Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

Bantahan Asy Syaikh Ali Hudzaify Terhadap Hani bin Buraik

BANTAHAN LENGKAP

ASY-SYAIKH ALI AL-HUDZAIFY TERHADAP HANI BIN BURAIK

 

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:

Seandainya saya bersikap basa-basi kepada seseorang dalam urusan agama, tentu saya akan bersikap basa-basi kepada al-Akh Hani bin Buraik, karena antara saya dengan dia terdapat persahabatan yang lama, saya telah berhubungan dekat dengannya selama 3 dekade, dan di masa itu antara dia dengan saya ada kecintaan, penghormatan, dan keakraban, di masa itu saya mengenalnya dengan sikap-sikap yang mulia, diantaranya sikapnya terhadap fitnah Abul Hasan, sikapnya terhadap fitnah al-Hajury, dan sikap terakhirnya yang mulia adalah tentang perang terhadap Hutsiyun di Kitaf, kemudian perang terhadap Hutsiyun di Aden.

Ketika muncul fitnah Watsiqah Muhammad al-Imam, para pengikut Muhammad al-Imam menghadapi watsiqah tersebut dengan sikap fanatik busuk, dan setelah berlalu lebih dari sebulan maka asy-Syaikh Ubaid al-Jabiry mengkritiknya —dan ketika itu kami sedang mengadakan daurah di Indonesia di bulan Syawwal 1435 H—, lalu para pengikut Muhammad al-Imam membantah vonis mubtadi’ terhadapnya dengan bantahan yang tidak bermutu yang menunjukkan kengawuran dan tidak mempedulikan. Lalu Hani bin Buraik mendengar bantahan mereka yang ngawur, maka dia membantah mereka dengan ucapannya yang terkenal itu di Indonesia, namun ketika itu saya mencelanya dengan sebab ucapan dia tersebut, karena ucapan itu lebih banyak merugikan dibandingkan memberi manfaat.

Setelah ucapan Hani di Indonesia tersebut, para fanatikus Muhammad al-Imam membantah Hani bin Buraik, dan mereka mengeluarkan hal-hal lama yang pernah dilakukan oleh Hani bin Buraik, diantaranya yang mereka sebutkan adalah tentang Jum’iyyah asy-Syarurah, tampilnya dia di beberapa foto, dan hal-hal lain yang saya tidak mengetahui sebelumnya. Lalu mereka mentahdzirnya, dan dengan hal inilah telah tamat riwayat Hani bin Buraik menurut orang-orang rendahan itu, padahal para ulama belum berbicara, dan menurut mereka siapa saja yang tidak merasa puas dengan kedunguan mereka itu, maka dia termasuk fanatikus Hani bin Buraik.

Kemudian, orang-orang yang mengurus ma’had Fiyusy melarang para penuntut ilmu dari luar Yaman untuk menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Hani bin Buraik yang menyerukan untuk memerangi Hutsiyun, dan beberapa waktu setelah itu mereka mengusir para penuntut ilmu yang dari luar Yaman dari Fiyusy, dan mereka menyebarkan kedustaan yang masyhur, yaitu bahwasanya Presiden Yaman memerintahkan untuk mengusir para penuntut ilmu dari luar Yaman, dan kami telah menjelaskan dari beberapa sisi —di tempat yang lain— bahwa klaim ini tidak benar secara meyakinkan.

Hani bin Buraik menyampaikan ceramah di masjid ash-Shahabah, namun dia tidak tepat dalam menangani permasalahan, dan cara yang dilakukan oleh Hani mendorong saya untuk keluar dari ceramahnya tersebut dengan berat hati sebelum selesai. Dan pada hari berikutnya ketika kami pergi ke Gubernur Lahj untuk membicarakan tentang urusan para penuntut ilmu dari luar Yaman, terjadi diskusi yang panjang antara saya dengan dia, sampai suara meninggi di dalam mobil, dan diantara yang hadir ketika itu adalah asy-Syaikh Nashir az-Zaidy dan al-Akh al-Fadhil Abdur Rauf Ibad.

