Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

Pembelaan Terhadap Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari Hafizhahullah (Membongkar Kekurangajaran Si Pengobar Fitnah Sha’afiqah Abdullah al-Ahmad dkk. yang Berhilahkan Tulisan Asy-Syaikh Rabi’ untuk Melawan Asy-Syaikh Rabi’)

bismillahirrohmanirrohim

PEMBELAAN TERHADAP ASY-SYAIKH ABDULLAH AL-BUKHARI HAFIZHAHULLAH

(Membongkar Kekurangajaran Si Pengobar Fitnah Sha’afiqah Abdullah al-Ahmad dkk. yang Berhilahkan Tulisan Asy-Syaikh Rabi’ untuk Melawan Asy-Syaikh Rabi’)

Asy-Syaikh Abu Ammar Ali al-Hudzaify hafizhahullah

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:

Saya menjumpai tanggapan dari Abdullah al-Ahmad dan seseorang yang lain yang bernama Nashir Zakary yang keduanya mengomentari perkataan asy-Syaikh al-Fadhil Profesor Abdullah al-Bukhary, dua orang tersebut membawa komentar yang penuh keanehan.

📛 Pertama: Berkaitan dengan Abdullah al-Ahmad dan Abu Usamah al-Kury al-Maghriby keduanya tidak kita kenal kecuali dalam fitnah ini, dan termasuk perkara yang menyedihkan adalah kita menjumpai kedua orang tersebut mengobarkan fitnah dan membuang sejauh-jauhnya berbagai nasehat para ulama yang isinya memperingatkan agar tidak mengobarkan api fitnah diantara para penuntut ilmu.

Abdullah al-Ahmad menceburkan diri ke dalam fitnah ini dengan kezhaliman, sok pintar, dan kurang ajar terhadap para ulama dan masyayikh yang mulia.

1⃣ Dia menentang tazkiyah asy-Syaikh Rabi’ kepada murid-murid dan orang-orang kepercayaan beliau, ketika asy-Syaikh Rabi’ mentazkiyah beberapa orang murid beliau dan membela mereka –dalam keadaan asy-Syaikh Rabi’ dan murid-murid beliau semuanya tinggal di Madinah– sedangkan Abdullah al-Ahmad muncul dari Riyadh, dia memastikan bahwa tazkiyah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan dia mengatakan, “Sesungguhnya tazkiyah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka di sisi Allah.” Demi Allah, ini merupakan kelancangan yang sangat aneh dari orang ini, kita memohon perlindungan kepada Allah.

2⃣ Diantara keanehannya adalah dia menanggapi asy-Syaikh Profesor Doktor Abdullah al-Bukhary(1) tentang penukilan beliau dari Ibnu Aun rahimahullah berkata, “Saya telah menasehati al-Hasan dalam masalah taqdir, dan tidak ada yang bersama saya dan beliau selain Humaid ath-Thawil, lalu beliau berkata, ‘Apakah kalian berdua tidak sependapat?!’ Maka saya terus menasehati beliau hingga saya mengancam akan melaporkan kepada pemerintah, sampai beliau berkata, ‘Saya tidak akan mengulangi lagi.”

Saya katakan: Professor Doktor Abdullah al-Bukhary keliru dalam menyandarkan ucapan tersebut kepada Ibnu Aun, yang benar adalah ucapan Ayyub as-Sikhtiyany, dan itu merupakan kekeliruan kecil yang tidak ada seorangpun yang selamat darinya, tetapi masalahnya mereka mengingkari bahwa al-Hasan keliru dalam masalah taqdir secara mutlak, dan mereka menjadikan masalah ini sebagai kesempatan untuk menganggap asy-Syaikh Profesor Doktor Abdullah al-Bukhary sebagai orang yang bodoh dan mencela beliau –sebagaimana yang akan datang dari ucapan mereka– dan mereka memiliki kepentingan-kepentingan yang ingin mereka raih dengan celaan semacam ini dan berpaling dari fakta bahwa masalah ini terdapat perbedaan pendapat padanya diantara Ahlus Sunnah, dan bahwasanya asy-Syaikh Abdullah al-Bukhary benar ketika menyebutkan tentang al-Hasan al-Bashry bahwa beliau terjatuh pada kesalahan yang berkaitan dengan masalah taqdir, kemudian beliau telah bertaubat darinya.

