Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

Firanda Dkk, Mujtahidkah Mereka??!

Al-Irsyad Surabaya, Darah Konflik & Membangkang Yang Terwariskan
Sebelum kita membahas tema yang sangat seru dan menarik mengenai Firanda dan Ihya’ At-Turats, kami ingin sekadar mengungkapkan kisah pendek seputar Al-Irsyad Surabaya. Di Al-Irsyad Surabaya, begitu menonjolnya peran para “Irsyadi yang mengaku Salafy”. Sebut saja bapak Abdurrahman Tamimi yang menjadi direktur Ma’had Al Irsyad ‘liar’ yang begitu kokoh erat menggenggam tazkiyah para ulama, sampaipun menantang sumpah laknat kepada seterunya karena tidak terima dituduh berhubungan dengan Ihya’ At-Turats dan Al-Sofwa. Walaupun dia mengundang dai/wakil Ihya’ at Turats dalam daurah Masyayikh yang diselenggarakannya! Astaghfirullah, manhaj nekat khas “supporter bonek”!

Ya, bahkan saking ‘bonek’nya sehingga terbang ke Yordania, berceramah di depan para ulama dan penuntut ilmu dari penjuru dunia hanya untuk melemparkan fitnah dan kedustaan bahwa Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab telah mempengaruhi dakwah tauhid model Syi’iyna, Khurafiyna, Kharijiyna dan Wahhabiyna Musyaddid, milik Ahmad Surkati Syaikh Irsyadinya!!
Pembaca sekalian ingin tahu namanya siapa dai resmi tersebut ? Salah satu nama yang tertulis jelas adalah Yusuf Utsman Ba’isa dgn gelarnya “Da’i Al-Lajnah Al-Khairiyah Al-Musytarakah yang berkantor di bilangan Bali Mester, Jakarta Timur”. Ini adalah alamat Lajnah Al Khairiyah Al Musytarakah, JITI (Jum’iyyah Ihya’at Turats Indonesia) yang pasti amat dikenal di kalangan Turotsiyyin. http://img95.imageshack.us/img95/4715/alsofwaqx0.jpg Nama lainnya adalah Asas el-Izzi Makhis yang pernah beralamat sama dengan Yusuf Ba’isa Jl. Basuki Rahmat 8B, Balimester, Jatinegara, Jakarta Timur. Informasi kehadiran Asas dalam daurah yang diadakan Abdurahman Tamimi ini – yang kini menjadi dai salah satu yayasan Turotsi di Yogyakarta – didapatkan dari bantuan orang dalam?
Nama Yusuf Utsman Ba’isa ini sangat penting, selain wakil ketua Lajnah Dakwah Al Irsyad yang dicap liar oleh Mendagri dan Mahkamah Agung RI, dia juga memprakarsai kehadiran Abdurrahman Abdul Khaliq di Mahad Al Irsyad Tengaran, nama beliau ini juga harum sehingga banyak kader-kader yang diikutkan dalam acara daurah masyayikh atas rekomendasinya.
Nama lain yang tidak kalah pentingnya (dan termasuk yang paling penting) adalah peran bapak Chalid Bawazeer yang berposisi sebagai motor penggerak dalam acara daurah masyayikh yang sama! Beliaulah penyandang dana yang besar jasanya. Tak heran, bila kelompok pembela Ihya’ at Turats, Al Irsyad akan sangat berterima kasih kepada beliau ini atas terselenggaranya daurah masyayikh yang lalu…
Walaupun setelah dipublikasikannya bukti pembangkangan Irsyad ilegalnya terhadap pemerintah RI yang dipromotorinya di website infoalirsyad dan majalah Info Al Irsyad dalam beberapa edisi, kini berakibat penurunan status penyelenggara Daurah masyayikh yang rutin terang-terangan diselenggarakan atas nama “PP Al Irsyad”, kini turun menjadi “sekelas” diselenggarakan oleh yayasan yang dikelola oleh Yazid kawan setianya! Siapa yang percaya? Meskipun demikian, Ini adalah pertanda baik, betapa beliau telah mulai ‘malu’mengenakan gelar kebesarannya sebagai Gubernur Al-Irsyad ilegal Jawa Timur! Selangkah kemajuan telah beliau lakukan dan semoga lebih cepat lagi untuk terus melangkah menuju jalan kebenaran yang kita dambakan.
Satu lagi “supporter bonek” Irsyad ilegal lainnya, yang tanpa rasa malu mengaku menyandang gelar sebagai Ketua Lajnah Dakwah PC Al-Irsyad Surabaya, Jawa Timur. Abu Salxx-lah orangnya, gaya cuekisme ketika kedustaan dan kebohongannya terkuakkan adalah brand kuat karakter dirinya, asal ngomong, tuduhan tanpa tunjangan data dan fakta, gaya tantang-menantang kesana kemari plus menghina dan merendahkan tanpa kompromi, semakin kuat mengesankan kebonekannya yang tanpa kompromi.
Kita akan “sedikit” membahas hinaannya terhadap Hussein Badjerei tokoh besar Al-Irsyad yang dilecehkannya “tidak bisa berbahasa Arab”, hanya karena beliau menyusun buku Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa dalam bentuk bahasa Indonesia! http://img208.imageshack.us/img208/4554/sampulbukuresmippalirsyvb2.jpg Padahal buku beliau adalah buku resmi tazkiyah PP. Al-Irsyad! http://img220.imageshack.us/img220/1706/halkeduabukuresmippalirhr5.jpg Demikianlah, kalau ‘lidah menjulur’ melebihi mata kakinya!
Sebenarnya yang paling ditakutkannya dari buku Hussein Badjerei bukanlah karena buku tersebut tidak ditulis dalam bahasa Arab, tetapi di dalam buku beliau ternyata banyak tertulis berbagai fakta “kejujuran” yang sangat detail yang tidak dituliskan “sejujur dan sedetail’ ini oleh para tokoh Irsyad lainnya. Tentu saja penolakan si bonek karena kelewat jujurnya Hussein Badjerei sehingga benar-benar berpotensi besar untuk membikin bangkrut gelar ‘Salafi’ yang terlanjur disematkan kepada Ahmad Surkati dan organisasi Irsyadnya!! Itulah landasan paling kuat motivasi penghinaannya terhadap karya Hussein Badjerei!
Setelah dihinakannya buku resmi Al-Irsyad tersebut, betapa naifnya jika dirinya ternyata menyuruh segenap Salafiyyin yang ingin mengetahui sejarah Al-Irsyad yang “sebenarnya” dengan merujuk tulisan berbahasa Belanda seorang Missionaris-Orientalis sekaligus Kolonialis pejabat penjajah kafir Belanda (yang menjadi murid Ahmad Surkati) yang berjudul Al-Adab Al-Qur’aniyah bernama Van der Plaas!! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tidak cukup itu, bahkan dirinya yang mengaku lebih mengetahui sejarah Al-Irsyad ini (daripada Hussein Badjerei) “memaksa” Salafiyyin untuk merujuk sejarah Al-Irsyad yang ditulis oleh murid Surkati, Sholah Abdul Qadir Bakri!! Padahal orang inilah yang berhasil mencapai puncak fanatik hizbiyyah Surkatiyyah Irsyadiyyah dengan ucapan jahatnya:
“KALAU MATAHARI TELAH TERBIT DARI BARAT, BARULAH SAYA AKAN BERPALING DARI AL-IRSYAD.” (H. Hussein Badjerei dalam “Ahmad Soerkati (2)”, alirsyad.or.id/index.html, Nov 29,04 | 10:52 am, Buku Asli hal.47).
Kepada orang sefanatik dan membabi-buta inikah kita dipaksanya merujuk?!!
Yang terakhir, Hussein Badjerei dihina dan dilecehkannya akan tetapi dirinya menyuruh kita merujuk pada karya Umar Sulaiman Naji. Maka sesuai panggilan hizbiyyah yang diteriakkan dengan lantang oleh Surkati:
حزب الرشاد بخ طو بي لكم و لمن * والا كم في سبيل ا لله وامتحنا
“Hizbul Irsyad, bahagialah * Bersama pendukungmu yang teruji di jalan Allah”
(Nasehat Syaikh As-Surkati kepada Al-Irsyad, dinukil dari Al-Khawatir Al-Hisan, dalam Al-Irsyad Mengisi…, hal.217)
Maka pada kesempatan ini kita akan menguji Hizbul Irsyad yang satu ini, apakah dirinya benar-benar telah teruji, lebih tahu tentang sejarah Al-Irsyad daripada Hussein Badjerei ataukah ucapannya tersebut hanyalah akan membuktikan betapa bodoh dirinya akan sejarah perebutan kekuasaan di tubuh Al-Irsyad itu sendiri? Dan bagaimana Surabaya ternyata dulunya pun telah melahirkan tokoh-tokoh Al-Irsyad “pembangkang yang kontroversial”.
Simak “bantahan’ Hussein Badjerei yang telah dihinanya:
“…Salim Balweel yang masih menduduki jabatan Ketua kemudian berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh eksistensinya dan berusaha merebut kembali segala yang telah dikuasai pengurus yang diketuai Said Masy’abi, antaranya sejumlah uang yang disimpan di Escompto Bank yang belum diserahterimakan oleh Abdullah b.Abdulkadir Harharah yang meletakkan jabatan dan kemudian malah menjadi Bendahara pada pengurus yang diketuai Said masy’abi, serta hak penguasaan Gedung Sekolah Al-Irsyad dan pengelolaan sekolahnya. Setelah uapaya Salim Balweel lewat berbagai jalur tidak membawa hasil, maka iapun menggugatnya melallui Pengadilan Negeri Jakarta.
Peristiwa “kisruh’ intern ini sebetulnya tidak punya pengaruh banyak terhadap perkembangan Al-Irsyad dan sama sekali tidak menjadi bagian berharga dalam sejarah Al-Irsyad dan sejarah Indonesia. Namun ternayta puluhan tahun kemudian secara keliru sekali, baik dipandang dari cara apalagi bila dipandang dari segi data, dua kali dimunculkan ke permukaan. Kedua-duanya di Surabaya, tahun 1959 dan tahun 1981.
Pada tahun 1959 terdapat sekelompok kecil warga Al-Irsyad di Surabaya yang begitu sengit kepada Masyumi, lalu menuntut agar Al-Irsyad menanggalkan keanggotaan istimewanya dari Masyumi. Kelompok kecil ini berhasil mempengaruhi beberapa anggota Badan Pendiri Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya yang masih hidup, yang kemudian mengancam tidak akan mengijinkan Al-Irsyad untuk menggunakan asset gedung Al-Irsyad milik yayasan kecuali jika Al-Irsyad tidak terlibat lagi dengan Masyumi. Kisruh intern Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya pun terjadilah, dan massa anggota Al-Irsyad Surabayapun terlibat. PB. Al-Irsyad menurunkan Ali Hubeis dan Abdullah Badjerei ke Surabaya untuk mengatasi kisruh itu. Begitu rusuhnya, sampai Corps Polisi Militer ikut turun tangan. Badan Arbitrase yang dinamakan Majlis Tahkim guna mendamaikan sengketa itupun dibentuk. Dalam sidangnya, Majlis ini memunculkan masalah kisruh tahun 1920 tanpa data yang autentik, kecuali rujukan yang tidak laik pakai, sehingga analisanya menjadi amat keliru.
Pada tahun 1981 Yayasan Perguguran Al-Irsyad Surabaya telah meluncurkan dua penerbitan khusus, yaitu buku tipis dengan sampul kuning berjudul: Buku Kenang-Kenangan Menjelang 60 Tahun Berdirinya Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya, disusul seri keduanya berjudul: Arah Buku Kenang-Kenangan Menjelang 60 Tahun Berdirinya Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya, yang diterbitkan setelah buku pertama itu diserang habis-habisan oleh Pimpinan beberapa Cabang Al-Irsyad serta beberapa tokoh Al-Irsyad, termasuk media resmi PP Al-Irsyad, Suara Al-Irsyad. Kedua buku yang ditangani oleh salah seorang figur sentral kisruh 1959 itu, banyak mengandung data yang tidak betul karena menggunakan acuan yang tidak laik pakai, terutama manuskrip “Sejarah Al-Irsyad” yang ditulis oleh Umar Naji [0], mengandung ulasan dan analisa yang semrawut. Kedua penerbitan dari Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya itu pun dilakukan dalam situasi “gonjet” antara Jakarta dengan Surabaya, sehingga tampak dikerjakan dengan penuh nafsu dan terbirit-birit, laksana pesilat yang tengah “uplek” menebas bayangan di kanan dan di kirinya. Yang jelas dan sudah nyata dari kedua buku itu amat merugikan Al-Irsyad, mengacak-acak sejarahnya yang betul dan untuk jangka waktu yang akan cukup panjang tetap akan membuat sejarah Al-Irsyad ditelaah dan ditulis orang secara “belepotan”….
Peristiwa tahun 1920 yang jelas merupakan “kerugian besar” bagi Al-Irsyad, ternyata masih saja dimanfaatkan sementara orang yang punya wawasan tersendiri yang ajaib untuk terus menerus merugikan Al-Irsyad, sehingga lahirlah kasus yang cukup memalukan di Surabaya tahun 1959 itu dan kemudian upaya “pemelorotan harga dan nilai Perhimpunan, terutama Pimpinan Pusatnya” pada tahun 1981 sehingga terjadilah kesenjangan yang nyata antara “Penguasa Yayasan” dengan “Pimpinan Perhimpunan” yang tidak jarang melahirkan benturan-benturan yang cukup membikin pening sang kepala” (Al-Irsyad mengisi…, hal.88-92)
Demikianlah sekelumit kesemrawutan dan ketidaklaik-pakainya data-data yang ditulis oleh Umar Sulaiman Naji yang dikatakan dengan penuh kebanggaan oleh si ‘lidah yang menjuntai jauh melampaui ilmu simpanannya’ bahwa buku Umar Naji adalah salah satu : “Sumber yang menjadi mashdar (sumber) utama di dalam menjelaskan hakikat dakwah” Surkati!!
Adapun perintah “pakar” sejarah Al-Irsyad ini agar kita melihat “Tarjamat al-Hayat al-Ustadz asy-Syaikh Ahmad As-Surkati karya Umar Sulaiman Naji, manuskrip, hal.12; melalui perantaraan “Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia”, Prof. DR. Bisri Affandi, MA., thesis” maka inilah jawaban yang lebih sengit dan lebih menohok dari Hussein Badjerei terhadap panghina buku bahasa Indonesianya, silakan disimak:
“Mengenai manuskrip “Sejarah Al-Irsyad” yang ditulis oleh Umar Naji yang menjadi acuan utama kedua buku kuning itu, menurut ejarahnya disusun semula menurut amanat PB Al-Irsyad atas dasar keputusan rapat tahun 1950. Penulisan itu mestinya ditangani oleh satu team, namun kenyataannya yang sanggup menekuni tugas penulisan itu hanyalah Umar naji. Untuk itu Umar Naji dikonsinyir di suatu tempat, diberi dispensasi untuk tidak mengajar selama menulis dan honor mengajar tetap dibayar serta memperoleh honor tersendiri pula untuk kegiatan menulis. Setelah naskah tersusun, naskah itu dibawa ke forum pleno PB Al-Irsyad. Berbagai kritik dan usul perbaikan seluruhnya ditolak keras oleh Umar Naji. PB Al-Irsyad akhirnya terpaksa memutuskan: MENOLAK MANUSKRIP TERSEBUT SEBAGAI DOKUMEN RESMI PB AL-IRSYAD, namun tidak melarang bilamana Umar Naji mau menerbitkan sendiri atas nama dirinya sebagai pengarangnya. ITULAH SEBABNYA SECARA HUKUM MANUSKRIP TERSEBUT MENJADI LEPAS PULA DARI TANGAN TEAM DAN SAH PULA UNTUK DIMILIKI SEPENUHNYA OLEH UMAR NAJI.
Tetapi yang bersangkutan ternyata tidak berhasil menerbitkannya. Beberapa waktu kemudian dalam manuskrip tersebut yang ditulis dengan khat yang bagus terdapat beberapa tambahan menyangkut perkembangan sampai tahun 1966 dan DILENGKAPI DENGAN UNGKAPAN ISI HATI PENULISNYA YANG MERASA KESAL KEPADA PB AL-IRSYAD, YANG DITRANFER SELURUHNYA OLEH PENULIS KEDUA BUKU KUNING KE DALAM KEDUA BUKUNYA DENGAN LEBIH “SERU” LAGI. KEKACAUAN DATA YANG DITULIS OLEH UMAR NAJI ITU JELAS DISEBABKAN KURANGNYA BAHAN ACUAN.
Sementara itu copy manuskrip tersebut telah dipinjamkan oleh Umar Hubeis kepada Bisri Affandi pada waktu yang bersangkutan menulis tesis untuk gelar sarjananya (S2) pada Mc Gill University.
Dan kedua buku terbitan Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya itu apamau (dikata?-pen) sebagian kecil dipakai juga oleh Husain Haikal sebagai literatur dalam menguraikan “kisruh” intern itu dalam disertasinya untuk gelar Doctor dalam Ilmu-Ilmu Sastra pada Universitas Indonesia berjudul: “Indonesia-Arab dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia (1900-1942)”. Juga telah menjadi sekadar bahan acuan Bisri Affandi untuk disertasi Doktornya dalam Ilmu Ushuluddin pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berjudul Syaikh Ahmad Surkati, PEMIKIRAN PEMBAHARUAN DAN PEMURNIAN ISLAM dalam Masyarakat Arab Hadrami di Indonesia, SEHINGGA DATA-DATA YANG KELIRU IKUT TERNUKIL KE DALAM DUA DISERTASI DOKTOR ITU. SEBETULNYA YANG AMAT DISAYANGKAN PADA KEDUA DISERTASI ITU ADALAH BAHWA MASALAH ITU DIPASANG HANYA BERSIFAT “TEMPELAN” SEMATA, ARTINYA MANFAATNYA UNTUK DISERTASI ITU TIDAK ADA SAMA SEKALI DAN APABILA DIBUANG SESUNGGUHNYA TIDAK AKAN MENGURANGI ALUR TULISAN DAN NILAI KEDUA DISERTASI ITU.” (ibid, hal. 92-93)
Kita cukupkan sampai di sini pergolakan dan perebutan asset & kekuasaan dari hasil “kisruh” intern yang cukup membikin pusing Irsyadiyyun walaupun kita yakin bahwa terbongkarnya “kedangkalan’ pengetahuan si mufti Irsyadi liar dan pembangkang (dari penjelasan Hussein Badjerei yang telah dihinanya!) tetaplah si mufti tersebut tidak akan pernah mengambil pusing!! Dia akan terus berfatwa walaupun telah terbukti bahwa Hizbul Irsyad yang satu ini tidaklah teruji kebenarannya!!
Satu hal mengenai produk IAIN hasil acuan utama sejarah Irsyad yang telah difatwakannya:
“ANA TIDAK MENYARANKAN ANTUM MASUK KE IAIN, KARENA MASIH BANYAK TEMPAT LAIN YANG LEBIH AMAN UNTUK AQIDAH DAN MANHAJ ANTUM yang bisa antum jadikan sarana untuk mendapatkan ijazah agama. Kemudian, yang paling penting dari itu semua, hendaknya tatkala kita menuntut ilmu agama adalah dalam rangka untuk hal yang syar’i, yaitu menghilangkan kejahilan kita, menambah keilmuan kita, memenuhi kewajiban kita untuk mendalami ilmu agama, agar bisa meluruskan amal kita dan berdakwah kepada umat. Adapun ijazah, maka itu adalah nomor terakhir dan bukan prioritas utama. Untuk itu antum bisa mencoba masuk ke Ma’had-2 ilmiah semisal Ma’had Ali Al-Irsyad as-Salafi di Surabaya, Ma’had Minhajus Sunnah di Bogor atau lainnya, yang mengajarkan ilmu Bahasa Arab dan dasar dien.” (Shilaturrahim, Abusalxx, fatwa ke 14)

