesaat- ‘kau sembunyikan
Topeng Salafy ganti ‘kau kenakan
Dan ucapkan…
Ahlan wa Sahlan wa Marhaban wahai Syaikh Yordan
Abdurrahman At-Tamimi adalah penguasa tunggal Royalti Masyayikh Yordan. Siapapun harus mendapatkan tazkiyah dari Abdurrahman At-Tamimi dulu dan menyerahkan fee kepada korlap (koordinator lapangan) para da’i “Salafy” ini jika mau berurusan dengan penerjemahan karya para ulama tersebut” (Lihat situs hizbinya Salafi.or.id/Salafindo.com; “Surat Kuasa Syaikh pada Kami”).
Adakah orang lain yang lebih hebat dibanding Abdurrahman At-Tamimi yang dapat menguasai karya ilmiyyah 4 ulama Yordan?
Sampai-sampai Syaikh Salim Al-Hilaly dan Syaikh Ali bin Hasan mengeluarkan pujian terhadap Abdurrahman At-Tamimi :
“AKHANA SAUDARA KAMI) AL-FADHIL (YANG MULIA) AL-USTADZ ABDURRAHMAN BIN ABDUL KARIM AT-TAMIMI” (ibid, Surat Kuasa Syaikh Pada Kami, 1.gift)
Syaikh Muhammad Musa Nasr menegaskan:
”saudaraku yang mulia, Syaikh yang terhormat Abu ‘Auf (Abdurrohman At-Tamimi)[2] –semoga Allah menjaga dan melindunginya serta menjadikannya termasuk orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan yang membela dakwah mubarokah di negri yang amat luas ini” (Muqaddimah Daurah Ke – 5 Oleh Syaikh Muhammad Musa Alu-Nashr, Salafindo.com)
Luar biasa, hanya kata itu yang pantas terucap.


10.2 KEDUSTAAN ITU TELAH MENEMBUS ANGKASA
Empat bintang kuasa yang dimilikinya terus dipertontonkan dan dipamerkan ke seluruh dunia via situsnya. Pantaslah jika kita sebut dia sebagai Abdurrahman At-Tamimi si Dedengkot Hizby.
Kuasa empat ulama kan slalu ‘kau pampangkan
Jalan melenggang dekati sasaran
‘Tuk tebar dusta dan kepalsuan
si Licik tlah genggam empat pengaman
Uji kebenaran-pun tak terelakkan
Sejauh mana mampu menahan…
Gempuran kenyataan yang trus menghinakan
Hanyalah cermin dusta yang hamba bawakan
Buruk muka…
Janganlah kaca …yang dipecahkan
Empat bintang kuasa yang dipegangnya benar-benar dimanfaatkannya untuk merangkul berbagai elemen Hizbiyyah yang ada. Hadirnya da’i-da’i Hizbiyyin-Sururiyyin-Turotsiyyin-Ikhwaniyyin-Surkatiyyin bahkan Takfiriyyin dalam daurah Masyayikh yang diselenggarakannya; Peliputan dan pemublikasian berbagai acara daurah serta transkrip ceramah para ulama Yordan yang dimuat oleh majalah As-Sunnah At-Turotsy Al-Kuwaity yang ditulis oleh serdadu-serdadu Ihya’ut Turots, Al-Sofwa Al-Muntada maupun Surkatiyyin menjadi bukti tak terbantahkan adanya kolaborasi diantara elemen-elemen Hizbiyyah yang ada. Tetapi, datangnya para Masyayikh tersebut, mampukah untuk mengubur dan menetralisir berbagai bukti kedustaan jaringan Hizbiyyah-ikhwaniyyah yang telah terkuakkan?! Mengubah kepalsuan menjadi suatu kebenaran?