Para ulama berbeda pendapat tentang al-Hasan al-Bashry apakah benar beliau terjatuh dalam kesalahan pada masalah taqdir atau tidak benar? Beberapa ulama menetapkan bahwa Hasan al-Bashry memang terjatuh dalam kesalahan pada masalah taqdir, sedangkan yang lainnya menafikan hal itu, seperti al-Ajurry dalam kitab asy-Syari’ah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Minhajus Sunnah. Sedangkan yang lain ada yang berpendapat pertengahan dengan mengatakan bahwa muncul dari beliau kesalahan dalam masalah taqdir kemudian beliau bertaubat darinya, seperti pendapat al-Imam adz-Dzahaby, dan yang berpendapat seperti ini mereka tidak menyandarkan al-Hasan al-Bashry kepada kesalahan dalam masalah taqdir, karena mereka mengatakan bahwa beliau telah bertaubat.

(A) Adz-Dzahaby berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’:
“Saya katakan: Telah berlalu bahwa Al-Hasan menetapkan taqdir berdasarkan beberapa riwayat dari beliau, kecuali hikayat Ayyub dari beliau, mungkin itu ketergelinciran dari beliau dan beliau telah bertaubat darinya, walhamdu lillah.”(2)

(B) Adz-Dzahaby berkata dalam Tarikhul Islam:
“Abdur Razzaq berkata dari Ma’mar dari Qatadah dari al-Hasan beliau berkata, “Kebaikan terjadi karena taqdir, sedangkan keburukan tidak karena taqdir.” Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ali al-Abar dalam kitab Tarikh-nya dia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muammal bin Ihab, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq.” Saya (Adz-Dzahaby) katakan: Inilah perkataan yang diucapkan oleh al-Hasan, kemudian beliau sadar, rujuk, dan bertaubat darinya.”(3)

(C) Adz-Dzahaby berkata dalam Mizanul I’tidal:
“Al-Hasan bin Yasar, maula al-Anshar, pemimpin Tabi’in di masanya di Bashrah, beliau tsiqah, hujjah, dan teladan dalam ilmu dan amal, tinggi kedudukannya, dan telah muncul dari beliau ketergelinciran dalam masalah taqdir yang tidak beliau sengaja sehingga orang-orang ada yang mencela beliau, namun ucapan mereka tidak dipedulikan karena ketika diklarifikasi beliau berlepas diri darinya.”

Guru kita asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah dalam kitab adz-Dzari’ah Ila Bayan Maqashid asy-Syari’ah:
“Al-Hasan al-Bashry termasuk salah satu imam besar dalam Islam, termasuk cendikiawan mereka, dan termasuk tokoh mulia mereka, radhiyallahu anhu, tetapi kelompok Qadariyyah menyandarkan kepada beliau bahwa beliau sependapat dengan mereka dalam masalah menafikan taqdir, mereka menganggap beliau termasuk mereka, dan mereka menyebarkan isu dari beliau bahwa beliau termasuk mereka, dan ini bisa jadi merupakan kedustaan dari mereka, sedangkan sebagian Ahlus Sunnah berpendapat bahwa hal itu muncul dari beliau namun beliau telah bertaubat darinya.”(4)

Saya katakan: Termasuk yang menguatkan pendapat bahwa beliau terjatuh dalam kesalahan pada masalah taqdir kemudian bertaubat darinya, apa yang diriwayatkan oleh al-Firyaby dalam kitab al-Qadr dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub dia berkata, “Saya telah menasehati al-Hasan dalam masalah taqdir, dan tidak ada yang bersama saya dan beliau selain Humaid ath-Thawil, lalu beliau berkata, ‘Apakah kalian berdua tidak sependapat?!’ Maka saya terus menasehati beliau hingga saya mengancam akan melaporkan kepada pemerintah, sampai beliau berkata, ‘Saya tidak akan mengulangi lagi.”(5)

Sanadnya shahih sesuai dengan syarat al-Bukhary dan Muslim.

