Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.
penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

Jafar Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri Bag.3

bismillahirrohmanirrohim

Ja’far Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri (bag.3)

[JA’FAR SALIH CORONG & CENTENG PENYESAT UMAT]

top

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Firman Allah Ta’ala:

وَلا تَرْكَنُوْا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لا تُنْصَرُوْنَ. (هود: 113)

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zhalim sehingga kalian akan dibakar oleh api neraka dalam keadaan kalian tidak memiliki pelindung-pelindung dari adzab Allah dan kalian tidak akan ditolong.” (QS. Huud: 113)

Maksudnya adalah cenderung kepada orang-orang yang suka menzhalimi manusia pada darah, harta dan kehormatan mereka, atau menzhalimi mereka dengan berbagai bid’ah dan kesesatan serta menyebarkan seruan-seruan yang membahayakan Islam, dan semisalnya.

Janganlah engkau cenderung kepada salah seorang pun dari mereka. Jangan menolong dan jangan membantunya melakukan kebathilannya. Ayat ini mencakup semua jenis ini. Semua pembawa kebathilan adalah orang yang zhalim, semua mubtadi’ adalah orang yang zhalim dan semua orang yang merusak kehormatan kaum muslimin adalah zhalim. Maka janganlah engkau cenderung kepada salah seorang dari mereka sehingga engkau disentuh api neraka. Karena sesungguhnya ketika engkau cenderung kepada orang yang fasik, atau kepada seorang mubtadi’ yang sesat atau kepada orang yang zhalim yang merusak kehormatan manusia dan hal-hal yang dijaga kesuciannya oleh syariat, maka engkau seakan-akan ridha, membantu dan mendukungnya. Maka seorang mu’min hendaknya berhati-hati jangan sampai terjatuh pada kecenderungan yang membinasakan seperti ini.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ لا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيْلاً * إِذاً لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيْراً. (الاسراء: 74-75)

“Dan seandainya Kami tidak mengokohkan hatimu, niscaya engkau hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, Kami benar-benar akan merasakan kepadamu siksaan berlipat ganda di dunia ini dan begitu pula siksaan berlipat ganda sesudah mati, dan engkau tidak akan mendapat seorang penolongpun dari adzab Kami.” (QS. Al-Isra’: 74-75)

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi was salam: “Sedikit saja.” Maka seorang mu’min hendaknya berhati-hati jangan sampai melakukan kecenderungan semacam ini, dan bisa jadi hal itu menjadi salah satu sebab kebengkokan dan kesesatan -kita berlindung kepada Allah Ta’ala-.

Allah berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوْا أَزَاغَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ وَاللهُ لا يَهْدِيْ الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ. (الصف: 5)

“Maka tatkala mereka berpaling (kepada kesesatan) maka Allah pun memalingkan hati mereka, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. Ash-Shaff: 5)

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu dia bercerita:

كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ: أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ r يَذْكُرُ الْفِتَنَ؟ فَقَالَ قَوْمٌ: نَحْنُ سَمِعْنَاهُ. فَقَالَ: لَعَلَّكُمْ تَعْنُوْنَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِيْ أَهْلِهِ وَجَارِهِ؟ قَالُوْا: أَجَلْ. قَالَ: تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ r يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوْجُ مَوْجَ الْبَحْرِ؟ قَالَ حُذَيْفَةُ: فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ: أَنَا. قَالَ: أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوْكَ. قَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ r يَقُولُ: تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوْبِ كَالْحَصِيْرِ عُوْدًا عُوْدًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيْهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيْهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيْرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوْزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.

“Kami berada di sisi Umar, lalu dia berkata: “Siapakah diantara kalian yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘‘alaihi wasallam menyebutkan fitnah?” Mereka menjawab: “Kami pernah mendengarnya”. Umar berkata: “Mungkin yang kalian maksud adalah fitnah seseorang pada keluarga dan tetangganya?” Mereka menjawab: “Ya”. Dia berkata: “Fitnah itu bisa dihapus dengan shalat, puasa dan shadaqah. Akan tetapi siapa diantara kalian yang mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan?” Hudzaifah berkata: “Orang-orang diam, maka saya berkata: “Saya pernah mendengarnya”. Umar berkata: “Engkau, alangkah baiknya.” Hudzaifah berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah akan ditampakkan kepada hati seperti tikar seutas demi seutas, hati mana saja yang menerimanya akan diberikan titik hitam dan hati mana saja mengingkarinya akan diberi titik putih, sehingga menjadi dua hati: hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada, dan hati yang hitam seperti periuk yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.” (HR Muslim dan selainnya)

Maksud sabda beliau: “Hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada.” Yaitu dengan pengokohan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengokohkannya dengan sebab dia menolak kebathilan, menolak syahwat dan menolak syubhat.