Biasanya, seusai datangnya Masyayikh, para Hizbiyyun ini secepat kilat mempublikasikan berbagai oleh-oleh (hasil tipudayanya terhadap Masyayikh) yang sekiranya dapat dijadikan senjata untuk menghantam Salafiyyin. Apakah senjata itu telah “dimakan” sendiri? Ataukah senjata itu menjadi “makanan” tuan?!
Empat benteng tlah ‘kau hadangkan
‘Tuk menutupi….
Menara dustamu yang menjulang menembus awan
Tentu saja….
Masih tetap tampak dan kelihatan
Walaupun…
Dilihat dari kejauhan
Alhamdulillah bahwa kaum Muslimin telah mengetahui bahwa jaringan Hizbiyyah ini tidak punya senjata andalan apapun kecuali dusta dan tipu daya. Tidaklah suatu manhaj dusta ditutupi kecuali dengan mendatangkan kedustaan berikutnya, demikian seterusnya. Sikap nekad telah mengalahkan seruan taubat. Inilah lanjutan kisah nyata si Pembesar Hizby dan orang-orang yang mengkomploti.
Kenekatan yang luar biasa bahkan kekejian dusta yang tiada terperi justru berani dia lakukan di Markaz Al-Albani, tempat para ulama yang telah memberikan kuasa kepercayaan yang luar biasa kepadanya. Tidak cukup itu, bahkan di muktamar yang dihadiri kurang lebih 1000 orang penuntut ilmu dan sejumlah ulama dari berbagai negara! Adakah perawi dusta yang namanya telah terpatri di kitab-kitab jarh wat ta’dil yang mampu mengelabui umat sejumlah kurang lebih 1000 orang dalam satu tempat di satu waktu?! Ini adalah kejahatan yang tiada terkira. Tidak bisa tidak, membongkar kekejiannya adalah suatu kewajiban yang tidak terelakkan bagi setiap hamba yang mengetahuinya. Menyebarkan bukti-bukti kedustaannya adalah ikhtiar yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin yang telah memegang informasinya. Semua upaya ini kita kerahkan untuk meminimalisir dampak buruk akibat penyebaran informasi palsu dan menyesatkan yang terus dilakukan oleh jaringan Hizbiyyahnya.
Adalah suatu tragedi kemanusiaan dimana menggunakan tazkiyah untuk mengelabui umat. Mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya. Tidak boleh bagi siapapun untuk menyebarkan berita dustanya, apalagi dusta atas nama dakwah dan agama. Mencoreng-moreng wajah Islam yang mulia, merecoki umat dengan kepalsuan dan tipu daya. Akhlak tercela yang memalingkan umat dari jalan Allah, membutakan manusia dari kebenaran, mencampakkan kejujuran dan menggantinya dengan bendera kebohongan, menolong kebatilan, bid’ah yang merusak jalan yang lurus dan akhlak yang mulia, melecehkan manhaj Salaf karena pengakuan dusta para pengaku yang menggunakan segala cara dalam mengelabui umat untuk merealisasikan tujuan Hizbiyyah batilnya.