Komentar:
Bagaimana bisa mufti Irsyadi al-liari ini menggunakan standar ganda (bahasa kang Bilaly) dalam permasalahan keamanan aqidah dan manhaj pencari fatwa di IAIN? Jangan anda salah duga bahwa kita akan menggugat buku rujukan Sejarah Al-Irsyadnya Bisri Affandi adalah hasil thesisnya di IAIN itu yang anda nukilkan! Karena kami merasa cukup dengan uraian Hussein Badjerei yang cukup “menggemaskan” dalam menelanjangi kedangkalan anda dalam menguasai sejarah Al-Irsyad sehingga anda kentara sekali menghina buku beliau “dengan penuh nafsu dan terbirit-birit, laksana pesilat yang tengah “uplek” menebas bayangan di kanan dan di kirinya.”
Bukankah fatwa IAIN anda ini lebih pantas anda tujukan kepada pembesar-pembesar anda yang sekarang ini sedang duduk terpekur menjadi murid-murid yang sopan dari para dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya? Hah…Pembesar kami dari kalangan para da’i Salafy yang kebal manhaj menjadi mahasiswa IAIN? Yang menimbang bahwa kemaslahatan menjadi murid para dosen IAIN jauh lebih besar dibandingkan kemudharatan “keamanan aqidah dan manhaj mereka?
Tunjukkan nama-nama mereka kalau kalian memang bukan para pemfitnah!!
Na’am, Bukankah anda mengenal orang yang bernama ‘Al-fadhil Al-Ustadz Mubarak Bamu’allim dan Al-Fadhil al-Ustadz Salim Ghanim? Lihatlah wahai sang mufti fatwa anda sendiri! Seharusnyalah anda berkonsultasi dulu dengan para ustadz tersohor itu sebelum anda berfatwa mengenai IAIN agar tidak menyulitkan posisi “ustadz Salafi” di mata para pengikutnya!! Masih banyak al Ustadz atau dai yang sepemahaman dengan anda yang menuntut ilmu hingga meraih gelar, mengajar, di IAIN/Unmuh, Hartono Ahmad Jaiz, Aris Munandar, Agus Hasan Bashari, Randi Fidayanto dll.
Apakah para ustadz tersebut juga telah memegang fatwa Masyayikh Yordan sehingga berani “mempertaruhkan” aqidah dan manhajnya untuk duduk manis di bangku kuliah IAIN-nya?
Jika demikian kenyataannya, apa bedanya anda “tidak menyarankan” mereka kuliah di IAIN dan sebaliknya “menyarankan” agar mereka masuk Ma’had Irsyad ‘ilegal’ ? Bukankah kuliah di Ma’had Irsyad akan belajar bersama Mubarak dan Salim Ghanim? Pun kuliah di IAIN juga bisa belajar dengan Mubarak dan Salim Ghanim?
FAKTA, Fahit di KacamaTA tetapi kalau benar?
Abu Salma…
Orang gemar menghina, akan terhina oleh kegemarannya
Gemar menertawakan kebenaran, “kebenaranmu” pun akan ditertawakan
Gemar memblo’onkan, keblo’onanmu pun semakin kelihatan
Gemar berhelah, helahmu pun semakin tampak kedodoran
Gemar berdusta, kedustaanmupun takkan mungkin terpendam selamanya 

Pendahuluan
Pada pembahasan terdahulu telah kita saksikan betapa rusaknya qiyas Firanda As-Soronji ketika memberikan contoh permasalahan Ihya’ At-Turats dengan persoalan yang pernah terjadi pada sebagian asatidzah. Qiyas ini akan semakin tampak jelas kerusakannya jika kita melihat natijah (hasil akhir) dari kedua persoalan yang dicontohkannya. Permasalahan sebagian asatidzah telah selesai dengan sebaik-baiknya –walhamdulillah-, yang bersalah telah menyatakan rujuk kepada al-haq. Walaupun harus kita akui, masih ada pihak-pihak yang tidak merasa tenang apalagi senang dengan ishlah yang terjadi, mereka masih terus berupaya mengobarkan api fitnah dan dengan keji menyebut ishlah tersebut sebagai “gencatan senjata sementara!!” Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un.
Adapun Ihya’ At-Turats? Apakah mereka telah rujuk dari kesesatan-kesesatannya? Apakah mereka telah rujuk dan berlepas diri dari fatwa-fatwa parlemennya? Apakah mereka telah bertaubat dari upayanya mempersaudarakan Ahlus Sunnah dengan Syi’ah dan Ikhwanul Muslimin? Apakah mereka telah berhenti dari berbagai macam kejahatan yang ditebarkannya?
Jika benar qiyas rusakmu itu (wahai Firanda) lalu mengapa para masyayikh Kuwait sampai saat ini terus dan terus memperingatkan umat dari bahaya dan hizbiyyahnya Ihya’ At-Turats?
Apakah para masyayikh Kuwait termasuk orang-orang yang menerapkan hajr dan tahdzir secara membabi buta?
Orang-orang yang melampaui batas yang tidak suka “persatuan”?
Tidak mau melipat permasalahan Ihya’ At-Turats?
Orang-orang yang menolak tazkiyah kibar ulama terhadap Ihya’ anda?
Ataukah orang-orang yang menuduh Kibar ulama tidak tahu fiqhul waqi’?!
Maka uraian kali ini –alhamdulillah- adalah bukti bahwa cara-cara licik yang anda gunakan benar-benar mirip hizbiyyin Ikhwanul Muslimin yang begitu ketakutan ketika kedok kejahatannya diterangkan kepada umat!!
Tahukah anda taktik “lihai” yang mereka lakukan?
Bersembunyi dan berlindung diri dibalik secarik kertas yang memuji (baca:mentazkiyah dalam tanda petik) mereka!! Sambil sesekali melontarkan dusta dan tipu daya!! Dengan cara ini mereka merasa bahwa bukti kesesatannya dan dakwah hizbiyyahnya telah diamankan dan dinetralisir?…

Revolusi Dakwah
Saudaraku rahimakumullah, “revolusi dakwah” telah terjadi! Sikap “jarh, tahdzir dan tanfir” mereka terhadap kita tidaklah sama dengan sikap rifq, liyn, hikmah yang mereka terapkan kepada yayasan-yayasan dan corong-corong hizbiyyahnya yang sampai saat ini terus menebarkan kesesatan dan kejahatan terhadap Salafiyyin dan dakwahnya semacam Ihya’ At-Turats dan Al-Sofwa Al-Muntada!! Ini bukanlah sebuah omong kosong.
Telah kita saksikan bagaimana mereka mentahdzir kita sebagai ruwaibidhah, juhala’, haddadi, banci kaleng, para pemuda yang terbakar oleh kebencian, banci dan penakut, fanatik pada ustadz-ustadznya, dan tidak luput pula menggelari asatidzah sebagai cacing-cacing kepanasan, kaum munaffirin yang rusak manhajnya, blo’on dan pengangguran.
Kalau Abdullah Taslim sebelumnya berkomentar tentang al-Sofwa al-Muntada: “Terus terang ana tidak begitu banyak tahu tentang yayasan ini, dan berita-berita yang sampai kepada ana tentang yayasan ini sangat simpang-siur dan sampai saat ini ana belum sempat mencari kejelasan tentangnya, maka saran ana, sebaiknya antum tanyakan langsung hal ini kepada ustadz-ustadz yang terpercaya dan tahu persis keadaan yayasan ini”
Sekarang terjadilah apa yang terjadi, inilah sikap “jelas” (baca: revolusi dakwah) mereka terhadap yayasan-yayasan yang jelas-jelas menyimpang, yang didirikan di atas pondasi kedustaan atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para salafush shalih (lihat kembali pembahasan mengenai undang-undang dasar al-Sofwa al-Muntada) serta menebarkan malapetaka kesesatan dan perpecahan umat sebagaimana jauh-jauh hari telah diperingatkan oleh Syaikh Rabi’ hafidhahullah (lihat persaksian Ustadz Muhammad).