Diriwayatkan juga oleh al-Fasawy dalam kitab al-Ma’rifah wat Tarikh dan Abu Zur’ah ad-Dimasyqi dalam Tarikh Dimasyq, keduanya dari Hammad, dari Ayyub.

Maka, apa kesalahan pada perkataan Profesor Doktor Abdullah al-Bukhary, sementara sebagian ulama Ahlus Sunnah ada yang berpendapat demikian?!

Apakah Profesor Doktor Abdullah al-Bukhary membawa ucapan yang diada-adakan?!

Adapun pendalilan dengan ucapan Ayyub bin Abi Tamimah as-Sikhtiyany, “Ada dua jenis manusia yang berdusta atas nama al-Hasan: orang-orang yang mengingkari taqdir dengan tujuan untuk menjajakan keyakinan mereka kepada manusia dengan menggunakan nama al-Hasan, dan orang-orang yang memendam kedengkian dan kebencian kepada al-Hasan. Saya sendiri beberapa kali menasehati beliau dalam masalah taqdir hingga saya mengancam akan melaporkan beliau kepada pemerintah, lalu beliau berkata, ‘Saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi setelah hari ini.’ Maka saya tidak mengetahui seseorang yang bisa mencela al-Hasan kecuali dengan hal itu, dan saya telah berjumpa dengan al-Hasan –demi Allah– dan beliau ternyata tidak mengatakannya.”

Riwayat ini jika shahih dari Ayyub as-Sikhtiyany maka dibawa kepada makna bahwa beliau memaksudkan orang-orang yang menyebarkan isu dari al-Hasan ada dua jenis:

(1) Kelompok Qadariyyah yang menyebut bahwa al-Hasan termasuk mereka, dengan tujuan untuk menguatkan bid’ah mereka, padahal al-Hasan tidak demikian, tetapi hanya tergelincir dan beliau telah bertaubat darinya.

(2) Orang-orang yang ingin menjatuhkan nama baik al-Hasan.

Dan tidak diragukan lagi bahwa Ahlus Sunnah tidak termasuk jenis ini atau jenis itu, karena mereka menyebutkan bahwa beliau pernah tergelincir dalam masalah taqdir namun kemudian telah bertaubat darinya, dan mereka menyebutkan hal itu sebagai bentuk pembelaan terhadap beliau.

3⃣ Diantara sikap sok pintar dari Abdullah al-Ahmad adalah ucapannya, “Termasuk hal yang aneh adalah diam tidak membantah seorang Khawarij mubtadi’ (Hani bin Buraik), bahkan membelanya dan menggembosi orang-orang yang mentahdzirnya.”

Saya katakan: Abdullah al-Ahmad mulai melakukan apa yang dia inginkan berupa celaan terhadap asy-Syaikh Doktor Abdullah al-Bukhary, padahal sikap asy-Syaikh Doktor Abdullah al-Bukhary terhadap Hani bin Buraik bagus, beliau telah mengirim sebuah surat kepada salah seorang ikhwah yang isinya menjelaskan bahwa beliau tidak setuju dengan sebagian masyayikh yang mencabut kembali jarh terhadap Hani bin Buraik, mungkin kami akan menyebutkannya pada tulisan yang lain insyaallah.

Dan saya katakan kepada orang yang sok pintar ini: Sesungguhnya Hani bin Buraik yang sedang kalian bicarakan ini dahulu syaikhmu (asy-Syaikh Muhammad bin Hady) termasuk orang-orang yang membela dia, dan beliau secara jelas menyampaikan kepada para tamu beliau bahwa beliau tidak ridha dengan celaan asy-Syaikh Ubaid terhadapnya, dan beliau tidak mencabut pujian dan pembelaan terhadapnya kecuali belakangan ini, setelah sekian lama kami mentahdzir Hani bin Buraik, para saksi ada dan sebagian dari kalian ada yang mengetahui hal ini dengan baik.