Beberapa waktu kemudian muncul darinya beberapa hal yang menyelisihi syari’at, seperti memakai celana panjang yang ketat dan menutupi mata kaki, bermudah-mudahan dalam masalah gambar hingga keluar dari batas darurat atau kebutuhan, dan yang lainnya. Dan kami telah menasehatinya secara pribadi melalui whatsapp, dan kami bertekad untuk menasehati dan berbicara dengannya jika kami berjumpa dengannya, namun kami tidak berjumpa dengan Hani kecuali setelah dia menjabat sebagai menteri, yaitu ketika Hani mengundang kami untuk bertemu dengannya di sebuah tempat. Maka semua Masyayikh pergi ke sana bersama dengan beberapa ikhwah yang lain, dan terjadilah diskusi yang sengit antara saya dengan dia dengan disaksikan oleh ikhwah.

Setelah dia menjabat sebagai menteri, muncullah para fanatikus Muhammad al-Imam berlagak sebagai orang-orang yang menasehati, mereka mentahdzir Hani bin Buraik semata-mata karena Presiden mengangkatnya sebagai menteri, dan mereka membawakan dalil-dalil dan riwayat-riwayat yang melarang dari meminta jabatan, dan mereka tidak membedakan antara meminta jabatan karena ambisi, dengan negara menunjuk seseorang untuk memegang sebuah jabatan karena membutuhkannya, terlebih di saat negara dalam keadaan krisis yang parah dan sedikitnya orang-orang yang bekerja dengan baik, serta banyaknya orang-orang yang mempermainkan keuangan negara.

Mereka juga menyebutkan bahwa masuk ke dalam politik termasuk perbuatan kelompok al-Ikhwanul Muslimun, dan mereka tidak membedakan antara majelis pembuat keputusan yang dalam undang-undangnya bersandar dengan suara mayoritas, dengan sebuah kementerian yang menterinya ditunjuk oleh Presiden untuk mengurusi orang-orang yang luka-luka dalam perang dan yang mati syahid, tanpa ikut campur dalam kegiatan demokrasi.

Jadi bahayanya bukan pada semata-mata pengangkatannya sebagai pejabat, sebagaimana anggapan orang-orang dekat Muhammad al-Imam, tetapi bahaya itu jika Hani datang untuk mengikuti tes atau ujian yang sesungguhnya untuk meraih jabatan, lalu bisa jadi kelayakannya untuk jabatan tersebut terbukti dan dia mengerahkan kemampuannya yang diharapkan oleh negara dan jauh dari kesalahan-kesalahan sebatas kemampuannya, atau bisa jadi dia gagal. Jadi hasilnya akan nampak setelah itu. Sehingga permasalahannya bukan karena menerima jabatan semacam ini, berbeda dengan yang dipahami oleh orang yang tergesa-gesa lalu mentahdzir, dan tahdzir mereka itu menyingkapkan betapa dangkal dan rendah pemahaman mereka.

Beberapa waktu kemudian saudara kami Hani ingin mengajak para pemuda di Aden untuk memerangi ISIS, bahkan dia bersikeras dan beberapa kali mengulangi hal itu, lalu para penuntut ilmu menyanggahnya dengan menyatakan bahwa masalah ini harus pemerintah yang pertama kali memintanya, kemudian yang kedua membutuhkan musyawarah dengan para Masyayikh kita yang mulia. Jadi sebagaimana kita tidak memerangi Hutsiyun kecuali berdasarkan fatwa ulama dakwah salafiyyah, maka demikian juga kita tidak akan memerangi ISIS kecuali berdasarkan fatwa ulama kita. Hanya saja saudara kami Hani tetap bersikeras, dan muncullah kerenggangan antara dia dengan saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah.

Beberapa waktu kemudian kesalahan-kesalahan ini semakin parah, dan diantaranya adalah twit-twitnya dan pembicaraannya di facebook dengan kecenderungan sektarian yang membicarakan tentang Yaman Selatan dan rakyat Yaman Selatan serta tentang pemisahan Yaman Selatan dari Republik Yaman. Juga pujiannya kepada seseorang yang dahulu salafy lalu terfitnah dengan pemikiran takfir dan bergabung dengan ISIS, lalu dia terbunuh bersama ISIS. Hani memujinya bahkan setelah kematiannya, dengan dalih dia dahulu termasuk yang berjihad di Kitaf, dan dia telah bertaubat atau ingin bertaubat dari ISIS.