Ketika ditanya mengenai yayasan Al-Sofwa, sang “mufti” mereka pun menjawab:
“Keadaan mereka sama dengan IT, dan du’at mereka serta yang berta’awun dengan mereka haruslah disikapi sebagaimana kita mensikapi IT. Tanpa ada tabdi’, tajrih, tuduhan-2 keji dan dusta. Yang kita dahulukan adalah munashohah, saling mengingkari dengan adab yang baik, dengan hikmah, rifq, liyn, dan sikap-2 yang membawa kepada i’tilaf dan ittihad di atas al-haq. Agar semuanya kembali ke al-Haq. Bukannya malah menjauhkan mereka dari al-haq hanya karena sikap kita baro’ 100% kepada mereka, mencela mereka habis-2an dan men tabdi’ mereka tanpa kecuali.”
Komentar:
Apakah ketika melemparkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Salafiyyin, dirinya merasa sedang melakukan “munashohah , saling mengingkari dengan adab yang baik, dengan hikmah, rifq, liyn?”
Ataukah semua tindakan membuta babi tersebut tidak lebih hanya sebatas tuduhan-tuduhan keji dan dusta tiada berfakta? Bukankah karena tuduhan-tuduhan tersebut dilemparkannya (baca: difatwakannya) secara tergesa-gesa (baca: asal “bisa” menjawab) sehingga sang mufti “lupa” untuk menyodorkan bukti ilmiyahnya? Ataukah sang mufti tidak peduli lagi dengan harga diri dan kehormatannya?
Berbuat lacur dengan melakukan kedustaan-kedustaan dan tidak menampakkan rasa malu sedikitpun ketika kebohongannya terkuakkan?!
Tentu anda sekalian masih ingat bagaimana dirinya mengaku sebagai pengangguran padahal sudah bekerja di perusahaan bos besar Irsyad liarnya!! Namun demikian, tidak tampak rasa penyesalan sedikitpun bahkan terus berfatwa yang bukan-bukan!!
Berapa guruh mendayu-dayu,
Ataupun ombak mengalun-alun…
Belum setara pilu di kalbu,
Menyaksikan dusta di depan mata…
tiada malu….’trus berfatwa!
Lihatlah kacau-balaunya pemikiran dan manhajnya!
Yayasan-yayasan tersebut dan corong-corongnya yang telah memecahbelah Salafiyyin, terang-terangan berani melakukan kedustaan atas nama RasulNya serta salaful ummah, berani menginjak-injak kehormatan para ulama pewaris para nabi, mendistribusikan majalah Al-Bayannya Sururiyyin internasional, dan si mufti malah menuduh kita telah ” menjauhkan mereka (corong-corong kesesatan dan markas-markasnya) dari al-haq”!?

Maling telah teriak maling! Sembunyi di balik dinding hasil bantuan yayasan hizbiyyah pemecah belah umat…
Perangai menjadi bayangan mata
Fatwanya… racun penuh berbisa!

Mengajak kaum muslimin untuk bersikap hikmah, liyn, rifq kepada yayasan/organisasi dan corong-corongnya yang jelas-jelas mendakwahkan hizbiyyah dan kesesatan (sebagaimana bukti-bukti yang kita hadirkan) dan sebaliknya bersikap bengis dan kasar terhadap orang-orang yang mengungkapkan kesesatannya?
Inikah manhaj hikmah Ahlus Sunnah yang digembar-gemborkan?
Bila bunda teringat tuan,
Bagaimana terhibur dengan akhlaq rendahan?
Mengapa tuan tidak hiraukan
Suka melihat bunda tak nyaman?
Lebih aneh lagi, bukannya para penyebar kesesatan dan corong-corongnya yang harus dibungkam dan dihajr serta berupaya dijauhkannya dari umat, tetapi justru para pengungkapnyalah yang mereka hajr!! Mereka beri julukan-julukan buruk dan jelek terhadap orang-orang yang berani mengungkapkan bukti-bukti kejahatan mereka!! Sebaliknya, dengan penuh ketulusan, kebaikan-kebaikan duniawiyah para “dewa penolong” penyesat itulah yang mereka eksploitasi dan tonjol-tonjolkan!!
“Adapun memuji kebaikan orang yang membantunya tersebut dalam hal “membantu” maka inilah yang semestinya karena ini merupakan salah satu bentuk terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik.” (Sekali Lagi, ed-3, Abusalxx)
Itulah manhaj balas budi mereka atas berbagai kucuran harta (baca: money politics) yang selama ini ditadahnya ataupun dinikmati oleh saudara-saudara se”kebal manhaj”nya!!
Maka bagaimana mungkin anda mengharapkan agar mereka bersikap jujur dan obyektif atas berbagai bukti penyimpangan dan kesesatan penyandang dana dalam dakwahnya? Kepada sinterklas dakwah itulah mereka mempertanggungjawabkan dakwahnya!!
Keanehan manhaj apalagi yang sedang kita saksikan?…
Kalaulah dengan ini mereka menyebut kita sebagai “kaum tanfir” yang layak untuk dihajr[1], maka walhamdulillah kami memang kaum tanfir yang berupaya sekuat tenaga dan sebatas kemampuan ilmu yang kita miliki untuk berupaya keras agar menjauhkan umat dari organisasi-organisasi penyebar hizbiyyah dan kesesatan serta para da’i “kebal manhaj” dengan berbagai bukti dan aliansi yang mereka demonstrasikan ketika bergabung dengan para gembong-gembong hizbiyyah penyesat umat baik tingkat lokal maupun internasional.
Na’am, kita akan terus berupaya melakukan “tanfir’ agar umat lari dari dakwah sesat Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh serta para pengekor kesesatannya (sekarang tinggal ekor-ekornya!!) walaupun mereka menghiasinya sebagai Syaikh Salafy, Reformis ataupun Mujaddid yang Mendhalimi!!
Ini adalah bukti sayang kita kepada umat, ketidakrelaan kita ketika umat digiring untuk mengelu-elukan betapa banyaknya kebaikan hizbiyyah dan kesesatan!
Kalaulah dengan berupaya mengikuti dakwah Tauhid sebagaimana yang diemban oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dihina sebagai Wahhabi Musyaddid dan fanatik, maka walhamdulillah semoga Allah Ta’ala mematikan kita di atas Wahhabi Musyaddid dan fanatik kepada Al-Kitab dan Sunnah di atas manhaj Salaful Ummah!
Kita merasa cukup dengan Allah sebaik-baik saksi, walhamdulillah.

Mujtahid Ihya’ At-Turats Berkeliaran?
Turatsi berkata:
“Apakah engkau saja yang berijtihad sedangkan saudara-saudaramu yang mengambil dana tidak berijtihad dalam mengambil langkah mereka??” (Sekali Lagi… ed-3, Abusalxx)
Komentar:
Pikir dahulu sebelum berkata,
Supaya terelak silang sengketa

Firanda berkata (awas Syubhatnya!) :
“Rekomendasi terakhir seluruh para Syaikh yang disebut di atas, bahkan setelah perseteruan antara Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullaah- dengan ‘Abdurrahman Abdul Khaliq, dan rekomendasi mereka masih ada. (footnote: “Lihat risalah yang berjudul Syahaadaat Muhimmah li Ulama’ al-Ummah fi Manhaj wa A’maal wa Isdaaraat Jum’iyyah Ihya’ at-Turats al-Islami” (Lerai…, hal.226, Pustaka Cahaya Islam, cetk.1, Pebruari 2006)
Komentar:
Kita akan mengikuti saran anda untuk melihat isi rekomendasi para ulama tersebut:
(link Buku Syahadah Muhimmah Talbis Bagi Umat January 2007.htm).
Yang terpenting adalah isi “manhaj tertulis” yang disodorkan oleh Ihya’ At-Turats kepada para ulama Kibar yang diidentifikasikan secara tegas oleh Firanda: “..yang jelas lebih senior dan dengan jumlah lebih banyak..” (Lerai, hal.223), yaitu:
1-Berdakwah dengan Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, dengan manhaj Salafus Shalih
2-Berdakwah menuju peribadatan kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya dan memperbaiki amalan
3-Beramal dalam ber-ta’awun bersama kaum muslimin di atas kebaikan dan taqwa dan salam bertatap muka dengan mereka di atas kebaikan dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu alaihi wasallam
4-Menyebarkan kebaikan, keutamaan, keadilandan perbuatan baik
5-Membantu orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, menjamin anak-anak yatim dan membantu orang yang mengalami musibah
6-Membangun masjid, ma’had, pusat-pusat Islam,yayasan dakwah dan kesehatan
7-Menghidupkan warisan Islam melalui penyebaran kitab-kitab Salafus shalih
8-Memperingatkan kaum muslimin dari berbagai bid’ah dan perkara –perkara baru dalam agama
9-Mengarahkan orang-orang yang baik dan hendak berbuat kebaikan agar meletakkan proyek dan sumbangan mereka di tempat yang tepat
Demikianlah manhaj tertulis yang mereka sampaikan kepada para ulama kibar. Disamping juga tazkiyah Syaikh Bin Baaz terhadap bangunan baru milik Ihya’ At-Turats, pujian ulama terhadap Maktabah Thalabul Ilmi yang berisi kitab-kitab para ulama Salaf yang disebarkan oleh Ihya’ At-Turats, pameran yang diadakannya, pencetakan Al-Qur’an, pembuatan kotak amal yang kesemuanya dikemas “secara licik’ oleh Firanda sebagai “tazkiyah” kibar ulama terhadap Ihya’ At-Turats’!!
Dengan bumbu penyedap: “Bahkan sebagian mereka merekomendasi yayasan ini berulang-ulang terutama Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin” (Lerai, hal.227) walaupun Firanda “ketakutan” (baca:minder) untuk menyebutkan bahwa isi rekomendasi berulang-ulang itu termasuk di dalamnya pujian terhadap bangunan baru milik Ihya’ At-Turats!!
Tetapi wahai saudaraku, dia akan dapat dengan mudah dan cepat menyulapnya sebagai “tazkiyah Kibar Ulama” terhadap Ihya’ At-Turats Kenapa demikian? Karena isi tazkiyahnya sengaja tidak dicantumkan!! Inilah kelebihan liciknya!
Sampai di sini, tentu kita semua sepakat bahwa tidak ada satu poin-pun yang “aneh” dari sikap dan sepak terjang Ihya’ At-Turats sehingga organisasi ini harus ditahdzir kesesatannya, apalagi mendiskusikan adanya khilafiyyah ijtihadiyah!

Syubhat Firanda berkata:
“Karena itu, jelas bahwa para ulama kibar mengetahui kondisi yayasan ini” (Lerai, hal.226)
Komentar:
Ini adalah upaya jahatnya untuk “merudapaksa’ fatwa para ulama yang telah benar-benar jelas batasan isinya, atas dasar apa para ulama kita berfatwa mengenai Ihya’ At-Turats?!!
Maka usahanya untuk melebarkan dan meluaskannya serta menarik ke sana kemari fatwa tersebut untuk secara utuh “diartikan” mentazkiyah Ihya’ At-Turats (dalam arti para ulama “dituduhnya” telah mengetahui kesesatan-kesesatan Ihya’ At-Turats) hal ini tidak syak lagi harus mendatangkan bukti dan keterangan!!
Benar, dirinya sebagai “penuduh” harus membawa bukti-bukti untuk mendukung dan memperkuat tuduhan kejinya terhadap para ulama kibar!!
Bahwa tazkiyah tersebut tetap dikeluarkan walaupun para ulama telah mengetahui secara rinci dan utuh berbagai sepak terjang kejahatan dan kesesatan yang disebarkan oleh Ihya’ At-Turats!!
Seharusnya Firanda lebih bersikap beradab kepada kibar ulama dengan mencukupkan diri bahwa “tazkiyah” yang digembar-gemborkannya hanya berlaku sebatas isi persaksian para ulama terhadap berbagai kebaikan yang ditampakkan dan disodorkan kepada para ulama kibar sebagaimana termaktub pada bukti uraian di atas sehingga dirinya tidak perlu sampai harus berpeluh-peluh menyusun bukunya setebal itu hanya untuk meyakinkan umat bahwa telah terjadi khilafiyyah ijtihadiyah antara yang mentazkiyah dengan yang mentahdzirnya!!
Para masyayikh yang mentahdzirnya-pun sampai pada permasalahan poin-poin di atas tentu saja tidak menemukan khilafiyyah apapun karena memang tidak ada keanehan apapun dari manhaj-manhaj Ihya’ At-Turats yang mereka sodorkan pada para ulama. Jadi kenapa Firanda berteriak-teriak tentang adanya Khilafiyyah Ijtihadiyyah?!