Para ikhwah di Aden memiliki sikap yang terpuji terhadap Hani bin Buraik, walaupun demikian mereka tidak selamat dari serangan brutal kalian, sehingga ini termasuk perkara yang menguatkan bahwa tujuan kalian sebenarnya bukanlah Hani bin Buraik.

Banyak orang yang menyerang Hani bin Buraik bukan bertujuan untuk mencela penyimpangan-penyimpangan Hani bin Buraik, tetapi mereka ingin mencapai tujuan-tujuan yang rendah, mereka dahulu telah menyerangnya secara brutal sebelum dia berubah, dan ketika Hani bin Buraik mulai berubah, bersama dia ada orang-orang lain yang berubah dengan perubahan yang sama atau lebih parah dibandingkan dengan dia, namun kita menjumpai serangan-serangan itu hanya ditujukan kepada Hani saja. Sikap tebang pilih dalam membantah kesalahan semacam ini tidak akan dilakukan kecuali oleh ahlul bid’ah dan orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, adapun orang-orang yang ikhlas maka mereka membantah kesalahan karena Allah –sesuai dengan kemampuan– tanpa tebang pilih dan basa-basi.

Adapun kami maka kami tidak bersikap tebang pilih –walhamdu lillah– sebagaimana kalian bersikap tebang pilih dengan kezhaliman dan hawa nafsu, buktinya sikap kalian terhadap Muhammad al-Imam hingga sekarang adalah sikap yang sangat hina*, dan kalian tidak mampu untuk menunjukkan sikap apapun!!

TENTANG MENGANGKAT KASUS KEPADA PEMERINTAH

4⃣ Diantara bentuk sok pintar dari Abdullah al-Ahmad mengomentari perkataan asy-Syaikh Abdullah al-Bukhary dengan mengatakan, “Mengangkat urusan kepada pemerintah menurut salaf dalam urusan agama tujuannya adalah untuk menghancurkan bid’ah dan para pengusungnya, bukan untuk kepentingan-kepentingan pribadi.”

Saya katakan: Mengangkat permasalahan kepada pemerintah ada dua macam:

1. Orang-orang yang mengikuti kebatilan mengangkat perkara mereka kepada pemerintah untuk membela kebatilan mereka.

2. Orang yang terzhalimi mengangkat perkaranya kepada pemerintah dengan tujuan untuk mengembalikan hak-haknya dan mencegah orang lain agar tidak berbuat jahat kepadanya.

Kemudian, apakah mengangkat perkara kepada pemerintah hanya untuk urusan agama saja?!

Lalu buat apa dibentuk pengadilan-pengadilan dalam syari’at jika demikian?!

Bukankah untuk memutuskan perkara dalam sengketa yang berkaitan dengan urusan darah, harta, kemaluan, kehormatan, dalam masalah jual beli, sewa menyewa, pernikahan, perceraian, pailit, warisan, kriminal, qishash, diyat, dan lain sebagainya?!

Apakah diperbolehkan untuk mengadukan perkara kepada hakim untuk menyelesaikan sengketa dalam urusan uang senilai 100 riyal atau yang semisalnya, namun tidak diperbolehkan untuk saling mengadukan perkara untuk membela kehormatan?!

Jika seseorang yang terkenal dan didengar ucapannya melemparkan tuduhan zina kepada seseorang yang tidak bersalah tanpa hujjah dan bukti apapun, dan tuduhan itu direkam dan disebarluaskan oleh para pengikutnya secara zhalim dan penuh permusuhan, lalu orang-orang dungu mencela orang-orang yang tidak bersalah gara-gara tuduhan tersebut dan berdalih dengan ucapannya ketika melontarkan celaan mereka, dan para ulama kibar telah menasehatinya namun dia tidak menerima nasehat mereka, dan mereka telah mengingatkannya dengan adzab Allah namun tetap saja tidak menggubris, dan mereka telah memintanya untuk menunjukkan bukti-bukti namun dia tidak menunjukkan apa-apa, kemudian dia masih bisa untuk meninjau kembali perkaranya dan membuat ridha hati orang-orang yang dia cela, namun dia tidak melakukan apapun, maka ketika itu termasuk hak pihak yang dituduh untuk menuntut si penuduh agar menunjukkan bukti di hadapan pengadilan. Jadi ini merupakan haknya, jika dia menginginkan dia boleh menuntutnya, dan jika menginginkan dia boleh untuk memaafkannya, DAN INI BERDASARKAN IJMA’, dan tidak ada yang menyelisihi hal semacam ini kecuali orang-orang bodoh.