Ketika amanah tlah tercabut dari dalam dada
Nafsu khianah-pun menguasai jiwa
Ketika kejujuran tiada lagi tersisa
Darah dusta dan kepalsuan-pun menggelegak memenuhi raga
Ketika dinar Hizbiyyah tlah membutakan mata
Kebenaran-pun menjadi musuh di alam nyata
Ketika rasa malu tlah lari dari dalam kalbu
Konspirasi Hizbiyyah-pun ditegak-kibarkan sepenuh nafsu
Peperangan ini… belumlah berlalu


10.3 GURU KENCING BERDIRI, ANAK MURID KENCING KESANA KEMARI
Kalau guru makan berdiri, maka murid makan berlari
Pada artikel yang lalu, pembaca dapat menyaksikan sendiri bahwa setegas apapun kalimat yang kami lontarkan kepada Abdurrahman At-Tamimi dan jaringan Hizbiyyahnya, pada akhirnya –alhamdulillah- masih kami iringi dangan kalimat do’a “Allahu yahdik”, do’a dan harapan agar kebaikan dan hidayah Allah turun kepada mereka. Padahal isi pidatonya di Yordania sungguh-sungguh merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap Salafiyyin Indonesia, maka pantas saja kalau Salafiyyin merasa sangat marah kepadanya. Kalau kemudian makar keji tersebut dibongkar dengan menyertakan bukti-bukti ilmiyyah yang ada, apakah ini suatu hal yang berlebihan? Jangan kemudian dengan reaksi balasan dari Ahlus Sunnah, ramai-ramai jaringan Hizbiyyin keji ini mengacung-acungkan kutaib kedua Masyayikh Salafiyyin! Kalian harus rifqan (-Ahlus Sunnah bi Ahlissunnah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr Hafidhahullah-pen)! Kalian mesti Mawaddah (Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaf wat Tahdzir minal Furqati wal Ikhtilafi, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah)! Rifqan hanya untuk keluarga besar Ahlus Sunnah ya hizby! Mawaddah hanya untuk Salafiyyin Ahlus Sunnah ya Sururi! Apakah ketika menceramahi peserta Muktamar Masyayikh Salafiyyin ke-1 di Yordania, Abdurrahman At-Tamimi sedang menjalin Rifqan dan Mawaddah denngan Salafiyyin Indonesia?! Kalaupun Hizbiyyin tidak terima dengan bukti-bukti yang kami paparkan, mudah saja, bantah secara ilmiyyah!!
Misalnya:”Wahai anak ingusan yang bodoh! Engkau dusta! Buktinya ini…(misalnya: Saya –Abdurrahman At-Tamimi- telah berlepas diri dari Yazid Jawaz, Abu Ihsan dan Mubarak Bamu’allim walaupun dia tangan kanan saya sendiri di Ma’had Ali AlIrsyad Surabaya- akibat konspirasi mereka dengan dedengkot Ikhwaniyyin di Indonesia! Ini adalah bukti konsistensi saya dengan isi ceramah di Yordan bahwa penghalang terbesar dakwah Salafiyyah adalah Partai Keadilan Al-Ikhwani!”) Dan saya berlepas diri pula dari Pustaka Imam Syafi’i yang telah mempromotori kolaborasi Hizbiyyah tingkat tinggi ini! (Pembaca dapat membuktikan sendiri bahwa penerbit ini adalah underbow dari Al-Muntada Al-Sofwa, lihat situs alsofwah.or.id di bagian muka sebelah kanan tampak logo yang bertuliskan Pustaka Imam Syafi’I!!)
Engkaupun bisa pula membantah:”Wahai anak ingusan, sungguh saya telah berlepas diri dari diri saya sendiri dan isi ceramah saya di Yordan! Karena kalian telah berhasil menangkap basah, memiliki bukti Daftar Khatib Shalat Jum’at tahun 2004, tahun 2005 dan tahun 2006 di Markaz kami ketika kami menggandeng mesra “Gubernur” Ikhwanul Muslimin dan 3 dedengkot lapis pertama Ikhwanul Muslimin Jawa Timur!
Atau Yazid sendiri yang membantah, misalnya:”Wahai anak bodoh! Tidakkah engkau mengerti bahwa saya, walaupun telah berkoalisi dengan gembong Ikhwani tetapi saya tidak mau dikaitkan dengan berbagai manuver dusta Abdurrahman At-Tamimi di Yordania!”
Atau Aunur Rafiq yang menolak, misal:”Wahai anak kemarin sore! Walaupun saya pernah berkolaborasi dengan gembong ikhwani DR. Mushlih Abdul Karim dalam PRODIT 1 Al-Sofwa dan berkoalisi pula dengan dedengkot ikhwaniyyin lainnya Mudzakir Arif dalam PRODIT 3 Al-Sofwa berduet dengan Agus Hasan Bashari, tetapi mereka berdua (ikhwaniyyin itu) kan bukan pucuk pimpinan sebagaimana orang yang diajak Yazid berkoalisi?!