Syubhat:
Adapun buktinya “bahwa para ulama mengetahui kondisi yayasan ini adalah perseteruan antara Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullah- dan ‘Abdurrahman Abdul Khaliq jelas diketahui oleh para ulama kibar, terutama Syaikh Ibnu Baaz” (Lerai, hal.226)
“Bahkan Syaikh Ibnu Baaz telah memberikan bantahan secara khusus kepada ‘Abdurrahman Abdul Khaliq kepada Syaikh Ibn Baaz pada tanggal 8/3/1415. Beliau membantah enam kesalahan ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq yang tercantum di dalam buku-bukunya (selanjutnya Firanda mengutip isi bantahan tersebut dalam footnotenya no.205)” (Lerai, hal.229)
Komentar:
Telah berlalu penjelasan dan buktinya bagaimana mereka tidak mampu mengelak dari fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi hafidhahullah dan bukti yang kita publikasikan yang secara tegas menunjukkan bahwa sampai saat ini Abdurrahman Abdul Khaliq tetap merupakan kibar ulama di sisi Ihya’ At-Turats! Tetap menjadi salah satu asset terpenting dan asset paling berharga dari Ihya’ At-Turats!! Bahwa Ihya’ At-Turats tetap mencetak dan mendistribusikan buku-buku karya Syaikh besar mereka ini!! Walaupun mereka bersusah payah berupaya mengelak dari kenyataan ini! Ini yang pertama.
Kedua, seharusnya Firanda tidak hanya mempublikasikan bantahan Syaikh Bin Baaz rahimahullah semata hanya untuk menunjukkan bukti bahwa kibar ulama mengetahui seluk beluk kiprah Ihya’ At-Turats.
Hal yang lebih penting lagi adalah sikap Abdurrahman Abdul Khalik setelah dinasehati secara “keras” oleh beliau rahimahullah agar umat memahami dan mengetahui seluk beluk kiprah kibar ulama Ihya’ At-Turats ini!!
Apakah rujuk kepada al-haq dan kembali kepada manhaj Salafush shalih sebagaimana awal-awal dakwahnya ataukah dia justru tidak menggubris nasehat “gurunya’ dan tetap bersikeras di atas kehizbiyyahan?!
Sikap Abdurrahman Abdul Khaliq ini adalah barometer penting mengenai Ihya’ At-Turats itu sendiri mengingat peran besarnya dalam mengendalikan dakwah organisasinya sampai saat ini.
Sungguh sangat mengenaskan kondisi anda wahai Firanda bahwa kita justru memegang bukti bahwa kibar ulama Ihya’ At-Turats ini tidak menggubris nasehat Syaikh Bin Baaz rahimahullah (lihat artikel Abdurrahman Abdul Khaliq dan Sururi)!!
Adapun jawaban terhadap “hanya” enam kesalahan yang dikritik oleh Syaikh Bin Baaz rahimahullah :
“Setelah mendapatkan teguran-teguran di atas dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, dikatakan bahwa Abdurrahman Abdul Khaliq telah mengumumkan taubatnya, mencabut enam perkara tadi dan beliau rujuk kepada Al Haq dalam bukunya At Tanbihat wa Ta’liqat.
Jika hal itu benar, maka sudah semestinya dia berhenti dari celaan-celaannya terhadap Salafiyin dan pembelaannya terhadap jama’ah-jama’ah hizbiyah serta menyesali ucapan-ucapannya. Namun benarkah pernyataan taubatnya itu? Lihatlah buku taubatnya, pada mukadimah buku tersebut dia mengatakan celaannya kembali kepada Salafiyin : ” Di samping itu telah bangkit kelompok lain yang mengambil suatu manhaj dalam mengumpulkan apa yang mereka anggap kesalahan bagi setiap ulama, da’i, atau penuntut ilmu, kemudian menyebarkannya di kalangan manusia untuk membuat mereka lari darinya. Mereka berusaha mencari-cari sejak sekitar 7 tahun yang lalu untuk mengumpulkan apa yang mereka anggap kesalahan dariku. Beberapa kelompok penuntut ilmu, menghabiskan waktunya untuk tujuan memeriksa ratusan, bahkan ribuan kaset serta semua buku dan tulisanku, tetapi Alhamdulillah mereka tidak mendapatkan kesalahan yang mereka cari dalam aqidah atau penyelewenganku dalam manhaj. Meskipun demikian, mereka tetap memberikan apa-apa yang mereka anggap sebagai kesalahanku kepada para masyaikh (ulama) untuk membuat marah, mengkaburkan, dan merusak hubungan.” (At Tanbihat halaman 11)
Menanggapi ucapan ini Syaikh Rabi’ berkata : “Di sini dia keluar dari keadilan, manhaj, dan akhlak dalam mengkritik. Bukankah yang bertanya kepada masyaikh adalah satu orang tentang dua atau tiga masalah dari kekeliruan dan kesalahan Abdur Rahman? Kalau dia orang yang bijaksana tentunya ia berterima kasih pada si penanya tersebut dan menutup pintu fitnah.” ( Jama’ah Wahidah halaman 8)
Selain itu pada akhir ucapannya : “Meskipun demikian, mereka tetap memberikan apa-apa yang mereka anggap sebagai kesalahanku… .” Menunjukkan bahwa dia masih belum meyakini kesalahannya. Namun seakan-akan dia mencabut ucapannya, karena yang menegur adalah Syaikh bin Baaz dan dia marah kepada yang melaporkan. Subhanallah!
Kisah selengkapnya adalah sebagai berikut :
Berkata Syaikh Rabi’ : “Allah telah memberikan taufiq kepada seorang pemuda Salafy untuk menyimak kaset ini (Al Madrasah As Salafiyah ), kemudian mengambil sebagian darinya dan sebagian lain dari kitab Ushul ‘Amal Jama’i tulisan Abdur Rahman Abdul Khaliq yang pada keduanya ada celaan yang sangat keras terhadap para ulama kerajaan Arab Saudi, kedhaliman yang besar dan tuduhan-tuduhan dengan kejelekan. Kemudian pemuda tersebut menghubungi beberapa ulama dengan telepon, Syaikh Shalih bin Ghushhun dan Syaikh Shalih Al Fauzan. Dia bertanya kepada mereka tentang hukum mencela terhadap ulama kerajaan Arab Saudi dan ke-Salafiyah-an mereka. Mereka menjawab dengan jawaban-jawaban yang sangat menghinakan Abdur Rahman. Ketika jawaban para ulama tersebut sampai kepadanya (Abdur Rahman Abdul Khaliq), dia merasa berat dan goncang. Lalu dia mengutus seorang atau beberapa orang utusan untuk membuat ridla para ulama tersebut, menenangkan, dan membuat mereka puas dengan bebasnya dia, mendustakan dan mendhalimi si penanya. Ia kemudian menyampaikan ceramah dalam kaset yang diberi nama Kasyfu Subhat, membela diri dan menuduh si penanya dan yang ada di belakangnya.
Diantara perkataannya : “Kita berada di depan suatu bahaya yang berwujud kebangkitan para penuntut ilmu tingkat rendah yang mengira bahwa kewajiban syar’i yang mengikat mereka adalah mengenal kesalahan seluruh ulama dan para da’i serta jama’ah-jama’ah dakwah yang menyeru kepada Allah di setiap tempat, kemudian berseru tentang mereka dan memperingatkan manusia dari mereka.”
Kaset tersebut (Kasyfusy Syubuhat) direkam dan diperbanyak setelah pengumuman taubatnya.
Maka berkata Syaikh Rabi’ : “Kalau benar dia bertaubat (ruju’), mengapa dia mencetak dan menyebarkannya, padahal di dalamnya masih ada israr (tetap mencela ulama) berupa pernyataannya bahwa celaannya terhadap ulama Saudi pada waktu itu adalah haq dan tsabit, tidak menolaknya kecuali orang yang sombong.” Adapun yang dimaksudkan adalah ucapan Abdur Rahman di dalam kaset tersebut yang berbunyi :
“Apa yang saya sebutkan pada waktu itu (20 tahun yang lalu, pent.) adalah haq. Hal itu adalah perkara yang jelas, tidak menolaknya kecuali orang yang sombong. Barangsiapa yang ingin—misalnya—untuk mengetahui yang haq, silakan sekarang memeriksa satu kitab saja yang ditulis pada masa itu ketika aku menyampaikan ceramah tersebut oleh pengikut madrasah Salafiyah untuk membantah paham-paham atheisme modern” (Rekaman kaset ‘Kasyfus Syubuhat’)
Pernyataan ini persis dengan apa yang pernah kita dengar sendiri di pesantren Tengaran, ketika dia datang ke Indonesia dan menyatakan bahwa enam kesalahan tersebut terjadi pada 20 tahun yang lalu dan cocok pada waktunya.
Kalau begitu bisa jadi pada waktu yang lain akan cocok kembali. Lalu apa makna ruju’-nya?
Disamping itu dia juga berkata bahwa para pencari ilmu (pelajar) berusaha mencari kesalahannya selama 7 tahun dan menghabiskan ribuan kaset serta buku-bukunya, tetapi mereka tidak mendapatklan penyelewengan baik dalam aqidah ataupun manhaj (seperti yang sudah dikutip di awal). Demikian juga pujian yang berlebihan dari Jami’iyyah Ihya At Turats, Kuwait hampir sama dengan ucapan di atas : “Cukup baginya sebagai kebanggaan, Syaikh Al Walid Al Kabir Abdul Aziz bin Baaz hanya mengkritik enam perkara ini. Padahal dia seorang yang memiliki tulisan-tulisan, ceramah-ceramah, beribu-ribu pelajaran dan puluhan kitab-kitab … yang dia menghabiskan waktu sekitar 30 tahun untuk berdakwah kepada manhaj Salaf … .” ( At Tanbihat halaman 5)
Dari ucapan-ucapan di atas, jelas yang dimaksud adalah bahwa dia tidak memiliki kesalahan, kecuali dalam enam perkara saja dan kesalahan itu bukan dalam aqidah dan manhaj. Kemudian mereka dan Abdur Rahman sendiri merasa bangga dengan itu.
Lihatlah cara mereka bertaubat! Apakah mereka mengira bahwa kesalahan-kesalahan itu adalah hanya masalah kecil.
Demi Allah, kaum Muslimin berpecah di mana-mana, Salafiyun berpecah di banyak negara karena adanya jama’ah-jama’ah hizbiyah yang dia seru dalam bukunya. Apakah dia tidak tahu bahwa buku-bukunya telah memecah-belah Salafiyun di Indonesia? …Apakah ini yang dibanggakan oleh Ihya’ At Turats?
Juga perlu ditanyakan kembali apakah memang kesalahannya hanya dalam enam perkara tersebut dan tidak menyangkut masalah manhaj?
Dinukil dari Syaikh Rabi’ bahwa ketika sampai kepada DR. Shalih Al Fauzan surat dari Abdur Rahman Abdul Khaliq tentang pembersihan dirinya dan dari perkataan tentangnya, beliau mengirirm surat kepadanya dengan puluhan kesalahan yang berhubungan dengan haq para ulama yang muncul dari buku-buku dan kaset-kasetnya. Beliau juga meminta kepadanya untuk menjawab hal itu, namun dia tidak menjawabnya, sekalipun menjawab salam dari surat tersebut. Hal itu menunjukkan atas israr-nya pada sebagian besar kesalahannya.”
Syaikh Rabi’ berkata : “Syaikh Shalih Al Fauzan menyampaikan hal ini kepadaku secara langsung.” (Jama’ah Wahidah halaman 30)
Dengan kejadian ini kita mengetahui apakah kesalahan-kesalahan dia hanya dalam enam perkara itu atau lebih? Dan kapan dia bersedia ruju’ dari kesalahan-kesalahan sisanya? Apakah menunggu para pemuda Salafiyin melaporkannya kepada Syaikh bin Baaz?!” ((Membantah Tuduhan, Menjawab Tantangan, Shafar 1417H (ditulis jauh sebelum munculnya LJ), Ja’far Umar Thalib & Muhammad Sewed))
Jadi wahai ikhwah sekalian, betapa “lihainya” Firanda dalam permasalahan ini, dipotongnya kisah teguran Syaikh Bin Baaz kepada big bos Ihya’nya tanpa menyinggung sehurufpun sikap Abdurrahman Abdul Khaliq atas teguran beliau! Padahal sikap inilah yang justru menjadi kunci permasalahan mengenai Abdurrahman Abdul Khaliq. Cukuplah persaksian Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Rabi’ hafidhahumallah atas israr-nya Abdurrahman Abdul Khaliq atas sebagian besar penyimpangannya. Hanya enam perkara wahai Firanda? Wallahul Musta’an…