Al-Buhuty (Manshur bin Yunus) berkata dalam kitab ar-Raudh al-Murbi’ yang merupakan salah satu dari kitab-kitab fiqih dalam madzhab Hambali:

وهو –أي: حد القذف– حق المقذوف، فيسقط بعفوه، ولا يقام إلا بطلبه.

“Dan hal itu –maksudnya: hukuman hadd terhadap perbuatan menuduh zina– merupakan hak pihak yang dituduh, jadi bisa gugur dengan pemaafannya, dan tidak bisa ditegakkan kecuali dengan permintaannya.”

Maksudnya: hukuman hadd terhadap penuduh tidak bisa ditegakkan kecuali jika pihak yang dituduh mengadukan kepada hakim.

Ini merupakan pendapat dalam madzhab Syafi’i dan Hanbali, dan yang lebih nampak dalam madzhab Maliki, adapun dalam madzhab Hanafi dan Zhahiri mereka berpendapat bahwa hal itu tidak gugur walaupun dengan pemaafan, karena itu merupakan hak Allah Ta’ala.

Dan terkadang seseorang berbuat jahat terhadap orang lain dengan selain tuduhan zina, seperti dengan mencaci maki, dan menzhalimi orang-orang yang tidak bersalah tanpa alasan apapun, yang semacam ini tidak masalah bagi orang yang mengangkat perkaranya kepada hakim.

Namun anehnya kalian justru diam tidak membantah pihak yang menuduh dan mencela pihak yang terzhalimi karena dia menuntut haknya!!

Dan termasuk sikapmu menolong perbuatan dosa dan permusuhan adalah engkau mengulang-ulang tuduhan zina yang dilakukan oleh selainmu tersebut dengan engkau mengatakan, “Bahkan yang lebih aneh dari itu adalah membuat kaidah-kaidah untuk membela orang-orang fasik dan fajir untuk mengadukan para ulama yang baik.”

Jadi kalian menggegerkan dunia dan tidak menenangkannya untuk menyerang Nizar Hasyim ketika beliau menulis bantahan terhadap salah seorang masyayikh (asy-Syaikh Muhammad bin Hady), namun ketika kehormatan orang-orang yang tidak bersalah dihancurkan dengan tuduhan zina maka kehormatan itu tidak ada nilainya menurut kalian, bahkan kalian membantu menyebarluaskan rekaman yang berisi tuduhan tersebut.

📛 Kedua: Berkaitan dengan Nashir Zakary

Yang aneh datang orang lain yang sok pintar –yang bernama Nashir Zakary– mengomentari ucapan temannya Abdullah al-Ahmad dengan ucapan yang mengherankan yang merendahkan dan meninggikan, dia merendahkan asy-Syaikh Profesor Doktor Abdullah al-Bukhary dan mengangkat temannya yang sok pintar Abdullah al-Ahmad.

Diantara ucapan Nashir Zakary, “Menyandarkan kesalahan dalam masalah taqdir kepada al-Hasan merupakan kesalahan fatal.”

Saya katakan: Apakah al-Imam adz-Dzahaby –di tiga tempat dalam kitab-kitab beliau– dan asy-Syaikh Rabi’ terjatuh dalam kesalahan fatal, wahai orang yang perlu dikasihani?!

Nashir Zakary juga mengatakan, “Mungkin asy-Syaikh al-Bukhary tidak mengerti apa maksud nasehat Ayyub kepada al-Hasan.”

Dia juga mengatakan, “Sekarang asy-Syaikh al-Bukhary digabungkan dengan orang-orang yang menuduh al-Hasan mengingkari taqdir, jadi dia salah satu dari dua jenis, saya khawatir dia termasuk salah satu dari keduanya, tetapi mungkin saya tambahkan jenis yang ketiga, yaitu orang yang tidak menelaah riwayat tersebut secara menyeluruh, sehingga dia menjadi orang yang berbicara ngawur.”