Atau Abdul Hakim Abdat yang ‘mentakhrij’, misal:”O-o, saya berkata : saya memang menjadi imam dan khatib shalat hari raya 1421H yang disponsori oleh Al-Sofwa As-Sururi dan Al-Haramain Al-Hizbi dan menjadi Muhaddits di majalah As-Sunnah yang merupakan kaki tangan Ihya’ut Turots dengan manhaj Quthbiyyin Abul Hasan Al-Mishri Al-Ma’ribi yang kesemuanya telah ditahdzir Hizbiyyahnya oleh para ulama Ahlus Sunnah! Tetapi untuk secara berterangmuka berdusta di hadapan ulama? O-o, rasanya saya belum berkeberanian untuk itu!”
Nah, kalau masih dalam jalur bantah membantah secara ilmiyyah seperti ini, tentu masih wajar. Tetapi rupanya serigala itu sudah terlanjur kegerahan dari balik bulu-bulu domba yang dikenakannya. Maka inilah seringainya Abdurrahman AtTamimi- yang menyeramkan:
“Sesungguhnya (segala) yang kamu katakan tentang kami dan tentang ma’had kami (ma’had Ali Al Irsyad Surabaya) hanya ada dua kemungkinan, kamu dusta padanya atau kamu benar (jujur): MAKA SEMOGA LAKNAT ALLAH ATASMU JIKA TUDUHAN-TUDUHAN YANG ENGKAU ARAHKAN KEPADA KAMI ITU ADALAH DUSTA, DAN LAKNAT ALLAH ATAS KAMI JIKA TUDUHAN-TUDUHAN ITU BENAR. BAHKAN KAMI MENANTANGMU UNTUK BERMUBAHALAH ATAS YANG DEMIKIAN ITU; maka kamu –wahai orang ini- adalah termasuk kaum yang tidak berguna padanya melainkan pukulan yang menyakitkan, dan tidaklah hujjah bermanfaat bagimu, dan tidak pula bermanfaat bagimu bukti yang memuaskan, dan tidaklah bermanfaat pula petunjuk yang dapat menundukkanmu. Maka mereka itu adalah pendusta yang tercela –orang-orang yang menipu dan pendengki serta suka bermusuhan-, maka tidak ada pada kami kecuali mengadukan mereka kepada Rabb kita Raja yang Maha Mengetahui: Ya Allah perlihatkanlah pembalasanku kepada orang yang mendzalimiku (kabulkanlah) pada waktu yang dekat-!! DAN SESUNGGUHNYA KAMI MENANTANG UNTUK BERMUBAHALAH DENGAN PENDUSTA INI, ATAU DUA PENDUSTA ATAU TIGA!! YAITU AGAR ALLAH YANG MEMILIKI KEPERKASAAN DAN KEKUASAAN, MELAKNAT MEREKA JIKA MEREKA DUSTA, ATAU MELAKNAT KAMI JIKA MEREKA BENAR… MEREKA TELAH MENGATAKAN TENTANG KAMI DAN TENTANG MA’HAD KAMI BAHWASANYA KAMI MEMPUNYAI HUBUNGAN DENGAN YAYASAN AL SOFWAH DI JAKARTA DAN AT TUROTS, DAN BAHWASANYA KAMI MEMPERMAINKAN PARA MASAYIKH DI YORDANIA (Na’am!! Itulah jawaban yang mantap –alhamdulillah-dari kami-pen)–sesuai dengan ungkapan mereka- dan kami berkata: Sesungguhnya kami berlepas diri dari melakukan sesuatu yang paling kecil dari hal itu(dan Maha Suci Allah ini adalah kedustaan yang besar) dan (kebohongan yang dibuat-buat) “YA ALLAH SESUNGGUHNYA KAMI TERDZALIMI MAKA BERIKANLAH PEMBELAAN-MU KEPADA KAMI” Surabaya, Ma’had Ali Al Irsyad, 27 Ramadhan 1424”