Firanda “Mujtahid” Kesiangan?
Syubhat Firanda berkata:
“Yang tampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan sa’at bermuamalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah. Bahkan sebaliknya justru kemaslahatan yang di dapat dengan mu’amalah dengan yayasan ini” (Lerai, hal.242)
Komentar:
Silakan para pembaca sekalian membaca artikel Sururiyyah Terus Melanda Muslimin Indonesia yang ditulis oleh ustadz Muhammad Sewed, transkrip dialog antara Syaikh Rabi’ hafidhahullah dengan ustadz Usamah Mahri yang diterjemahkan oleh ustadz Abdul Mu’thi dan ND (Nyaris Doktor) Muhammad Arifin, buku Putih 1 (Membantah Tuduhan Menajwab Tantangan) dan buku putih 2 (Meruntuhkan Syubhat Hizbiyyin) yang ditulis jauh sebelum munculnya Laskar Jihad; niscaya anda benar-benar menyadari bahwa ucapan di atas tidaklah keluar kecuali dari orang yang mengaku sebagai mujtahid yang bangunnya kesiangan!!
Betapa tidak, bukankah upaya Yusuf Utsman Ba’isa bersama kelompok At-Turatsnya Abu Nida’ cs dalam mendatangkan big bos Abdurrahman Abdul Khaliq di Pesantren Al-Irsyad Tengaran adalah bukti nyata dampak buruk dan jahat “hasil muamalah” mereka dengan Ihya’ At-Turats?
Bukankah pembelaan Abdurrahman Abdul Khaliq terhadap Yusuf Qardhawi dan senyum kemenangan Abu Haidar, Ahmas Faiz dan csnya yang disaksikan langsung oleh Ustadz Muhammad Sewed adalah bukti nyata kemudharatan Ihya’ At-Turats?!
Bukankah tantangan mubahalah utusan resmi Ihya’ At-Turats, Syarif Hazza’ (yang diterjemahkan oleh Yusuf Ba’isa), pelecehannya terhadap Syaikh Al-Albani, keluarga beliau serta murid-muridnya juga merupakan dampak buruk hasil muamalah dengan Ihya’ At-Turats?
Bukankah pelecehannya terhadap kitab Al-Quthbiyah serta daurah yang Turatsi adakan untuk membantah kitab tersebut adalah bukti kejahatan Ihya’ bersama-sama kroninya di Indonesia mrupakah hasil kemaslahatan bermuamalah dengan Ihya’ At-Turats?
Bukankah selebaran keji yang mencaci maki dan memfitnah Syaikh Rabi’ bin Hadi yang ditulis oleh murid Abdurrahman Abdul Khaliq, Abdurrazzaq Asy Syaiji yang kemudian diterjemahkan oleh Yusuf Ba’isa dan disebarluaskan oleh jaringan At-Turats Jogja juga merupakan dampak buruk dari hasil bermuamalah dengan Ihya’ At-Turats?
Bukankah transkrip dialog antara Syaikh Rabi’ hafidhahullah dengan ustadz Usamah mahri juga merupakan fakta yang nyata kejahatan Ihya’ At-Turats dan kroni-kroninya di negerimu ini hasil muamalah mereka dengan Ihya’ At-Turats?
Bukankah tersebarnya majalah Al-Bayan Sururi Internasional melalui link yayasan Al-Sofwa Al-Muntada dan link As-Sunnah At-Turats Jogja juga merupakan konsekwensi dari hasil muamalah dengan Ihya’ At-Turats dan sejenisnya?
Bukankah daurah-daurah gabungan antara komunitas “salafi” anda dengan Ikhwanul Muslimin dan Wahdah Islamiyyah adalah bukti hasil positif muamalah dengan yayasan sejenis Ihya’ Ay-Turats?!
Bukankah pemecatan ustadz Abu Mas’ud dari Al-Furqan, Ahmad Izza di Lampung, ustadz Muhammad Ridwan dari Ma’had Bukhari juga merupakan dampak untuk membungkam orang-orang yang mempermasalahkan kebobrokan Ihya’ At-Turats?
Maka bagaimana mungkin anda (wahai Firanda) sampai berani melakukan sedemikian banyak kedustaan di siang bolong dengan berpura-pura “agak dungu” berucap:
“Yang tampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikuatirkan saat bermuamalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi walhamdulillah” (Lerai, hal.242)
Firanda, dengan memuji nama Allah-pun engkau masih berani mencoba membodohi umat?
Nampaknya, akibat terlalu banyak komunitasnya berutang budi dan harus mengucapkan terima kasih kepada si pemberi maka “penampakan” dirimu terhadap dakwah dana kemaslahatan Ihya’ At-Turats benar-benar telah membutakan kedua belah matamu sampai-sampai nekat dengan mendustakan fiqhul waqi’ dari dampak buruk hasil bermuamalah dengan Ihya’At-Turats yang dilakukan oleh senior-seniormu!!
Jadi wahai ikhwah sekalian, ajakan dan gembar-gembor khilafiyyah ijtihadiyahnya agar kita bersikap toleran kepada mereka seperti yang dituntutnya itu tidaklah berlaku bagi kelompoknya Firanda!!
Mereka siap untuk memecat dan mengisolir para da’i yang berani mengungkapkan kejahatan Ihya’ At-Turats!! Waqi’ yang dipraktekkan saudara-saudaranya telah mendustakan khilafiyyah ijtihadiyah yang diteriakkannya!
Inikah manhaj al-inshaf yang engkau sodorkan kepada umat wahai Firanda?!
Engkau tuntut agar Ahlus Sunnah bersikap toleran kepada Ihya’ At-Turats dan sejenisnya sementara kalian menetapkan untuk bebas memecat dan mengisolasi para da’i (kalian sendiri!) yang berani menerangkan kesesatan Ihya’ At-Turats?
Nasib “tragis” ustadz Abu Mas’ud, Ustadz Ibnu Yunus, Ustadz Muhammad Ridwan adalah bukti lain bahwa permasalahan Ihya’ At-Turats bukanlah kasus yang terjadi antara (ex) LJ dengan penentangnya sebagaimana yang gencar mereka kesankan kepada umat!! Bukankah beliau-beliau di atas tidak memiliki nasab apapun dengan LJ?
Mereka eksploitasi penyimpangan LJ yang sesungguhnya ex-LJ itu sendiri telah bertaubat, bara’ berlepas diri dari penyimpangannya!!
Bahkan untuk memuluskan ambisi liciknya di atas, mereka transkrip poin-poin pengakuan penyimpangan yang ditulis oleh ustadz Muhammad ke dalam bahasa arab dan mereka sebarkan di kalangan Masyayikh!!
Demikianlah, di depan umat mereka “memuji” sikap gentleman ustadz Muhammad Sewed yang berani mengaku terus-terang atas berbagai penyimpangan yang pernah dilakukan LJ walaupun kemudian mengadu domba beliau dengan ustadz Luqman. Tetapi di belakang punggung ustadz Muhammad tanpa sepengetahuan umat mereka berupaya menghancurkan itikat baik beliau tersebut dengan menyebarkan “Penyimpangan-Penyimpangan LJ” di depan para ulama!!
Inilah watak bunglon mereka!!
Inilah hakekat kelembutan dan kebijaksanaan dakwah mereka!!
Di depan tersenyum kepada anda, begitu anda berbalik maka mereka siap menikam dari belakang punggung anda! …
Fitnah Ihya’ At-Turats telah muncul jauh sebelum lahirnya LJ!
Mereka telah menjadi pasukan-pasukan Ihya’ At-Turats sebelum adanya LJ!!
Ihya’ At-Turats telah menebarkan perpecahan dan permusuhan terhadap dakwah Salafiyyah di Indonesia jauh sebelum lahirnya LJ!
Karena itulah, adalah sebuah kebohongan di siang bolong ketika Firanda berkata: “Bukankah kebanyakan ustadz atau ikhwan yang ditahdzir adalah hanya karena perkara ini yaitu karena mereka diam tidak mentahdzir atau mentabdi’ orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan??? Bukankah inilah salah satu manhaj Haddadiyah “Mentabdi’ setiap orang yang tidak mau mentabdi’ orang yang terjatuh ke dalam bid’ah”??? [Yang anehnya sebagian orang yang menerapkan manhaj ini tidak mau di tuduh bahwa perbuatan mereka ini adalah manhaj haddadiyyah!]”
Bagaimana mungkin Firanda sampai mengingkari waqi’ komunitasnya sendiri yang jelas-jelas terlalu banyak bukti dampak-dampak buruk dan jahat dari hasil muammalah mereka dengan Ihya’ At-Turats sampai-sampai mengecilkan permasalahan ini sekecil ” hanya karena perkara ini yaitu karena mereka diam tidak mentahdzir atau mentabdi’ orang-orang yang bermu’amalah dengan yayasan???” Bahkan mereka itulah corong-corong kesesatan Ihya’ At-Turats!!
Sekali lagi kami katakan, kelicikanmu wahai Firanda dalam menipu dan mengibuli umat terlalu kentara, terlalu vulgar dan terlalu nekat untuk ukuran seorang intelek yang sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Islam Madinah!
Sebagai seorang yang mengaku telah berijtihad dalam permasalahan ini, maka dirimu tidak boleh “bangun kesiangan” seperti ini!!
Harus engkau pahami benar realita sepak terjang guru-gurumu bersama Syarif Hazza’ dan Abdurrahman Abdul Khaliq. Jangan menggunakan cara-cara yang tidak terpuji yang justru berakibat memalukan diri dan kehormatanmu, menganggap orang lain mudah untuk dikibuli padahal dirinya sendiri tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu “waqi” yang telah terjadi di negerinya sendiri!!
Bagaimana mungkin orang seperti ini mengaku paham seluk beluk Ihya’ At-Turats di Kuwait sana?
Walaupun kita tidak mengingkari bahwa seniornya semacam Abu Nida’ dan Yusuf Ba’isa benar-benar paham seluk beluk pembuatan proposal dana kepada Ihya’ At-Turats Kuwait.
Tentu kitapun tahu, kepada siapa mereka-mereka ini mempertanggungjawabkan dakwahnya…Allahul Musta’an.

Politik Bunglon Ihya’ At-Turats Dalam Kemasan Licik Firanda
Saudaraku rahimakumullah, telah kita paparkan dalam beberapa edisi artikel yang khusus memuat berbagai kesesatan dan kejahatan Ihya’ At-Turats dalam memerangi dakwah Salafiyyah, baik bukti-bukti tersebut dikumpulkan dan diungkapkan oleh Masyayikh (terakhir adalah data yang dikumpulkan oleh webmaster sahab, Asy-Syaikh Abu Abdillah Khalid Adz-Dzufairi) maupun bukti-bukti lainnya yang dikumpulkan oleh para ikhwah Salafiyyin dari berbagai negara yang telah menyaksikan langsung bala’ dan kebinasaan yang ditebarkannya. Bukti-bukti nyata yang selama ini dihindari dan dijauhi pembahasannya untuk didiskusikan secara ilmiyah oleh orang-orang yang selalu menggembar-gemborkan khilafiyyah ijtihadiyah dalam permasalahan ini. Bukti dan Fakta yang dapat digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana tingkat KANKER kesesatan yang menjalar dan virus kebinasaan yang ditularkan oleh Ihya’ At-Turats.
Sebuah anomali dakwah jika Firanda justru mempersilakan kita agar merujuk pada buku Syahadah Muhimmah untuk mengetahui betapa banyaknya para ulama kibar yang mentazkiyah Ihya’ At-Turats!! Sebuah anjuran yang justru membongkar kelicikan dari sebuah kelicikan, kedustaan dari sebuah kedustaan.
Kelicikannya yang paling nampak adalah Firanda sengaja tidak memberikan informasi utuh bahwa Syahadah Muhimmah adalah buku propaganda, buku induk yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh kantor pusat Ihya’ At-Turats untuk mentalbis umat!
Kelicikan berikutnya adalah Firanda sengaja tidak mencantumkan isi dari fatwa para ulama yang diklaimnya telah mentazkiyah Ihya’ At-Turats! Dirinya merasa cukup dengan menyebutkan deretan nama-namanya (Lerai, hal.224-227).
Tetapi tampaknya (dengan cara licik di atas) tujuan licik lainnya yang jauh lebih besar telah direncanakannya secara matang! Firanda ingin memberikan sebuah pukulan “mematikan dan tak terbantahkan” kepada Ahlus Sunnah bahwa kibar ulama yang jumlahnya lebih banyak benar-benar telah mentazkiyah Ihya’ At-Turats! Bahkan beberapa ulama berulang-ulang mentazkiyah yayasan ini!!
Adalah sebuah nikmat dari Allah Ta’ala bahwa dirinya luput untuk mengantisipasi bahwa begitu buku hebohnya mengguncang dunia “persilatan” di Indonesia ternyata –walhamdulillah- kita segera menghubungi saudara-saudara Salafiyyin di Kuwait sebagai basis terdepan dalam menghadang dakwah sesat Ihya’nya untuk langsung mencari buku induk rujukannya. Ternyata saudara-saudara kita di Kuwait telah memegang dan memiliki buku tersebut.
Hal yang tidak kalah anehnya, ternyata saudara-saudara Salafiyyin Kuwait sama sekali tidak terusik oleh buku yang bisa dikatakan sangat dahsyat dalam “menghantam” Salafiyyin sebagaimana gegap gempitanya para da’i Ihya’ dan seluruh komunitas dakwahnya di negeri ini menyambut dan mengelu-elukan sang gacoan baru bersama buku emas imitasinya.
Kenapa salafiyyin Kuwait dan sekitarnya sama sekali tidak terusik “tidurnya” dengan kehadiran buku sedahsyat Syahadah Muhimmah? Karena bukan sekali ini saja Ihya’ At-Turats mengeluarkan buku propaganda sejenis! Pantas saja jika para masyayikh di Kuwait hanya berkomentar singkat bahwa buku ini hanyalah talbis Ihya’ At-Turats!
Kenapa hanya nama-nama para ulama yang “mentazkiyah” Ihya’ yang disebutkan oleh Firanda dan bukan isi dari fatwa itu sendiri? Karena dengan cara ini Firanda bebas mengayunkan “pedangnya’ untuk membodohi umat! Pujian Syaikh Bin Baaz terhadap bangunan baru milik Ihya’ disulapnya menjadi “Tazkiyah” beliau terhadap yayasan ini! Na.am, tazkiyah yang diulang-ulang! Yassalam!
Maktabah Thalabul Ilm yang berisi karya-karya para ulama salafush shalih serta berbagai manhaj tertulis yang berisi tujuan-tujuan kebaikan yang disodorkan oleh Ihya’ At-Turats kepada para ulama. Adapun fakta yang terjadi di lapangan, sesuaikah dengan manhaj tertulis yang mereka sodorkan? Ternyata jauh panggang dari api, kesesatan serta kejahatan hizbiyyah yang mereka tebarkan benar-benar menunjukkan bukti bahwa Ihya’ At-Turats telah melakukan politik bunglon di hadapan para ulama!! Ihya’ At-Turats telah melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan tazkiyah para ulama! Ihya’ At-Turats telah menyembunyikan hakekat sebenarnya dari dakwah sesat dan hizbiyyah mereka!!
Ketika anda telah menyaksikan berbagai bukti kejahatan dan hizbiyyah Ihya’ At-Turats untuk kemudian berpaling sejenak menghadap ke fatwa-fatwa para ulama yang mentazkiyah Ihya’ At-Turats (sebagaimana yang disarankan oleh Firanda walaupun dirinya sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri untuk menampilkan isi fatwa tersebut) maka pada hakekatnya anda sekalian sebenarnya tidak menyaksikan tazkiyah para ulama terhadap Ihya’, tetapi anda sedang menyaksikan bukti terang benderang atas kejahatan Ihya’ At-Turats dalam menipu para ulama kibar (yang mentazkiyahnya) serta mempermainkan umat dengan manhaj bunglonnya!!
Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Syaikh Rabi’ hafidhahullah:
“Inilah data-data yang paling kuat yang menunjukkan bahwa Ihya’ at-Turots tidaklah jujur dalam mengarahkan dirinya kepada manhaj Salafi. Pengaruh Abdurrahman Abdul Khaliq telah diketahui bahwa dia tidaklah membawa manhaj Salafi dengan sesungguhnya secara bersih dan murni. Diantara indikasi terkuat bahwa ia tidak komitmen dengan manhaj ini adalah bahwa ia bersikap loyal kepada kaum takfir di Yaman, Jum’iyyatul Hikmah dan yang semisalnya. Juga bersikap loyal kepada selain mereka, Ikhwanul Muslimin. Mana kesungguhan mereka dalam menghadapi pemikiran Ikhwani ini? Mereka tidak punya keinginan (membantah pemikiran Ikhwan, pen) kecuali untuk menarik diri dari manhaj Salafi.”
Jadi, jangan anda terkecoh dengan gertak sambal para pembela manhaj bunglonnya yang mengatakan: “Jika perkaranya seperti yang mereka katakan, maka sungguh malang nasib para ulama kita yang kerap kali ditipu oleh para penanya, apalagi dalam permasalahan besar seperti ini yang menyangkut keselamatan jiwa raga. Konsekuensinya adalah tuduhan bahwa para ulama kita agak “dungu” karena sering ditipu, juga tuduhan bahwa para ulama kita tidak mengerti fiqhul waqi’ sebagaimana perkataan para hizbiyyin. Na’udzu billahi minal hizbiyyah.”
Bahkan kita katakan:
Jika perkaranya demikian, maka sungguh malang nasib para ulama kita yang fatwa-fatwa mereka (yang nyata-nyata hanya mengenai maktabah, gedung baru, manhaj tertulis) ternyata telah “diperkosa’ oleh Firanda dan orang-orang yang seperjuangan dengannya seolah-olah secara utuh merupakan tazkiyah terhadap Ihya’ At-Turats dengan berbagai rincian tingkah polah kesesatannya (yang diyakinkan kepada kita oleh Firanda) telah diketahui oleh para ulama yang malang tersebut dan para ulama tersebut tetap mentazkiyah Ihya’ At-Turats!! Ini adalah ziyadah bathil Firanda As-Soronji kepada “isi tazkiyah” para ulama terhadap Ihya’ At-Turats!