Jadi maksudnya Nashir Zakary ingin menggabungkan asy-Syaikh al-Bukhary dengan orang-orang yang menuduh al-Hasan dengan masalah taqdir dari dua jenis yang telah disebutkan itu dari kelompok ahli bid’ah Qadariyyah atau dari orang-orang yang dengki terhadap al-Hasan al-Bashry, namun nampak bagi “yang mulia” Nashir Zakary untuk menjadikan asy-Syaikh al-Bukhary jenis yang ketiga secara khusus, yaitu jenis orang yang berbicara ngawur karena tidak menelaah riwayat tersebut secara menyeluruh.

Bagaimana Nashir Zakary bisa sedemikian lancang mengarahkan ucapan kepada asy-Syaikh Profesor Doktor al-Bukhary dengan bahasa semacam ini yang menunjukkan sifat sok pintar?!

Nashir Zakary juga mengatakan tentang asy-Syaikh Profesor Doktor al-Bukhary, “Dia menyandarkan kesalahan dalam masalah taqdir kepada al-Hasan, ini kesalahan besar darinya, kenapa dia tidak hati-hati dan terburu-buru, mungkin perkara muncul akibat bicara spontan, atau ingin membenarkan perbuatan seseorang dengan cara membawakan sebuah kisah tanpa terkendali!”

Nashir Zakary juga menyebutkan bahwa dia memiliki catatan-catatan lain yang akan dia tulis seandainya bukan karena dia sedang safar.

Maka segala puji bagi Allah yang masih memberikan keselamatan (dari kejahatannya).

 

NASEHAT TERAKHIR

Nasehat saya kepada mereka hendaklah menghentikan fitnah dan jangan menyibukkan orang lain dengan bualan-bualan mereka!!

Apa lagi yang ditunggu setelah penjelasan para ulama kibar dan setelah nampaknya hakekat?!

Apa maksudnya masih berdiri bersama pihak yang menyebut orang-orang yang mulia sebagai “sha’afiqah”, menghancurkan mereka sehancur-hancurnya, dan menjadikan orang-orang dungu berani kurang ajar terhadap mereka?!

Berdiri di pihak tersebut artinya:

1⃣ Bersikap buruk terhadap para ulama besar yang kalian cela murid-murid mereka dan orang-orang kepercayaan mereka tanpa bukti. Dan perkaranya sampai mereka mengatakan bahwa asy-Syaikh Rabi’ ditipu oleh sha’afiqah, beliau tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar beliau, dan beliau telah tua dan lemah. Sedangkan asy-Syaikh Ubaid telah menjadi mainan di tangan sha’afiqah, dan beliau dikepung oleh sha’afiqah sehingga mereka menjadi pendengaran dan penglihatan beliau.

2⃣ Mengobarkan perpecahan diantara orang-orang yang mulia, dan kita telah melihatnya sendiri.

3⃣ Menyerang masyayikh yang lain, sebagaimana kita membaca dari serangan-serangan mereka terhadap asy-Syaikh Abdullah al-Bukhary yang mereka sebut sebagai “kepala ular berbisa”, dan asy-Syaikh Abdullah Shalfiq yang mereka sebut sebagai pendusta, pengkhianat, dan tidak punya malu. Demikian juga yang lain tidak selamat dari serangan mereka.

4⃣ Mengangkat orang-orang baru yang –demi Allah– kita tidak mengenal mereka sebagai orang-orang yang menginginkan kebaikan dan memiliki sikap-sikap yang terpuji dalam fitnah-fitnah yang lalu.

Inilah kerusakan-kerusakan yang muncul akibat menyebut orang-orang yang mulia sebagai sha’afiqah, sekian lama berlalu orang-orang yang mulia tersebut diam karena menghormati para ulama, karena para masyayikh kibar mengatakan, “Diamlah jangan membantah walaupun satu kata!” Sementara mereka justru terus berbicara.