Pembaca sekalian, semoga kita semua diberi kekokohan dan kekuatan oleh Allah dalam menetapi kebenaran, beberapa hal penting yang dapat kita catat dari tantangan mubahalah ini:
1.Sesungguhnya Abdurrahman At-Tamimi telah memiliki pendahulu dalam permasalahan mubahalah. Syarif Muhammad Fuad Hazza’!! Ahlul Bid’ah!! (lagi-lagi) kaki tangan Ihya’ut Turots, penghina ahlul hadits Syaikh Muqbil Rahimahullah, Syaikh Al-Albani-pun tidak luput dari kedzaliman lidahnya; dan sekarang… Abdurrahman At-Tamimi telah mewarisinya. Syarif telah dijarh oleh Masyayikh Madinah karena kekacauan pikirannya tersebab mengekor kepada Abdurrahman Abdul Khaliq, pembela Sayyid Quthb. Syarif juga seorang pendusta (sebagaimana Abdurrahman At-Tamimi) hanya saja Abdurrahman At-Tamimi memiliki keberanian dusta yang jauh melampaui keberaniannya Syarif Hazza’, kedustaannya lebih mendunia dan secara “live” (baca:langsung) dilakukan di hadapan para ulama dari berbagai negara Islam!! Di Muktamar Masyayikh Salafiyyin!!
2.Abdurrahman At-Tamimi membantah memiliki hubungan dengan Al-Muntada Al-Sofwah dan At-Turots. Tidakkah seharusnya dia lebih jujur sehingga berkata:”Saya tidak mempunyai hubungan langsung dengan kedua yayasan Hizbiyyah itu tetapi saya memang berkoalisi, berkolaborasi, berkonspirasi dan berta’awun Hizbiyyah dalam dakwah ini dengan kaki tangan dan tentara bayaran mereka!! Yazid Jawaz, Abdul Hakim Abdat, Agus Hasan Bashari, Khalid Syamhudi[3], Ahmas Faiz, Abu Haidar, Ahmas Faiz adalah anggota koalisi kami! Mereka adalah da’i-da’i yang direkomendasikan (lihat lampiran)!! Dan organisasi kami (Al-Irsyad) tentu telah mengambil “faedah” dinarnya, sebagaimana yang kami umumkan di situs Al-Irsyad (alirsyad.8m.netmitra.HTM; infoalirsyad.comedisi53endex-8.html) serta mengerahkan anak muridnya untuk memperkuat “jabhah Hizbiyyah” (alirsyad.8m.netAlumniAlumni3.htm)!! Dan kalianpun –wahai Hizbiyyun- tidak akan mampu berkelit dari kesaksian saudara kami Abdurrahman Sarijan yang langsung menyerahkan dana Hizbiyyah Ihya’ut Turots via Al-Irsyad cabang Kuwait kepada PP. Al-Irsyad dan yayasan As-Sunnah Cirebon!! Telah berlalu penjelasannya bahwa Abdurrahman At-Tamimi membela Ma’had Bukhari yang telah menadah dinar Hizbiyyahnya Ihya’ut Turots dan bahkan membantunya mencarikan alasan dan kilah serta “berfatwa” tentang bolehnya menerima dana dari organisasi Hizbiyyah sesat ini (Salafi.or.id/viewjawaban.php?pid=24, tentang ”Bantuan Ihya At-Turots Kuwait”).
3. Akankah Salafiyyin meladeni tantangan mubahalah ini? Tidak!! Takutkah? Jangan “GR” dulu! Manhaj Salaf-lah yang mencegah kami meladeni tantangan orang yang mengalami “kebakaran jenggot dan kiamat manhaj” (meminjam istilah Abdurrahman At-Tamimi sendiri, ma’af-pen) karena telah terbongkar kedok Hizbiyyahnya dan kepalsuan dakwahnya!!
Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah telah menjelaskan bahwa mubahalah adalah cara dakwah Haddadiyyin (pengikut dakwah sesat yang dibawa oleh Mahmud Al-Haddad Al-Mishri)!! Lebih lengkapnya : “Saya (Usamah Mahri) beserta Abu Mundzir Dzul Akmal dari Riau –alumnus Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah- mendatangi Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah dan kami berikan kepada Beliau fotokopi selebaran mubahalah tersebut. Beliaupun membacanya, setelah itu menyatakan bahwa cara dakwah seperti ini (dakwah menantang mubahalah tanpa diawali dengan dakwah bil hikmah wal mauidhatul hasanah wal jidal bil lati hiya ahsan (lihat Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, hal.81)) adalah cara dakwah Haddadiyyin (pengikut dakwah sesat yang dibawa oleh Mahmud Al-Haddad Al-Mishri). Kami tanyakan pula kepada Beliau tentang figur Syarif Muhammad Fuad Hazza’ (rekan dakwah Abu Nida’[4], Ahmas Faiz, Abu Haidar, Yusuf Baisa, Abu Mush’ab[5]) dan lain-lain-peny), Beliau menjawab:”Kami dulu pernah mengenalnya, ketika dia berada di Imarat, ternyata pemikirannya kacau”.
Pada hari berikutnya kami mendatangi Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah dengan mendatangi rumah Beliau. Pada waktu itu Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafidhahullah sedang berada di sana. Lalu ketika selesai shalat Isya’, kami (Usamah Mahri, Ainur Rafiq dan Rudianto) bertanya kepada Syaikh Rabi’ di depan Babus Salam Masjid Nabawi tentang Syarif Muhammad Fuad Hazza’. Beliau (Syaikh Rabi’) berkata:”Orang ini kami ketahui dulunya pernah di Imarat dan mulai kacau pemikirannya karena dia mengikuti pemikiran-pemikiran Abdurrahman Abdul Khaliq (Al-Mishri-peny)”. Kemudian saya (Usamah Mahri) menerangkan kepada Beliau bahwa Syarif Muhammad Fuad Hazza’ sekarang berada di Indonesia diutus oleh Jam’iyyah Ihya’ut Turots, Kuwait dan ditempatkan di Jawa Tengah (Pesantren Al-Irsyad Tengaran-peny)…. Syaikh Rabi’ menanggapi dengan perkataannya:”Kalau demikian adanya, berhati-hatilah terhadap dia (Syarif) dan berilah peringatan kepada saudara-saudaramu para Salafiyyin agar berhati-hati darinya (menjauhinya)”
Ketika kami hendak kembali ke Indonesia, kami sempat berkunjung ke rumah Syaikh Abdurrazak bin Abdul Muhsin Al-Abbad (Asisten Professor di Universitas Islam Madinah). Kami tanyakan kepada Beliau tentang perkara kapan disyariatkannya mubahalah. Beliau menjawab:”Mubahalah itu tidak dilakukan kecuali bila seseorang itu bersikeras tetap dalam kesesatannya dan itupun merupakan alternatif yang terakhir….Demikianlah jawaban Masyayikh Salafiyyin setelah ditanyakan kepada mereka tentang permasalahan mubahalah ini kepada mereka. Dari keterangan di atas pembaca yang budiman semoga dapat mengetahui tentang siapa sebenarnya orang yang mengaku di atas manhaj Salaf…” (Buku Nasehat dan Peringatan, Usamah Mahri dan kawan-kawan, hal.5-10)

Subhanallah, salah seorang pengekor si Pendusta Abdurrahman At-Tamimi yakni “lelaki (?) di balik cadar”, Abu Salma telah menuduh Salafiyyin sebagai pengikut Haddadiyyin dalam artikelnya

“Waspadai Fitnah Haddadiyyah”. Seperti telah sepakat, situs Abdurrahman Pendusta –Salafindo.com- juga menuduh Salafiyyin sebagai Haddadiyyin (email [email protected] kepada [email protected]). Dan alhamdulillah bahwa ciri-ciri pengekor dakwah Haddadiyyin itu ternyata terdapat pada orang yang selama ini secara membuta babi telah dia bela, orang yang letaknya tidak jauh dari batang hidungnya sendiri, Abdurrahman At-Tamimi dengan acara hebohnya “Tantangan Mubahalah” yang ternyata tiada laku dijualnya kepada Salafiyyin! Segala puji hanya untuk Allah yang telah menyempurnakan kehinaan dakwah Hizbiyyahnya.