Syaikh Muhammad Bin Hadi Hafidhahullah Dalam Tudingan!
Syubhat Firanda:
“Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..” (ibid, hal.224)
“Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226).
“Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225).
Tentu pembaca sekalian telah mengetahui, kepada siapa kalimat menohok ini dilemparkannya? Syaikh Muhammad bin Hadi-lah yang ditudingnya!
Sebagaimana fatwa beliau: “Apakah Kalian tahu Jum’iyyah ini? Apakah dibangun di atas manhaj Salafi? Demi Allah dia (Ihya’ut Turats-pen) tidak dibangun di atas manhaj Salafi- demi Allah- dibangun di atas manhaj Ikhwani. Para anggotanya adalah orang-orang yang mutalawwin (bermuka dua). Adapun yang kami ketahui tentang mereka, tidak boleh bagi kita mendiamkan karena adanya orang yang memberi rekomendasi kepada mereka dari orang-orang yang mereka (orang-orang Ihya’ Turats-pent) berbasa-basi di hadapannya sementara mereka (yang memberi rekomendasi) tidak mengetahuinya.
Sesungguhnya, Allah Ta’ala tidak membebani kita kecuali dengan apa yang kita ketahui. Sementara organisasi ini adalah hizbiyyah. Mereka mempunyai bai’at yang mereka namakan perjanjian atau mereka namakan “Taat kepada penanggung jawab (pengurus, pen).” Maka, perhatikanlah mereka dalam berbagai sikapnya! Kemanapun mereka pergi, ke Barat atau ke Timur, di negara Islam atau selain negara Islam, kalian tidak mendapati mereka melainkan mereka memecah-belah dakwah Salafiyah. Mereka (Ihya’ at-Turats) tidaklah mempersatukan, namun mereka mendatangi perkumpulan Salafiyah lalu memecah-belah mereka. Dan hal itu disebabkan harta yang ada pada mereka. Kita memohon kepada Allah Ta’ala ‘afiyat dan keselamatan. Aku telah membicarakan hal ini di banyak kaset dan aku juga telah berbicara dalam dua kaset di Kuwait, di (negeri) mereka.
Intinya, Abdurrahman Abdul Khaliq tidak tersamarkan bagi kita dan tidak tersamarkan pula oleh kalian semuanya bahwa dia adalah Syaikh mereka (Ihya’ at Turats) sampai saat ini walaupun mereka berusaha berpindah darinya.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala afiyat dan keselamatan. Pembicaraan seputar masalah ini panjang, namun aku mencukupkannya hingga di sini.”
Firanda, apakah dirimu mengelak bahwa para anggotanya adalah orang-orang yang bermuka dua?!! Bunglon?!
Mereka berbasa-basi (dengan menyodorkan manhaj tertulis) dihadapan para ulama?!!
Sementara yang memberikan rekomendasi tidaklah mengetahui?!! Ini adalah udzur dan husnudzan yang diberikan oleh Syaikh Muhammad!!
Mencukupkan dan membatasi diri dengan isi “tazkiyah” para ulama terhadap Ihya’ dan menentang ziyadah bathil Firanda As-Soronji yang jelas-jelas berprasangka buruk dan jahat kepada para ulama malah mereka tuduh dengan tudingan-tudingan imajiner di atas!
Adalah sebuah kebohongan murahan jika kita dituduhnya telah “menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’”!!
Kita katakan kebohongan murahan karena Firanda akan kesulitan untuk menjawab jika kita tanya mana fatwa para ulama yang kita tolak?
Apakah kita menolak pujian terhadap gedung baru milik Ihya’ At-Turats?
Apakah kita menolak manhaj tertulis yang berisi kebaikan-kebaikan yang mereka sodorkan kepada para ulama?
Apakah kita menolak pencetakan Al-Qur’an?
Atau yang mana dari “kebaikan-kebaikan tertulis” yang mereka unjukkan?
Tampaknya tidak ada bukti apapun tentang isi tazkiyah itu jika dihubungkan dengan tema khilafiyyah ijtihadiyah yang diteriakkannya. Kelicikan berpondasikan kelicikan.
Bukankah kita sepakat dalam semua “kebaikan tertulis” ini?
Maka bagaimana mungkin Syaikh Muhammad bin Hadi menolak fatwa para ulama?
Yang menjadi persoalan adalah Firanda dan kawan-kawannya merasa cukup dengan tazkiyah informasi berbagai kebaikan yang digembar-gemborkan oleh Ihya’ At-Turats di hadapan masyayikh!!
Adapun waqi’ itu sendiri? Bukti-bukti amal kejahatan dan kehizbiyyahan yang didakwahkan oleh Ihya’ At-Turats ternyata dipaksa oleh Firanda bahwa hal ini sudah mencakup dari isi fatwa “tazkiyah” itu sendiri!! Untuk memuluskan kelicikan itulah maka isi fatwa tersebut tidak dicantumkannya!! Ini adalah sebuah bentuk pendalilan fatwa yang sungguh-sungguh sangat luar biasa dan diluar kebiasaan orang-orang jujur dan amanah!!
Lebih aneh lagi, cara yang ditempuh Firanda dalam mentarjih permasalahan Ihya’ At-Turats untuk kemudian disimpulkan bahwa kemaslahatan dananya masih lebih besar dari kemadharatan kesesatannya.
(Sekali lagi) Firanda hanya berani menyebutkan nama-nama para ulama yang katanya mentazkiyah Ihya’ At-Turats (tanpa menyebutkan isi tazkiyah itu sendiri).
Yang kedua, Firanda begitu detilnya menyebutkan berbagai kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan oleh Ihya’ At-Turats (sampaipun begitu ketakutan jika dana kemaslahatan yayasan “Ahlus Sunnahnya ini” diambil ahlul bid’ah sehingga bid’ah semangkin berkembang!) tanpa menyinggung sehurufpun isi fatwa para Masyayikh yang mentahdzirnya (apalagi bukti-bukti menggunung yang dikumpulkan oleh para masyayikh dan salafiyyin lainnya seputar makar jahat Ihya’ At-Turats terhadap salafiyyin dan dakwah salafiyyah jelas-jelas sangat kecil kemungkinannya disinggung Firanda).
Hanya dengan satu cara inilah Firanda merasa nyaman dan tenang mentarjih dan merujuk pada kemaslahatan besar dana Ihya’ At-Turats!
Inipun adalah terobosan kreatif yang sangat unik, “thariqah baru” dalam mentarjih yang benar-benar tidak wajar dan diluar kewajaran yang biasa ditempuh oleh thalibul ilm!!
Seharusnya, jika Firanda jujur mencantumkan isi fatwa (plus keterangan: diambil dari buku induk Ihya’ At-Turats yang diterbitkan oleh kantor pusatnya!!) yang diklaimnya sebagai tazkiyah para ulama senior terhadap Ihya’ At-Turats yang jumlahnya notabene lebih banyak dari ulama yang mentahdzirnya, kemudian kita komparasikan dengan berbagai bukti yang sungguh sangat-sangat banyak mengenai fiqhul waqi’ kebobrokan manhaj Ihya’ At-Turats yang (sengaja?!) tidak dibahas dan disinggung oleh Firanda.
Maka “tazkiyah” yang diklaimnya di atas semestinya justru merupakan bukti kejahatan besar Ihya’ At-Turats terhadap para ulama kibar yang notabene jumlahnya lebih banyak dan bukti nyata pengkhianatan Ihya’ terhadap umat!! Bukti tak terbantahkan betapa mereka bersikap sangat khianat dan tidak jujur dihadapan para ulama!! Bukankah bukti-bukti kejahatan yang dipegang salafiyyin adalah bukti NYATA ketidakjujuran mereka terhadap para ulama?!!
Jadi, kalau Firanda membantahnya dengan melemparkan syubuhat:
“Apakah kesalahan-kesalahan yang ada pada yayasan tersebut sudah cukup untuk mengeluarkan mereka dari golongan Ahlis Sunnah wal Jama’ah atau belum? Dan apakah kesalahan-kesalahan tersebut termasuk kesalahan-kesalahan yang pelakunya harus dihajer dan dijauhi?”
Maka kita katakan dengan tegas kepadanya sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Syaikh Muhammad bin Hadi:
“…tidak boleh bagi kita mendiamkan karena adanya orang yang memberi rekomendasi kepada mereka dari orang-orang yang mereka (orang-orang Ihya’ Turats-pent) berbasa-basi di hadapannya sementara mereka (yang memberi rekomendasi) tidak mengetahuinya..”
Fakta politik bunglon yayasan seperti inikah yang kalian perjuangkan kepada umat sebagai yayasan Ahlus Sunnah? Adakah ulama Ahlus Sunnah yang mengajarkan agar Salafiyyin bermuka dua? Yayasan yang begitu liciknya menyodorkan berbagai program kebaikan tertulis di hadapan para ulama kibar yang jumlahnya notabene lebih banyak (demi untuk mendapatkan tazkiyah dan pujiannya) daripada ulama yang mentazdzirnya agar dapat dengan mudah “melenggang kangkung” menebarkan hizbiyyah dan kebinasaan kepada umat dengan talbis tazkiyah kibar ulama yang dipamerkannya kepada umat? Manhaj dzulwajhain bungloniyyin Ihya’ At-Turats seperti inikah yang kemaslahatannya begitu besar di sisi kalian?
Jadi, bukanlah lipstick “kesalahan-kesalahan” Ihya’ At-Turats yang sedang kita bongkar tetapi politik bunglon kesesatan dan kejahatan mereka yang anda promosikan sebagai yayasan Ahlus Sunnah yang besar kemaslahatannya bagi umat yang kita ungkapkan!
Bukan pula kekokohan hujjah anda (wahai Firanda) yang sedang kita diskusikan tetapi kelicikan anda dalam mengemas manhaj bunglon Ihya’ sebagai manhaj yayasan Ahlus Sunnah-lah yang sedang kita buktikan!
Tentu saja Firanda tidak akan menerima jika dikatakan berwala’ kepada kesesatan Ihya’nya, tetapi apakah mampu dirinya mengelak jika kita katakan bahwa dirinya dan komunitasnya berwala’ kepada harta benda Ihya’nya?!
Bukankah buku tebal yang disusunnya tujuan intinya hanyalah untuk melegalisasi dana-dana kemaslahatan dakwah Ihya’nya?