Maka kami dan para Masayikh yang mulia bermusyawarah, diantaranya Nashir az-Zaidy, Yasin al-Adny, Shalah Kantusy, Zakariyya bin Syu’aib, Abbas al-Jaunah, Munir as-Sa’dy, Abdur Rauf Ibad, Arafat al-Muhammady, dan selain mereka. Lalu kami sepakat untuk menasehatinya dan menunjukkan kesalahan-kesalahan ini kepadanya, dan para Masayikh tersebut menunjuk saya untuk mewakili mereka, maka saya menyerahkan surat yang bernada keras kepadanya pada tanggal 22 Sya’ban 1437 H.

Di awal surat tersebut disebutkan, “Ada beberapa perkara yang kami jumpai dalam urusan dakwah di Aden yang kami menilai bahwa kita harus saling menasehati padanya, karena perkara-perkara tersebut sangat membahayakan dakwah salafiyyah, terlebih di waktu-waktu terakhir ini, dan kami tidak ridha dakwah ditimpa keburukan dari arah manapun.”

Sedangkan di bagian akhir disebutkan, “Maka takutlah kepada Allah dalam urusan dakwah salafiyyah, dan takutlah kepada Allah berkaitan dengan para ikhwah yang perlu dikasihani yang terjatuh ke pangkuan para pengusung kebathilan karena mereka terfitnah oleh sebagian perkara yang mereka lihat muncul darimu atau dari orang lain.”

Namun setelah itu saya tidak menjumpai faedah dari nasehat kepada Hani bin Buraik, maka saya menulis sebuah selebaran kecil yang di dalamnya saya sebutkan bahwa Hani tidak mewakili dakwah salafiyyah, tetapi dia hanya mewakili dirinya sendiri. Dan saya telah menjumpai hal yang sangat menyakitkan dari sebagian orang-orang yang bodoh —semoga Allah memberi hidayah untuk mereka— disebabkan nasehat ini dengan dalih bahwa Hani termasuk pejabat pemerintah.

Maka saya tidak bisa mentahdzir Hani secara menyeluruh, karena termasuk kaidah-kaidah yang kita tempuh sejak awal belajar adalah bahwa tahdzir terhadap orang-orang yang dikenal sebagai salafy hanya hak para ulama.

Maka kami mengangkat kesalahan-kesalahan tersebut kepada Masyayikh kita di Arab Saudi, lalu sebagian Masyayikh menasehatinya, kemudian Hani berhenti dari twit-twitnya selama beberapa waktu.

Dan termasuk sikap-sikap Masyayikh Aden yang terpuji adalah ketika al-Akh Hani ingin mengirim kepada kami bantuan keuangan setiap bulan yang jumlahnya sekitar 2000 Riyal Saudi, dan dia menyebutkan bahwa Masyayikh di Aden membutuhkan bantuan semacam ini untuk menafkahi istri dan keluarga mereka, juga karena kesibukan dakwah mereka. Maka kami berkumpul bersama untuk mendiskusikan masalah ini, lalu kami sepakat untuk menolak tawaran al-Akh Hani bin Buraik dan tidak menerima bantuan darinya.

Kemudian datang berita tentang dipecatnya dia dari jabatan menteri, maka kami mengatakan mudah-mudahan hal itu sebagai sebab dia mau kembali mengajar dan sibuk dengan ilmu. Namun kami dikejutkan dengan berita naiknya dia ke podium dan bergabung bersama orang-orang awam, di samping kemunculannya mengandung sikap melawan pemerintah yang memalukan, sehingga kami merasa sangat terpukul, terlebih lagi gambar-gambar yang menunjukkan peristiwa itu sangat jelas.

Kemudian asy-Syaikh Ubaid al-Jabiry membantah Hani bin Buraik dan menyebutkan bahwa jalan yang dia tempuh sangat buruk. Dan sikap dari asy-Syaikh Ubaid ini ditambahkan pada kamus yang berisi keutamaan-keutamaan mulia dari Masyayikh kita, di mana hal itu menunjukkan bahwa Masyayikh kita tidak bersikap basa-basi kepada siapapun dan mereka berani dengan lantang menyuarakan kebenaran, dan itu merupakan tingkatan yang tidak bisa dicapai oleh orang-orang dekat Muhammad al-Imam walaupun sepersepuluhnya.

Tambahkan lagi bahwa tahdzir asy-Syaikh Ubaid terhadap Hani merupakan tamparan keras di wajah orang-orang yang terus menyebarkan kedustaan bahwa Masyayikh kita dikelilingi oleh orang-orang dekat yang jahat yang suka menyampaikan pernyataan-pernyataan yang tidak jujur dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Kemudian kesalahan-kesalahan Hani bin Buraik diangkat oleh sebagian ikhwah kepada asy-Syaikh Rabi’, diantaranya bersikerasnya dia dalam menuntut untuk memisahkan Yaman Selatan dari Republik Yaman, pujiannya terhadap para pemimpin Yaman Selatan terdahulu, dan hal-hal yang lain.