4.Apakah mubahalah seperti ini madzhab Salaf? Beginikah manhaj Salafush shalih dalam berdakwah? Adakah Salafush shalih menantang seseorang untuk bermubahalah dengan dalih lawannya pendusta, jelek akhlak dan perangainya? Ataukah manhaj Salaf berbeda sama sekali dengan pengakuan seorang direktur yang mengaku?!
Berikut bantahan mantap terhadap direktur mubahalah yang memegang surat kuasa 4 Masyayikh :
“Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hanbal ketika terjadi fitnah pada kaumnya yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (mihnatu khalqil Qur’an), Beliau tidak hanya dilecehkan oleh musuhnya atau oleh orang dekatnya. Bahkan Beliau digolongkan dusta oleh musuhnya dan disakiti dengan berbagai macam siksaan. Beliau dipenjara, dicambuk dan lain sebagainya, tetapi toh tidak pernah kita dapatkan bahwa Beliau menantang Ibnu Abu Duaad (tokoh Jahmiyyah pada jamannya) untuk mubahalah. Tidak pula Beliau nyatakan:”Saya tidak mengajaknya dialog karena telah dikenal dan kesohor tentang jeleknya akhlak dan panjangnya lidah”. Padahal sifat musuh-musuh Beliau pada saat itu jauh lebih buruk dari dalih yang dinyatakan di atas, karena mereka berusaha bagaimana agar siksaan dan kesengsaraan menimpa Beliau. Tapi Beliau justru bersabar dan tetap berdakwah dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Beliau tetap melakukan jidal bil lati hiya ahsan dengan musuhnya di depan khalifah Al-Makmun.
Kemudian, pembaca yang budiman juga dapat melihat kisah Imam Abdul Aziz Al-Kinani. Beliau berdakwah dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara jidal bil lati hiya ahsan dan berdialog dengan Bisyr Al-Marisy (tokoh Jahmiyyah di jamannya) di hadapan khalifah Al-Makmun (lihat kitab Al-Haydah oleh Imam Abdul Aziz Al-Kinani). Meskipun Bisyr Al-Marisy sangat buruk perangainya, tetapi sama sekali tidak kita dapatkan Beliau menyatakan:”Saya tidak mengajak dialog karena telah dikenal dan kesohor jeleknya akhlak dan panjangnya lidah”. Tetapi justru Beliau tetap berdakwah di atas manhaj as-Salaf dan bersabar di atasnya karena itu merupakan perintah Allah dalam firmanNya:
“…Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al-‘Ashr:3)(lihat Haasyiyah Tsalatsatul Ushul oleh Abdurrahman bin Qaasim, hal.13)Beginilah madzhab dan manhaj para imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam berdakwah ke jalan yang benar. Berbeda dengan madzhab orang yang biasa menantang mubahalah dan tidak bersedia mengadakan dialog dengan dalih ini dan itu. Kami sangat khawatir jika mubahalah ini dijadikan kebiasaan dan madzhab tetap dalam dakwah, sehingga ketika terjadi sedikit perbedaan atau perselisihan pendapat, mubahalah dijadikan sebagai alat untuk menyelesaikannya. Fa ya….Subhanallah. Hal ini bukanlah madzhab Salaf dalam berdakwah!! Sesungguhnya mereka berdakwah dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas pemahaman para Shahabat yang berdakwah ilallah dengan hikmah, wal mauidhotil hasanah dan jidal bil lati hiya ahsan.(Nasehat dan Peringatan, hal.11-15).Kita akan melihat, bagaimana Abdurrahman At-Tamimi dan kelompok Sururinya berusaha menegakkan bangunan ilmiahnya diatas pondasi kebohongan yang telah dilancarkannya kepada umat.