Di hadapan Penyesat Umat Menjadi Burung Onta Yang Menyembunyikan Kepala Di Dalam Tanah, Ketika Bertemu Ahlus Sunnah …Dalam Sekejap Telah Berubah Menjadi Srigala!
Karena itulah, tidak ada jalan keluar baginya untuk menyelamatkan politik bunglon Ihya’ At-Turats dan kelicikan Firanda dalam “Melerai Pertikaian” ini kecuali dengan mempublikasikan hasil realisasi proyek-proyek mereka (Lerai, hal.242-244)!! Serta menyebarluaskan rekomendasi hajr dan boikot terhadap orang-orang yang berani mengungkap kesesatan Ihya’ dan kroni-kroninya (webAbusalxx)!!
Benar-benar Fenomena Hajr (seperti judul buku Firanda) yang diterapkan kepada kita sungguh sangat sangat luar biasa yang diluarkebiasaan ilmiyyah!!
Firanda sama sekali tidak pernah berniat untuk Melerai Pertikaian ini!!
Kelicikan-kelicikan isi bukunya adalah salah satu bukti yang sangat jelas! Bagaimana mungkin Firanda “ikhlas” Melerai Pertikaian ini jika dirinya (yang berlagak menjadi hakim para ulama) ternyata terbukti hanyalah membacakan hasil keputusan Syahadah Muhimmah yang dibuat dan dipropagandakan oleh kantor pusat Ihya’ At-Turats di Qurtuba? Tentu anda masih ingat bahwa Kantor Pusat Ihya’ inilah (tempat Firanda merujuk Fatwa Tazkiyah) ternyata juga memiliki produk lain selain Syahadah Muhimmah, yakni mengundang Mufti Ikhwanul Muslimin Khalid Madkhur!!
http://fakta.blogsome.com/go.php?http://img53.imageshack.us/img53/6393/15831593160815771575160qx2.jpg
Tetapi bukankah Firanda telah menegaskan berulang kali bahwa: “bermu’amalah dengan ahlul bid’ah secara umum di zaman ini merupakan perkara ijtihadiah yang kembalinya pada menimbang antara maslahat dan mudhorot (yaitu menimbang antara menta’lif (mengambil hati) mereka atau menghajr mereka.” (Sekali Lagi, ed.3, Abusalxx)
Apakah Kantor Pusat Ihya’ At-Turats yang terkenal kiprah kemaslahatan dakwah dananya dan bahkan memegang tazkiyah kibar ulama yang notabene jumlahnya lebih banyak dan lebih senior daripada para ulama yang mentahdzirnya (di sisi Firanda dan orang-orang yang sejenis dengannya) “agak dungu’ sehingga menghajr mufti Ikhwanul Muslimin dengan cara mengundang mereka ke kantor pusatnya?
Jika tidak sampai “sedemikian parah kedunguannya” (di sisi Firanda cs) tentulah upaya mendatangkan mufti Ikhwani tersebut untuk menta’lif (mengambil hati) mereka!
Di sinilah letak “keunikan” manhaj Turatsi, kemaslahatan mengambil hati mufti Ikhwani masih lebih besar jika harus menghajrnya!
Dan hampir dalam sebagian besar perkara penyelewengan, para Turatsi menerapkannya manhaj unik seperti ini!
Syi’ahpun mereka ta’lif (ambil hati) dengan cara menyerukan semangat persaudaraan karena kemaslahatan persaudaraan ini masih lebih besar jika dibandingkan kesyirikan dan kesesatan Syi’ah!
Hizbusy-Syaithon di Libanon juga dibela demi menta’lif (mengambil hati) mereka!! Muhammad Surur-pun dita’lif Ihya’ At-Turats dengan cara memujinya,
Sayyid Quthb-pun demikian.
Bahkan Ihya’ At-Turats menta’lif (mengambil hati) kaum muslimin untuk menghajr pemerintahnya dengan cara menyerukan demontrasi untuk menggulingkan para penguasa muslim di negeri-negeri kaum Muslimin!!
Na’am, pambahasan ta’lif dan hajr serta uraian kemaslahatan berikut rincian contoh-contohnya dan kemudharatan (yang tidak dibahasnya) yang dijelaskan panjang lebar dalam buku emas Ihya’nya hanya semakin kuat menunjukkan bahwa Firanda tidak lebih dari salah satu corong-corong kesesatan Ihya’ At-Turats yang harus membalas budi baik kemaslahatan dana dakwah mereka serta keunikan (baca:kebobrokan) manhaj Ihya’nya!!
Bukankah Firanda sendiri yang menegaskan: “Adapun memuji kebaikan orang yang membantunya tersebut dalam hal “membantu” maka inilah yang semestinya karena ini merupakan salah satu bentuk terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik.”
Adapun jika membalas budi baik mereka dengan cara menerangkan betapa bahaya kesesatan Ihya’ kepada umat? Bukankah hal ini bukan sikap yang semestinya dan bahwa kami adalah orang-orang yang tidak tahu cara membalas budi!? Bagaimana mungkin kami memakan darah daging muhsinin kami? Air susu yang mereka minumkan pada kami bagaimana mungkin tega kami balas dengan air ketuban?
Duhai …
Karena itu wahai saudaraku sekalian yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, di sisi manusia-manusia kebal manhaj seperti Turatsiyun, tidak ada kekuatiran apapun jika mereka bermuamalah dengan Ahlul Bid’ah dan yang sejenisnya!! Tidaklah berarti mutiara-mutiara hikmah warisan salaful ummah yang merasa tidak aman agama dan manhaj mereka rahimahumullah (jika bermuamalah dengan para penyesat) seperti di bawah ini:
Berkata Fudhail bin Iyadl : “Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi Al-Hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan disamping Yahudi dan Nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid’ah” (Al-Lalika’i 4/638 no. 1149).
Hanbal bin Ishaq berkata:’Saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata : “Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahli bid’ah, duduk dan bergaul dengan mereka”. (Al-Ibanah 2/475 no. 495).
Abu Qilabah berkata : “Janganlah kamu duduk bersama ahli ahwa’ dan jangan berdialog dengan mereka, sebab sesungguhnya saya tidak aman kalau-kalau mereka membenamkan kamu dalam kesesatan mereka atau mengaburkan apa-apa yang kamu telah ketahui.” (Al-Bida’ 55, Al-I’tisham 1/172, Al-Lalika’i 1/134 no. 244, Ad-Darimi 1/120 no. 391, Al-Ibanah 2/473 no. 369, Asy-Syari’ah 61)
Fudhail bin Iyadl berkata : “Janganlah kamu bermajelis dengan ahlul bid’ah, sebab sesungguhnya saya khawatir kamu tertimpa laknat.” (Al-Lalika’i 1/137 no. 261 dan 262).
Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin berkata : “Janganlah kamu bermajelis bersama ahlul ahwa’,  jangan kamu berdialog bersama mereka dan jangan dengar ucapan mereka.” (Al-Ibanah 2/444 no. 395, Ad-Darimi 1/121 no. 401).
Berkata Al-Hasan Al-Bashri : “Janganlah kamu bermajelis dengan ahli ahwa’ sebab yang demikian menjadikan hati berpenyakit.” (Al-Bida’ 54, Al-Ibanah 2/438 no. 373)
Mujahid berkata : “Janganlah kamu berada dalam satu majelis dengan ahli ahwa’ sebab mereka mempunyai cacat seperti kurap.” (Al-Ibanah 2/441 no. 382)
Jadi, ketika Firanda berkata: “bermu’amalah dengan ahlul bid’ah secara umum di zaman ini merupakan perkara ijtihadiah yang kembalinya pada menimbang antara maslahat dan mudhorot (yaitu menimbang antara menta’lif (mengambil hati) mereka atau menghajr mereka).”
Atau ucapan lainnya: “yang tidak diragukan lagi bahwasanya permasalahan bermu’amalah dengan ahlul bid’ah secara umum di zaman ini merupakan permasalahan ijtihadiah yang kembali pada kaedah “menimbang antara kemaslahatan dan kemudhorotan” yang diperoleh dari mu’amalah tersebut”
Bukankah lisanul halnya mengatakan: “Mereka para ulama salafush shaleh adalah orang-orang yang lemah manhajnya sehingga wajar saja jika kuatir ketika bermua’malah dengan ahlul bid’ah!! Adapun kami yang kebal manhaj ini? Tidaklah perlu bagi anda untuk mengkuatirkannya! Tentulah kami timbang dulu antara menta’lif ataukah menghajr mereka! Harus kami timbang dulu antara kemaslahatan dan kemudharatannya! Kita tidak boleh “menjauhkan mereka dari al-haq hanya karena sikap kita baro’ 100% kepada mereka”!!
Tentu saja untuk semakin “mengokohkan” hasil ijtihadnya, maka sang Mujtahid kesianganpun menegaskan tanpa ragu dan tanpa rasa malu: ” Apakah engkau saja yang berijtihad sedangkan saudara-saudaramu yang mengambil dana tidak berijtihad dalam mengambil langkah mereka??”
Adakah seorang mujtahid yang dibesarkan oleh dakwah dana kemaslahatan Ihya’ At-Turats?!
Adakah Salafi sejati “semerbak mewangi” yang lahir dan tumbuh dari kemaslahatan dana markas besar para Turatsi?
Ada! Siapa dia? Firanda ‘Syahadah Turatsi Muhimmah’ yang “berangkat” dari Qurthuba Kuwait untuk menghadang dan menetralisir fatwa kesesatan dan kejahatan Ihya’ At-Turats!! Yassalam.
Maka betapa naifnya jika yang menyebarkan kejahatan dan kebinasaan hizbiyyah adalah Ihya’ At-Turats tetapi Salafiyyin-lah yang justru dituduh Firanda dan pengekor fanatiknya sebagai telah menuduh para ulama “agak dungu”!! (Katanya) Salafiyyin telah menuduh para ulama kibar tidak tahu fiqhul waqi’!! Dan seterusnya dari tuduhan-tuduhan imajiner tanpa bukti yang dikembangkannya!!
Sekali lagi, inilah manhaj maling teriak maling!!
Dengan cara lacur seperti inikah anda (wahai Firanda) membalas budi kepada tuan-tuan kemaslahatan dakwah dananya?
Inikah bukti ketulusan anda dalam mendakwahkan kebenaran kepada umat?
Bukankah “kemaslahatan dakwah” Firanda dan kawan-kawannya hanyalah berpatokan kepada berapa banyak jumlah proposal proyek-proyek yang ditazkiyah oleh Ihya’nya? Yang dengannya dia akan berpromosi secara rinci kepada umat betapa banyaknya kemaslahatan dakwah dana yang didapatnya.
Bangunlah tuan, bangun nak kandung,
Bangun nak sayang, muda rupawan,
Sampai hati anakku tuan,
Abaikan ksesatan hanya ‘tuk kejar hartawan
Maslahat dunia mari kemari
Kurengkuh kuat, kupegang erat
Takkan kulepas, walau terempas
Firandaku…
Manhaj yang baik serta mulia,
Lebih berharga dari harta sepenuh dunia!

Firanda & Ihya’ Mencari Aman Di Balik Tazkiyah Para Ulama,
Ini Mirip Dengan Cara-Cara Hizbiyyin!
Telah kita saksikan bukti bagaimana kelicikan Firanda dalam menggunakan rekomendasi para ulama terhadap Ihya’ At-Turats demi untuk melegalisir kesalafiyyahan dakwah dana Ihya’nya!
Dan sekarang kita saksikan “taktik sejenis” yang dipraktekkan oleh Ikhwanul Muslimin untuk mengelabui umat.
“Bahkan Hasan Al-Banna yang dipuji Syaikh Ibnu Al-Jibrin –seorang ulama anggota Kibarul Ulama- telah dikomentari dengan perkataan yang amat tendensius. Zaid bin Muhammad bin Hadi berkata tentang Hasan Al Banna, “Bahwasanya tidak diperkenankan bagi setiap orang untuk menghormati, bahkan menjadikannya seorang imam yang dipanuti dalam akidah maupun akhlak, ibadah dan manhaj dakwahnya karena terdapat kesalahan fatal yang dibenci ulama as Salafiyyin ar Rabbani dalam beberapa segi itu”( Al-Ikhwanul Muslimun Mendhalimi…, hal.69-70).
Demikian pula pembelaan Syaikh Abdullah Al-Jibrin Hafidhahullah dan Syaikh Bakr Abu Zaid Hafidhahullah (keduanya adalah anggota Hai’ah Kibarul Ulama) terhadap Sayyid Quthb telah dijadikan tameng oleh Ikhwanul Muslimin untuk menutupi tabir penyimpangan mereka. Farid Nu’man Al-Ikhwani berkata:
“Cukuplah bagi kita ucapan Syaikh Ibnu Al-Jibrin yang telah membaca buku-buku Syaikh Rabi’ yang berisi bantahan terhadap Sayyid. Ia berkata, “Saya telah membaca tulisan Syaikh Rabi’ Al-Madkhaly tentang bantahan terhadap Sayyid Quthb, tetapi saya melihat tulisannya itu sebagai pemberian judul yang sama sekali jauh dari kenyataan yang benar. Oleh karena itu, tulisan tersebut dibantah Syaikh Bakr Abu Zaid (lihat lampiran)” (ibid, hal.141-142).[2]
Inilah “khilafiyyah Ijtihadiyyah” berikutnya:
“Imam Kabir Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz –mantan mufti kerajaan Saudi dan Ketua Hai’ah Kibarul Ulama- berkata, “Buku-bukunya (Al-Qaradhawy-peny) memiliki bobot ilmiyah dan sangat berpengaruh di dunia Islam.” Imam al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albany –ahli hadits terkemuka abad duapuluh- berkata, “Saya diminta (al Qaradhawy) untuk meneliti riwayat hadits serta menjelaskan kesahihan dan kedha’ifan hadits yang terdapat dalam bukunya (Halal wal Haram). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui itu semua secara langsung. Setiap dia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadits atau masalah fiqh. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi dan kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah Swt mendatangkan manfaat dengan keberadaannya[3]. Mengapa pengikut kedua Syaikh itu tidak mengambil manfaat dari kesaksian mereka?”(ibid, hal.182)[4]. “Syaikh Al-Albany telah menjadi saksi ketawadhu-an dirinya” (ibid, hal.174).
Akhirnya: “Sesungguhnya Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Al-Albany telah menjadi saksi tentang pribadi Al-Qaradhawy seperti yang telah disebutkan sebelumnya”(ibid, hal.221 ). Aih, Ikhwanul Muslimin telah membawa “tazkiyah” Syaikh Biz Bazz dan Syaikh Al-Albani terhadap Al-Qaradhawy!! Yassalam.
Farid Nu’man Al-Ikhwani melanjutkan: “Namun, justru sering muncul pandangan subyektif dari sebagian kecil kalangan yang gemanya melebihi suara aslinya. Lucunya, mereka bukanlah ulama, melainkan thalibul ilmi (penuntut ilmu). Kenyataannya hanya orang besar yang dapat menghargai orang besar. Mereka tidak lebih dari sekelompok anak-anak muda –dengan dukungan beberapa Syaikhnya- yang baru belajar beberapa kitab salaf (klasik). Sayangnya lidah mereka menjulur melebihi ilmunya…”(ibid, hal.175)
Disana, ada fatwa lain dari “murid-murid Kibar ulama yang mewakili pandangan subyektif sebagian kecil kalangan” tentang dedengkot Ikhwany ini. Syaikh Muqbil Rahimahullah bahkan menulis satu kitab khusus tentangnya yang berjudul: “Iskatu Kalbun awi fi Raddi ‘ala Yusuf Al-Qaradhawi”, Mendiamkan Anjing Menggonggong sebagai Bantahan Kepada Yusuf Qaradhawi!!
Masih komentar tentang Qaradhawy, “Sayangnya, Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Atsary hafizhullah kami mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla pun ikut-ikutan merendahkan Syaikh Al-Qaradhawy dengan menyebutnya sebagai salah satu tokoh rasionalis abad modern yang mendahulukan akal di atas nash….Adapun guru Syaikh Ali –Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah- justru memuji Al-Qaradhawy dalam mukadimah bukunya, Ghayatul Maram fi Takhrijil Halal wal Haram” (ibid, hal.178-179).
Tapi sudahlah wahai saudaraku, karena Firanda akan segera “mendatangi anda” untuk menyodorkan pernyataan bahwa hal ini adalah permasalahan “Khilafiyyah Ijtihadiyyah”!! Dan dia akan “menakut-nakuti anda” dengan pertanyaannya (bandingkan:Lerai…, hal.237-238) :”Lantas kenapa antum tidak sekalian men-tahdzir atau bahkan meng-hajr “Syaikh Bin Bazz” dan “Syaikh Al-Albany” yang memberi rekomendasi kepada Al-Qaradhawy? Bukankah para Syaikh inilah yang menjadi sebab terbukanya pintu untuk bekerjasama dengan Al-Qaradhawy (gembong Ikhwani), yaitu dengan adanya rekomendasi (baca:pujian) mereka kepada Al-Qaradhawy ini? Adapun orang-orang yang bermu’amalah dengan Al-Qaradhawy –gembong Ikhwani- hanyalah merupakan akibat (dampak) dari rekomendasi tersebut. Kenapa kalian begitu gencarnya memerangi akibat dan tidak memerangi sebab sumber “malapetaka”?” Apakah pertanyaan “kritis” seperti ini wahai Firanda?
Firanda juga berkata secara “provokatif”:”Lantas kenapa antum tidak sekalian saja mentahdzir atau bahkan menghajr Syaikh Fauzan dan Syaikh Alusy Syaikh yang memberi rekomendasi kepada yayasan tersebut? Bukankah para Syaikh inilah yang menjadi sebab terbukanya pintu untuk bekerjasama dengan yayasan tersebut, yaitu dengan adanya rekomendasi mereka kepada yayasan ini? Adapun orang-orang yang bermuamalah dengan yayasan tersebut hanyalah merupakan akibat (dampak) dari rekomendasi tersebut. Kenapa kalian begitu gencarnya memerangi akibat dan tidak memerangi sebab sumber “malapetaka”?..” (Lerai…, hal.237-238).
Saudaraku, jangan anda termakan “provokasi” Firanda untuk mentahdzir bahkan menghajr Syaikh Fauzan dan Syaikh Alusy Syaikh!! Kenapa? Karena ini adalah kesalahan fatal dan anda memasuki lubang perangkapnya!! Cap Haddady telah menanti anda!! Dan demikianlah adanya sikap ghuluw Haddadiyyin yang harus kita enyahkan!! Bagaimana mungkin Salafiyyin dipaksa untuk memberikan sikap yang sama antara kepada ulama Mujtahidin dengan para pengekor hawa nafsu dan Hizbiyyah?! Tentulah beda!!
Kedua, katakan dengan jujur kepada umat wahai Firanda, sejak kapan Abu Nida’, Ahmas Faiz, Abu Haidar dan dedengkot-dedengkot Ihya’ut Turots Indonesia memegang fatwa para ulama tersebut? Apakah ketika mereka tersenyum penuh kemenangan ketika Abdurrahman Abdul Khaliq melecehkan Salafiyyin pada peristiwa “Tragedi Daurah Al-Irsyad Tengaran” mereka sudah memegang fatwa “Khilafiyyah Ijtihadiyyah”mu? Apakah ketika mereka, Abu Mush’ab dan teman-temannya bersama-sama guru mereka, Syarif Hazza Al-Mishri menyerang dan memerangi Salafiyyin Ahlus Sunnah dan para ulamanya mereka juga telah memegang “kaidah sakti” Khilafiyyah Ijtihadiyyahmu? Apakah ketika mereka, Yusuf Utsman Ba’isa dan csnya dari kelompoknya Abu Nida’ dan Ahmas Faiz menerjemahkan dan menyebarkan selebaran keji buatan Hizby-Khabits Asy-Syaiji murid Abdurrahman Abdul Khaliq juga termasuk dari Khilafiyyah Ijtihadiyyahmu? Anak-anak ingusan ini kuatir bahwa ketika semua kejadian penyerangan hebat terhadap dakwah Salafiyyah di atas ternyata dirimu belumlah “terlahir” di medan dakwah ini!! Engkau muncul bak pahlawan yang akan menengahi dan menyelesaikan permasalahan ini dengan kaidah Khilafiyyah Ijtihadiyyah?!! Semua beres, ini hanyalah…Khilafiyyah Ijtihadiyyah, Allahu yahdik.
Sejak kapan engkau dan mereka memegang “Syahadah Muhimmah” yang diterbitkan oleh Kantor Pusat Ihya’ut Turots? Baru kemarin “siang” kan?
Ketiga, apakah engkau wahai Firanda tidak menyadari bahwa Abdurrahman Abdul Khaliq beserta seluruh jajaran Ihya’ut Turots Kuwait akan tersenyum bangga penuh kemenangan jika mengetahui isi buku emasmu ini?![5] Allahul Musta’an.
Keempat, tidakkah engkau wahai Firanda menyadari, betapa mirip “misi yang diemban” bukumu (Lerai Pertikaian…) dengan buku Farid Nu’man (Al-Ikhwanul Muslimun Mendhalimi…)?
Perhatikanlah: “kami jumpai orang-orang yang mencela Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, al-Ghazaly dan al-Qaradhawy hanyalah thalibul ilmi yang tidak meneladani syaikh-syaikh mereka yang ‘ihtiram (hormat) terhadap ulama lain. Antara Syaikh al-Qaradhawy dan Syaikh bin Bazz maupun Syaikh al-Albany, tidak ada masalah apa-apa. Mereka saling mencintai karena allah swt walau mereka tidak sedikit berbeda dalam ijtihad fiqh yang klasik maupun kotemporer. Lisan dan tulisan mereka bersih dari saling mencela. Anehnya, kalangan yang menjadikan syaikh-syaikh itu sebagai ikutan, justru amat bersemangat dan tidak ada bosannya dalam menelanjangi kehormatan tokoh-tokoh ikhwan dalam bentuk buku, majalah, buletin dan taklim dengan alasan tahdzir (memperingatkan) umat dari kekeliruan. Apakah hanya itu amal soleh mereka ataukah mereka memang lahir untuk itu? Apakah allah swt telah memberikan izin kepada mereka untuk menyebut pihak lain sesat, salah, firqah, hizbiyyah bukan hizbullah, dan keluar dari manhaj salaf?”(ibid, hal.226). (Bundle badai fitnah, bab Buku Syahadah Muhimmah, Lerai Pertikaian “Made in” Kantor Pusat Ihya’ at-Turots Kuwait yang penebitnya (baca:cabangnya) ada di Depok!!)
Masih adakah yang ragu bahwa taktik licik yang ditempuh oleh Firanda hanyalah mengekor para pendahulunya dari kalangan Ikhwani yang suka nebeng fatwa “tazkiyah” kibar ulama salafi?! (Badai Fitnah, bab XXV, Syahadah Muhimmah. Lerai Pertikaian “Made In” Ihya’ At-Turats)
Tipu muslihat jangan dicari,
Kalaulah dapat…
Hanya akan hancurkan diri