Dan lebih dari setengah bulan yang lalu —terhitung dari hari ini— asy-Syaikh Rabi’ meminta saya agar menasehati al-Akh Hani secara pribadi, dan sayapun mengingatkan dia agar takut kepada Allah, serta saya katakan kepadanya, “Kenapa engkau menuntut untuk memisahkan diri, jika engkau memisahkan diri dari Yaman, maka apakah kita akan membiarkan Yaman Utara dikuasai oleh Hutsiyun Rafidhah?!”

Dan terakhir, tadi malam salah seorang ikhwah mengirim pesan kepada saya dengan mengatakan bahwa asy-Syaikh Rabi’ berkata kepada Anda, “Engkau telah menasehati Hani secara rahasia, tetapi dia tidak menerima nasehat tersebut, maka tahdzirlah dia dan kesalahan-kesalahannya dengan dalil-dalil.”

● Dan asy-Syaikh Rabi’ menambahkan, “Sampaikan dariku bahwa sesungguhnya saya mentahdzir Hani dan kelakuan-kelakuannya, dan apa yang disebarkan dari saya tentang sikap diam saya terhadapnya adalah tidak benar.”

● Beliau juga mengatakan, “Bahkan Masayikh Aden yang lain, katakan kepada mereka agar mereka membantahnya dan jangan mendiamkan kesalahan-kesalahannya, karena hal ini akan membahayakan dakwah.”

Saya katakan: demikianlah, maka hendaknya tahdzir yang muncul dari para penuntut ilmu berupa dalil-dalil dan bukti-bukti, kemudian kesabaran dan saling menasehati, lalu tahdzir di atas bukti nyata, bukan dengan engkau membela dengan segala cara berbagai kesesatan Muhammad al-Imam yang orang awampun mengetahuinya. Atau dengan engkau selama sekitar 10 tahun mendiamkan berbagai kesesatan al-Hajury yang diingkari oleh manusia di belahan bumi yang timur dan barat. Sementara Hani bin Buraik ditahdzir hanya dalam hitungan hari, itupun hanya dengan jarh atau cercaan yang sifatnya global tanpa ada penjelasan. Maka yang semacam ini merupakan cara yang gagal, dan orang-orangnya tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah ini, dan ucapan mereka dalam menilai orang lain tidaklah bisa dipercaya.

Maka ini saya menyampaikan kepada manusia perkataan guru kita asy-Syaikh Rabi’ dalam mentahdzir Hani bin Buraik, dan lembaran Hani telah dilipat oleh para penuntut ilmu. Dan saya terus mengingatkan dia agar takut kepada Allah berkaitan dengan keselamatan dirinya, agar takut kepada Allah dalam urusan dakwah salafiyyah yang membutuhkan orang-orang yang memikulnya dengan kejujuran, bukan malah merugikannya dengan kelakuan-kelakuan buruknya.

Dan saya katakan kepadanya bahwa dakwah tidak akan mengalahkan pihak-pihak yang memusuhinya —seperti kelompok al-Ikhwanul Muslimun dan selain mereka— kecuali dengan istiqamah di atasnya, bukan dengan menyelisihinya. Dan berdakwah disertai sikap istiqamah walaupun minim sarana dan kemampuan, itu jauh lebih kuat dibandingkan dalam keadaan menyelisihinya, meskipun semua sarana untuknya mudah.

Jadi, kekuatan dakwah ini berasal dari pertolongan Allah Ta’ala, kemudian dengan kejujuran bersamanya.

Dan saya telah mengatakan kepadanya: “Wahai Abu Ali, dakwah yang bersih walaupun hanya makan dengan sepotong roti, lebih baik dibandingkan dengan dunia seisinya, dan keselamatan agama serta ketenangan hati tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini.”

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله.

✒️ Ditulis oleh: Abu Ammar Ali bin Husain asy-Syarafy, yang dikenal dengan Ali al-Hudzaify

📆 Senin, 16 Syawwal 1438 H

🌍 Sumber || https://t.me/dourous_machaikhaden

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

 

 

 

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>