(Bab X, Bundel Badai Fitnah)——————————————————————————–[1] Demikian dia melemparkan tuduhan kepada Salafiyyin. Tuduhan ghulat-pun diluncurkan pula oleh barisan Hizbynya bahkan tuduhan Khawarij! Sungguh semua tikaman ini tidaklah berasal kecuali dari hasil jiplakan Sururi luar negeri! 100%!! Ahya.org adalah salah satu situs linknya! Tetapi karena situs ini tidak bisa “bermain cantik” , terlalu vulgar dan kentara kejahatan dan permusuhannya kepada Masyayikh Salafiyyin, maka akhirnya dihapus oleh Abusalma dari daftar link situsnya!! Syaikh Rabi’ adalah musuh utama mereka! Tuduhan Haddadi dan Ghulat juga dilemparkan kepada Beliau Hafidhahullah bahkan mereka tulis besar-besar tuduhan Neo-Khawarij kepada beliau:” Al-Madkhaleeyah-Khaarijyatun-‘Asreeyyah”!! Tidakkah “nasib” Salafiyyin di negeri ini sama persis dengan “nasib” Syaikh Rabi’ Hafidhahullah? Sebagai Haddadi! Ghulat! Dan.. Khawarij!! Semoga Allah Ta’ala segera membongkar kedustaan mereka! Amin.
[2] Kami berharap agar bapak Direktur Abdurrahman At-Tamimi tidak berfikir yang tidak-tidak dengan penayangan pujian para ulama terhadapnya sebagai suatu bentuk iri hati, dengki, dan hasad yang memakan hati (sebagaimana tuduhan yang selama ini dilontarkannya) dengan mengira bahwa anak-anak ingusan ini “kepengen” juga mendapatkan gelar syaikh. Allahumma Ya Allah, sungguh Engkau Maha Tahu betapa miskinnya anak-anak ingusan ini.
[3] Seorang yang pernah kepanasan telinganya waktu duduk di hadapan Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali Hafizhahullah ketika beliau menjelaskan bahaya Hizbiyyah diapun keluar dari majlis tanpa pamit, seperti diberitakan Ikhwanuna Salafiyyin di Madinah. (Man Huwa (Siapakah Dia) Abu Qatadah, Ustadz Abu Hamzah Yusuf, artikel Salafy.or.id)
[4] Kita sampaikan perihal yang kita tahu tentang Abu Nida’. Jawaban beliau (Syaikh Muqbil bin Hadi Rahimahullah) : “Orang ini adalah Hizbi! Bisa jadi dia Hizbi karena mengejar materi, atau seorang yang fanatik kepada Hizbi karena kebodohan”. Tetapi melihat pada kenyataan, yang paling tepat adalah kemungkinan pertama, untuk orang sejenis dan satu tipe dengan Abu Nida’ (Bahaya Jaringan JI dari Kuwait dan At-Turots, Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=512).
[5] Abu Mush’ab pada awal-awal fitnah, dia mengikut pada Syarif Fuadz Hazza ( Sururi dari Mesir, red), dia sendiri bilang : “Kalau saja saya tidak bersama mereka, maka saya tidak bisa makan ?” Inilah fitnah harta ! Kabar ini didapat dari ikhwan bernama Abu Mu’adz yang ada di Muntilan, Magelang.(Sumber artikel :Bahaya Jaringan JI dari Kuwait dan At-Turots (3), http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=510)

Comments are closed.