 
Na’am, Celaan Lebih Didahulukan Daripada Pujian!
Ini adalah kaidah agung yang sudah sangat “terkenal kiprahnya” di kalangan salafush shaleh dan bukan sebaliknya, dikatakan sebagai bukti penolakan terhadap fatwa para ulama yang memuji!! Apalagi diselewengkan menjadi sebuah bentuk celaan terhadap para ulama yang memuji!! Bukan pula “diperkosa” maknanya menjadi sebuah tuduhan keji bahwa para ulama yang memuji “dituduh” tidak tahu fiqhul waqi’!! Apalagi ucapan jahat lainnya seolah-olah menuduh para ulama yang memuji “agak dungu” karena sering ditipu!!
Wallahi, sungguh sangat jauh kaidah agung tersebut dengan ucapan-ucapan brutal dan membuta babi para intelektual imaginator ulung tersebut!!
Adapun buktinya, cukuplah kami hadirkan 3 poin penting penjelasan salaful ummah untuk membungkam dan menelanjangi kebatilan tuduhan-tuduhan imajiner Turatsiyun-Irsyadiyyun!
1.Imam Al Hafidh Khatib Al Baghdadi rahimahullah dalam kitab beliau berjudul Al Kifayah Fi ‘Ilmi Ar Riwayah, halaman 105 bab Al Qaul Fil Jarh Wat Ta’dil Idzajtama’a Ayyuhuma Aula menjelaskan : “Telah sepakat Ahlul Ilmi (yakni ulama) bahwa siapa saja yang dicela oleh seorang atau dua orang dan dipuji oleh orang sebanyak itu, maka celaan itu lebih utama (untuk diperhatikan). Sebabnya ialah bahwa pencela itu memberitakan perkara yang tersembunyi yang diketahuinya dan pada saat yang bersamaan benar pula ucapan pihak yang memujinya, dan pencelanya menyatakan kepada yang memujinya : ‘Sungguh engkau (pemujinya) telah mengetahui keadaan pihak yang engkau puji itu secara dhahir-nya, dan engkau kosong dari pengetahuan yang tidak engkau ketahui tentang pengujian semestinya terhadap agamanya’.[6] Pemberitahuan orang yang memujinya tentang terpujinya orang tersebut tidak pula me-nafi-kan kejujuran pihak pencela dalam apa yang ia beritakan. Oleh karena itu celaan terhadap seseorang itu lebih diutamakan daripada pujian terhadapnya.”
2.Imam Abu Amr Utsman Asy Syahrazuri yang terkenal dengan nama Ibnu Shalah rahimahullah menerangkan dalam kitab beliau Muqadimah Fi Ulumil Hadits halaman 52 : “Apabila terkumpul pada seseorang celaan pihak yang mencelanya dan pujian pihak yang memujinya, maka celaan lebih diutamakan dari pujian karena yang memujinya memberitakan apa yang tampak dari keadaannya dan yang mencelanya memberitakan apa yang tidak tampak bagi pemujinya.”
3.Imam Nawawi rahimahullah menerangkan dalam kitab beliau Irsyad Thullabil Haqaiq, Tahqiq Abdul Bari Fathullah As Salafi jilid I halaman 287 menerangkan : “Apabila terkumpul pada seseorang celaan dan pujian, maka celaan lebih diutamakan daripada pujian karena padanya itu ada tambahan ilmu.”
Selanjutnya Imam Nawawi menjelaskan : “Dan kalau jumlah pihak pemuji itu lebih banyak, ada yang menyatakan bahwa dalam keadaan demikian pujian itu lebih diutamakan daripada celaan, tetapi yang benar adalah menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama yaitu bahwa ‘celaan tetap lebih diutamakan daripada pujian’.”
Demikianlah, celaan benar-benar didahulukan daripada pujian!! Hanya sayangnya, hawa nafsu licik Firanda menghiasinya dengan berbagai tuduhan-tuduhan keji bahwa penerapan kaidah yang agung ini adalah bukti penolakan terhadap fatwa ulama yang memuji, dan secara otomatis menuduh mereka “agak dungu” karena mudah dipermainkan!
Firanda, kalian sendirilah yang menciptakan imajinasi dan merekayasa tuduhan-tuduhan keji dan brutal seperti ini!! Lalu kenapa Ahlus Sunnah yang kalian salahkan?!
Betapa tinggi Firanda membubung ke angkasa mimpi
Sampai-sampai lupa daratan akan bumi tempat kaki berdiri
Betapa jauh memaksa diri berjalan berijtihad terbuai mimpi
Sampai-sampai lupa diri menghantam para ulama’ salafi
Berdalam-dalam imajinasi keji
Sampai-sampai Ahlus Sunnah yang ditudingi
Buruk muka karena ulah sendiri
Kenapa Salafi yang dimaki-maki?
Saudaraku rahimakumullah,
Sekali lagi lihatlah cermin keteladanan Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, Imam Ibnu Shalah dan Imam Nawawi rahimahumullah dalam menyikapi ahli bid’ah di atas!
Adakah diantara kita yang meragukan kedalaman ilmunya? Keluasan kebijaksanaannya? Kemantapan hikmah dakwahnya? Dan kekokohan manhajnya? Tetapi toh mereka rahimahumullah masih tetap merasa takut dan tidak merasa aman agama dan imannya jika bergaul bersama para penyimpang dan penyeleweng!
Bagaimana pula dengan diri-diri kita yang sungguh dan sungguh sangatlah jauh keilmuannya (yang sama sekali tidak pantas untuk dibandingkan dengan mereka) sampai bisa mengaku memiliki kemampuan untuk menimbang kemaslahatan dan kemudharatannya? ..
Kurang pikir, kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat

(Abdul Hadi)

Footnote:
[1]Dengan dipublikasikannya SIKAP HAJR MEREKA TERHADAP KITA, maka “produk” buku yang berjudul LERAI PERTIKAIAN, SUDAHI PERMUSUHAN (Menyikapi Fenomena HAJR di Indonesia) secara otomatis telah mereka nyatakan tidak berlaku (expired/kadaluarsa) dan tidak layak dikonsumsi!! Kita dituduh “suka menghajr”., dan merekapun sekarang juga SUKA MENGHAJR!! Setali tiga uang. Hanya bedanya, mereka masih “memiliki kelebihan” dana kemaslahatan dari yayasan-yayasan pemecah belah umat penebar hizbiyyah dan tidak sungkan-sungkan untuk mengucapkan terima kasihnya secara terbuka berikut rincian laporan pertanggungjawaban proyeknya. Adapun yang mengungkapkan kejahatannya? Mereka itulah yang lebih layak untuk dihajr!!
[2] “Pembelaan” Syaikh Bin Jibrin dan Syaikh Bakr Abu Zaid Hafidhahumallah ini juga dinukil oleh Abduh Z.A. (yang salah satu bukunya direkomendasi oleh Caldok Muhammad Arifin) dalam buku pembelaan terhadap kelompok-kelompok sempalan “Siapa Teroris?…, hal.317-319, 321-322) Alangkah miskinnya Farid Nu’man Al-Ikhwani dan Abduh Zulfidar Akaha Al-Ikhwani yang masih saja menggunakan pembelaan usang sementara pemiliknya sendiri (Syaikh Bakr Abu Zaid) telah rujuk dari pendapatnya ini! Ternyata beliau baru tahu bahwa Ikhwanul Musliminlah yang telah menyebarkan “lembaran” tadi di Yaman dan negeri lainnya dengan disertai foto Sayyid Quthb dan diberi judul ” Nashihah Adz-Dzahab/Nasehat Emas”. Cukuplah bagi beliau dengan mengetahui kesalahannya dari orang-orang yang menyebarkan kertas itu. Ternyata mereka adalah musuh Syaikh Bakr sendiri, musuh manhaj yang Haq”. Kita menunggu, bagaimana sikap Firanda terhadap Khilafiyyah Ijtihadiyyah ini?! Allahul Musta’an.
Demikianlah, di sisi Ikhwani ada “Nasehat Emas” dan di sisi Sururi ada “Buku Emas”, keduanya sama-sama bertamengkan “tazkiyah” Kibar ulama. Allahumma.
[3]Muhammad Nashiruddin Al-Albany, Ghayatul Maram fi Takhrijil Hadits Halal wal Haram, hal.14
[4]Itu adalah komentar Farid Nu’man setelah membawakan “tazkiyah” Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Al-Albany Rahimahumallah terhadap Qaradhawy, gembong besar Ikhwanul Muslimin. Adapun Firanda? Apakah dia juga akan “tega” mencecar Salafiyyin dengan ucapan:” “Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226). “Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225 ).”Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..”(ibid, hal.224). Dan tentu saja Firanda akan menjustifikasi pendapatnya dengan pernyataan:”Jika para ulama kibar yang memberikan rekomendasi saja bisa keliru dan salah, (apalagi) para ulama yang notabene mereka adalah murid-murid para ulama kibar tersebut tentunya kemungkinan untuk salah dan keliru lebih besar lagi”(ibid, hal.234-235). Lalu dimana Al-Haq itu berada wahai Firanda kalau setiap perbedaan pendapat ternyata “engkau bungkam” dengan kaidah “Khilafiyyah Ijtihadiyyah”mu?! Allahul Musta’an.
[5]Lihatlah wahai saudaraku ungkapan kemenangan dan “terima kasih” kaki tangan Ihya’ At-Turots Indonesia kepada Abdullah Taslim dkk di situs mus$$$.or.$$
Andi Muhammad Arief
April 12th, 2006 10:31
38
Ba’da Tahmid, Tsana’ wa Sholah, saya adalah muwadhof di Jam’iyah Ihya Turots Islamy (JITI) Maktab Indonesia dan silahkan anda-anda semua membaca AD/ART nya sehingga akan tahu bagaimana itu JITI. Jazakumullah ya Ustadz Abdullah Taslim atas perjuangan menegakkan Islam diatas manhaj yang benar. Saya berani bersumpah atas nama Allah bahwa Manhaj SALAF / Ahlussunnah adalah manhaj yang benar dan selamat.(Mus$$$.or.$$, Komentar no.38 atas artikel:Menjawab Tudingan Pada Dakwah Salafiyah)
Sebagai bukti lain bentuk “terima kasih” terhadap Ihya’ At-Turats adalah diundangnya perwakilan resmi Ihya’ At-Turats dalam daurah-daurah Masyaikh yang diadakan oleh Ma’had Al-Irsyad ustadz Abdurrahman Tamimi. Nama-nama mereka adalah: Yusuf Utsman Ba’isa http://img95.imageshack.us/img95/4715/alsofwaqx0.jpg , Asas el-Izzi Makhis dll.
Bukti daftar peserta menyusul insya Allah.
[6]Bukankah ucapan imam besar Ahlus Sunnah ini yang engkau bantah dengan kalimat-kalimat imajinermu wahai Firanda?! Maka siapakah yang lebih pantas untuk kami ikuti dan kami teladani? Beliau rahimahullah…ataukah dirimu wahai “mujtahid” kesiangan?

Comments are closed.