Banyak orang yang mengetahui kerusakan-kerusakan tersebut, hanya saja sebagian mereka jika mengetahui seseorang terkenal, atau memiliki pengikut banyak, dia tidak berani membantah karena takut kepadanya atau kepada pengikutnya yang berada di banyak tempat, atau karena sungkan kepadanya, kemudian dia menutupi sikap diamnya dengan pakaian hikmah dan memperhatikan maslahat.

Hikmah dan maslahat macam apa ini, sementara engkau melihat saudara-saudaramu yang terzhalimi terus dizhalimi di hadapan matamu, bahkan kehormatan mereka dicela dan dituduh dengan berbagai kedustaan, lalu engkau tidak menolong mereka walaupun hanya dengan satu kata?!

Bahkan sebagian orang-orang yang hina lebih jauh lagi sikapnya dengan berdiri di pihak yang zhalim dengan dalih membela ulama, padahal dia berada di lembah sedangkan membela ulama di lembah yang lain (sangat jauh perbedaannya -pent)!!

Jadi perkara-perkara ini solusinya adalah dengan mengambilkan hak orang yang lemah (yang terzhalimi) dari orang yang kuat (yang menzhalimi), sehingga kita tidak akan mengorbankan kehormatan orang-orang yang tidak bersalah semata-mata karena si fulan yang menzhalimi memiliki jasa besar yang tidak boleh dilupakan!!

Berapa banyak al-Hajury dan para pengikutnya berbuat jahat terhadap orang-orang yang tidak bersalah, sementara sebagian orang menghadapinya dengan sikap diam yang aneh dan sikap dingin yang hal itu hanya mendorongnya untuk semakin berbuat zhalim!!

Al-Hajury pernah melemparkan kedustaan terhadap kami dengan beberapa hal, dan kedustaannya tersebut dia sebutkan dalam sebuah kaset, dan sebagian pengikutnya menyebarluaskan di berbagai tempat, maka saya pergi mendatangi salah seorang masyayikh di Yaman dan saya jelaskan kasusnya kepadanya, dan bahwasanya apa yang disebutkan oleh al-Hajury adalah kedustaan yang tidak ada buktinya, dan saya tunjukkan kepadanya sebagian rekaman ceramah saya yang membantah habis ucapan al-Hajury, lalu syaikh tersebut merasa puas dengan penjelasan saya.

Namun anehnya setelah saya tiba di Aden, ketika dia ditanya oleh salah seorang imam masjid, “Apakah kami boleh menerima Ali al-Hudzaify di masjid-masjid kami?” Dia menjawab, “Termasuk maslahat adalah dengan saya tidak menjawab sekarang.”

Jika dalam dakwah salafiyyah tidak ada orang yang menolong orang yang terzhalimi dan menghadang orang yang menzhaliminya, maka dakwah salafiyyah macam apa ini?!

Nasehat yang lain untuk para penulis itu hendaklah mereka meninggalkan sikap melampaui batas (ghuluw) terhadap salah seorang masyayikh, apa makna ucapan mereka ketika menyebut salah seorang masyayikh, “Asy-Syaikh al-Hafizh, al-Allamah…”

Apakah kalian memaksudkan dengan ucapan tersebut bahwa beliau telah mencapai tingkatan al-Hafizh an-Nawawy, atau al-Hafizh Ibnul Qayyim, atau apa?!

Apa sebabnya jika kalian menyebut asy-Syaikh Rabi’ kalian mengatakan, “Asy-Syaikh Rabi’ berkata…” Namun jika kalian menyebut salah seorang masyayikh –yang lebih muda dibandingkan dengan salah seorang putra asy-Syaikh Rabi’– kalian mengatakan, “Asy-Syaikh al-Hafizh al-Allamah…”

Apakah maksud kalian beliau di atas asy-Syaikh al-Albany, asy-Syaikh Rabi’, dan asy-Syaikh Muqbil dalam ilmu hadits?!

Kami –demi Allah– tidak mengatakan gelar tersebut pada para ulama yang lebih berilmu dibandingkan beliau, kami tidak pernah menyebut asy-Syaikh al-Albany dengan gelar “al-Hafizh” selama-lamanya, kami juga tidak pernah menyebut asy-Syaikh Rabi’ dengan gelar “al-Hafizh” selama-lamanya, dan kami tidak pernah menyebut asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’iy dengan gelar tersebut.