Fitnah terkadang sifatnya duniawi, yaitu fitnah syahwat yang bisa membinasakan. Dan terkadang berupa fitnah syubhat dan berbagai bid’ah serta kesesatan dan yang semisalnya. Ini bisa menyebabkan orang yang tertimpanya seperti yang disebutkan di dalam hadits: “Dan hati yang hitam seperti periuk yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar.”

HAL INI PERMULAANNYA ADALAH DENGAN CENDERUNG KEPADA AHLUL BATHIL DAN MEMBANTU MEREKA. KETIKA ITU MUNCUL TITIK HITAM DAN MELUAS SETIAP KALI DIA CONDONG KEPADA KEBATHILAN DAN SETIAP KALI MEMBELA PARA PENGUSUNG KEBATHILAN DAN PARA PENYESAT, HINGGA HATINYA TERBALIK -KITA BERLINDUNG KEPADA ALLAH- SEHINGGA MENJADI SEPERTI PERIUK TERBALIK JIKA BAGIAN ATASNYA DIBALIK KE BAWAH, AIRNYA DIBUANG SEMUA HINGGA TIDAK TERSISA SETETES PUN. HATINYA MENJADI SEPERTI INI, KETIKA DIBACAKAN AL-QUR’AN, HADITS DAN NASEHAT, DIA TIDAK MENERIMANYA SEDIKIT PUN. ENGKAU BACAKAN AYAT-AYAT, DALIL-DALIL DAN BERBAGAI BUKTI KEBENARAN, DIA TIDAK MAU MENGIKUTINYA. KENAPA DEMIKIAN?! KARENA HATINYA TERBALIK AKIBAT TERBALIK TOTAL HINGGA KEADAANNYA SAMPAI TAHAP SEPERTI INI YANG HITAM, GELAP DAN MEMBINASAKAN. KITA BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARINYA.

MAKA HATINYA PUN MENJADI TIDAK MENGENAL YANG MA’RUF DAN TIDAK PULA MENGINGKARI KEMUNGKARAN KECUALI YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSUNYA. INI MERUPAKAN AKIBAT PENYIMPANGAN DAN KETERBALIKAN YANG WAJIB SEORANG MUSLIM UNTUK MEWASPADAINYA DAN MEMOHON KEPADA ALLAH TA’ALA SETIAP SAAT AGAR MENGOKOHKAN HATINYA DI ATAS AGAMA-NYA YANG BENAR.”(1) -selesai perkataan Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah-

Jadi ucapan orang yang mengatakan: “Kalian tidak akan ditanya tentang ahli bid’ah atau tentang Al-Maghrawy, Al-Ma’riby, Ar’ur, Abdurrahman Abdul Khaliq dan Sayyid Quthb.” INI ADALAH UCAPAN BATHIL DAN DIADA-ADAKAN YANG TIDAK ADA ATSARNYA DARI SALAF KITA YANG SALEH DAN SYUBHAT SEMACAM INI TIDAK DIKENAL OLEH ORANG-ORANG DAHULU YANG INI MENUNJUKKAN KELICIKAN, KELIHAIAN DAN MAKAR JAHAT MEREKA TERHADAP AS-SUNNAH DAN ORANG-ORANG YANG BERPEGANG TEGUH DENGANNYA. MEREKA INGIN MELUCUTI PRINSIP AL-WALA’ WAL BARA’ DARI AGAMA INI DENGAN MENGGANDENG ORANG YANG BERDIRI BERSAMA MEREKA, YANG MEMBELA MEREKA, YANG FANATIK DENGAN MEREKA, SUKA DENGAN FITNAH, DAN PENENTANG ULAMA AS-SUNNAH YANG MEMBELA MANHAJ SALAF. MEREKA AKAN DITANYA TENTANG PENGHINAAN MEREKA TERHADAP AHLUS SUNNAH, KARENA MEMBELA MEREKA MERUPAKAN KEWAJIBAN ATAS AHLUS SUNNAH. MEREKA JUGA AKAN DITANYA KARENA KECONDONGAN MEREKA TERHADAP ORANG-ORANG YANG ZHALIM DAN PARA PENGUSUNG KEBATHILAN ITU.

gbr1

Adapun Salafiyun maka mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan sikap mereka yang menghadang ahli bid’ah, dan mereka meyakini bahwa mentahdzir Ar’ur, Al-Maghrawy, Al-Ma’riby, Abdurrahman Abdul Khaliq serta yang lainnya termasuk konsekwensi al-wala’ wal bara’ yang kita akan ditanya tentangnya. DAN SUNGGUH, MENCELA MEREKA LEBIH KITA SUKAI DAN LEBIH SELAMAT DIBANDINGKAN RASULULLAH ‘ALAHIS SALAM AKAN MENGATAKAN KEPADA KITA PADA HARI KIAMAT NANTI: “KENAPA KALIAN TIDAK MEMBELA AGAMAKU DARI KEJAHATAN PARA PENDUSTA DAN MUBTADI’ ITU?!”