Padahal mereka lebih mulia dalam hati kami dan lebih berilmu menurut kami, dan jasa mereka bisa disaksikan dan tersebar luas.

Jika ada yang mengatakan bahwa asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly berkata dalam kitab Tadzkirun Nabihin bi Siyari Salafihim Huffazhil Hadits as-Sabiqin wal Lahiqin, “Dari pemaparan ringkas ini jelaslah bahwa para huffazh yang memiliki perhatian besar terhadap sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak terputus dan tidak akan terputus –insyaallah– dan perhatian terhadap sanad-sanad sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan terus berlanjut dan tidak terputus.”

Maka kita jawab: Ini justru membantah kalian, karena para huffazh (bentuk jamak dari hafizh –pent) yang dimaksud oleh asy-Syaikh Rabi’ adalah orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, jadi beliau tidak membatasi dengan satu orang saja, seperti yang kalian lakukan. Jadi kalian menyebut semuanya dengan gelar al-Hafizh, atau kalian tidak menyebut semuanya dengan gelar al-Hafizh.

Adapun kalian hanya mengkhususkan satu orang saja tanpa yang lain –padahal ada yang lebih berilmu tentang sunnah Nabi dibandingkan dia di negerinya– maka ini termasuk bentuk sikap berlebihan dari sebagian para penuntut ilmu.

Dan sungguh saya –demi Allah– benar-benar mengingkari sejak beberapa tahun yang lalu –bukan sejak sekarang– gelar semacam ini disematkan kepada seorang syaikh, hanya saja sikap berlebihan semakin banyak di hari-hari ini, berlebihan dalam memuji sebagian orang dan menjatuhkan serendah-rendahnya pihak yang lain.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله.

✒️ Ditulis oleh: Abu Ammar Ali bin Husain asy-Syarafy, yang dikenal dengan Ali al-Hudzaify

📆 Selasa, 18 Jumadal Akhirah 1439 H

🖥 Sumber tulisan = https://t.me/dourous_machaikhaden2/4656
⚠️ SELESAI, WALHAMDULILLAH ⚠️

🌐 Channel Telegram = https://t.me/jujurlahselamanya

➖➖➖➖➖➖➖
🅾️ Catatan kaki:

(1) Saya tidak tahu apa sebab tanggapan ini, mungkin beliau juga menurut mereka adalah Sha’afiqah.

(2) Siyar A’lamin Nubala’, 4/583.
Anehnya Abdullah al-Ahmad menukil dari Siyar A’lamin Nubala’ semaunya, dan dia meninggalkan perkataan al-Imam Adz-Dzahaby yang menyebutkan bahwa itu merupakan ketergelinciran dari al-Hasan kemudian beliau bertaubat darinya.

(3) Tarikhul Islam, 7/62.

(4) Adz-Dzari’ah, 2/100-101

(5) Diriwayatkan oleh al-Fasawy dalam kitab al-Ma’rifah wat Tarikh: Telah menceritakan kepada kami Abun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub.

Dan diriwayatkan oleh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi dalam kitab Tarikh Dimasyq dari Yahya bin Mayyah, telah menceritakan kepada kami Affan, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub.

Catatan kaki dari tukpencarialhaq.com:

*Dan memang mereka di sini yang gencar memecah-belah Ahlussunnah dan mengobarkan api fitnah Sha’afiqah adalah orang-orang yang selama ini berafiliasi dengan atau menjadi pembela Mubtadi’ Ikhwani Muhammad al-Imam dengan Watsiqah Kufriyahnya bersama teroris pemberontak Khawarij Syiah Houthi dukungan Iran.

🔆👣🔆👣🔆👣🔆👣🔆
⚔️🛡Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
📠 Channel Telegram: http://telegram.me/tp_alhaq
🌎 http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com
•┈┈•┈┈•⊰✿✒️✿⊱•┈┈•┈┈•

 

 

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.