Yahya bin Sa’id Al-Qaththan ditanya: “Tidakkah engkau takut orang-orang yang engkau tinggalkan haditsnya mereka akan menjadi musuhmu di sisi Allah? Beliau menjawab: “Sungguh mereka menjadi musuhku lebih saya sukai daripada Rasulullah shallallahu ‘‘alaihi wa sallam yang menjadi musuhku dengan bersabda: “Kenapa engkau meriwayatkan hadits dariku yang engkau ketahui kedustaannya?!”(2)

Para mubtadi’ yang sesat itu mereka pada hari ini berbicara mengatasnamakan syariat dan menyandarkan berbagai kesesatan kepada agama Ar-Rasul ‘alahis shalatu was salam. Mereka juga mengubah-ubah perkataan dari tempatnya yang sebenarnya dan menipu umat. Maka, tidak boleh diam selama-lamanya bagi siapa saja yang mengetahui keadaan mereka. Sungguh, mereka memusuhimu itu lebih baik dibandingkan Nabi ‘alahis shalatu was salam yang akan menjadi musuhmu, karena engkau tidak mau membela agamanya dari kejahatan bid’ah dan para penyerunya.

Lalu bagaimana dengan orang yang menghadang orang-orang yang memiliki kecemburuan terhadap As-Sunnah yang membela agama Nabi ‘alahis salam dari berbagai kesesatan dan penyimpangan, di mana dia mencela dan menghina mereka, namun justru membela orang-orang yang zhalim?

gbr2

Asy-Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily ditanya:

“Bagaimana pendapat Anda terhadap orang yang mengatakan: “Seseorang tidak akan ditanya pada hari kiamat nanti apakah si fulan adalah seorang mubtadi’ atau apakah engkau telah mentahdzirnya?”

Jawab:

Ini merupakan kesalahan dalam memahami ya ikhwah. Wajib untuk diketahui bahwa kita tidak membicarakan si fulan karena dia adalah si fulan, tetapi hanyalah karena bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama ini dan mendiamkan pelakunya akan menjadikan bid’ah itu tersebar. Berbagai bid’ah itu menyebar sehingga manusia tertipu dengannya. Oleh karena itulah, seandainya seorang mubtadi’ menyembunyikan bid’ahnya dan kita tidak mengetahuinya serta dia sendiri tidak menampakkannya di tengah-tengah manusia, kita tidak akan mencari-cari apakah dia melakukan kebid’ahan atau tidak. Oleh karena inilah, pertanyaan semacam ini tidak akan dikatakan kecuali oleh seseorang yang tidak memahami kenapa kita berbicara. Jadi, engkau akan ditanya pada hari kiamat nanti tentang kemungkaran yang engkau mampu merubahnya namun engkau tidak berusaha mengubahnya. Dan termasuk kemungkaran tersebut adalah menyebarnya berbagai bid’ah yang dibawa para pengusungnya atau oleh sebagian manusia, na’am.

Dari kaset “Amalus Salaf fil Yaum wal Lailah” oleh Asy-Syaikh Sulaiman bin Salimillah Ar-Ruhaily (pada menit ke 32 detik 20 hingga menit ke 33 detik 42 -pent)

Dengarkan pada link berikut: http://goo.gl/SRLu9

Suara beliau selengkapnya bisa didownload di: http://goo.gl/2H3Id (pent)

اللهم سلم سلم والله أعلى وأعلم وأصلي على نبينا وأسلم.

Abu Jamilirrahman

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=105611

======

(1)   Ats-Tsabaat alas Sunnah, oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah.

(2)   Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam Al-Madkhal Ila Ash-Shahih (1/160-161) dan Abu Nu’aim di dalam Al-Mustakhraj Ala Shahih Muslim (1/53) serta Al-Khathib di dalam Al-Kifayah hal. 44. Yang bertanya kepada beliau adalah Abu Bakr bin Khallad. (pent)

(bersambung insya Allah)

Artikel terkait:

Jafar Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri Bag.2

Jafar Shalih Menggali Lubang (Fitnah) Kuburnya Sendiri Bag.1

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>