Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

PROVOKASI MENUMPAS WAHABI DI BUMI ACEH, GERAKAN MENGUBUR dan MEMANIPULASI SEJARAH SERTA MELECEHKAN KEHORMATAN PARA “WAHABI” PAHLAWAN PERANG SABIL MELAWAN PENJAJAH KAFIR BELANDA bag.5 (Kampanye Provokasi Menumpas & Mengusir Wahabi Aceh, Dendam Kolonial Belanda Yang Terwariskan?)

bismillahirrohmanirrohim

PROVOKASI MENUMPAS WAHABI DI BUMI ACEH, GERAKAN MENGUBUR & MEMANIPULASI SEJARAH SERTA MELECEHKAN KEHORMATAN PARA “WAHABI” PAHLAWAN PERANG SABIL MELAWAN PENJAJAH KAFIR BELANDA (5)

KAMPANYE PROVOKASI MENUMPAS & MENGUSIR WAHABI ACEH, DENDAM KOLONIAL BELANDA YANG TERWARISKAN?
(ULAMA KENDURI TAHLIL(AN) KEMATIAN PENUNGGU SEDEKAH DALAM KECAMAN “WAHABI” PENULIS HIKAYAT PERANG SABIL DI SERAMBI MEKAH)

 

 

Kami lanjutkan kembali dengan contoh isi tulisan bersejarah tersebut yang ditulis oleh sejarawan Aceh, A. Hasjmy.

Sekilas tentang Penulis (A. Hasjmy)
Selama menjabat Gubernur Aceh (1957 — 1964), A. Hasjmy bersama Panglima Kodam I Iskandar Muda telah berhasil menyelesaikan pemberontakan DI/TII dengan baik, disamping telah berjaya membangun Pusat Pendidikan Kota Mahasiswa Darussalam, yang di dalamnya berdiri dua Lembaga Pendidikan Tinggi: Universitas Syiahkuala (Departemen P.K.) dan IAIN Jamiah Ar Raniry (Departemen Agama).
Karena usahanya yang berhasil dalam Pembangunan Pendidikan, maka A. Hasjmy telah dinyatakan menjadi Bapak Pendidikan Aceh.
Semenjak Februari 1977, Prof. A. Hasjmy telah diangkat menjadi Rektor IAIN Jamiah Ar Raniry Darussalam.

⭐️ULAMA “WAHABI” KOBARKAN JIHAD FI SABILILLAH

Nukilan:

Didahului oleh sebuah “Mukaddimah”, dalam mukaddimah mana, pengarang mengutarakan sebab-
sebab maka dia mengarang Hikayat Prang Sabi, yang selanjutnya dalam mukaddimah itu dilukiskan dengan sangat menarik pahala dan nikmat berganda yang akan diterima oleh mereka yang ikut
berperang di Jalan Allah (Sabilillah) dan azab siksa yang dahsyat yang tersedia di akhirat nanti untuk mereka yang tidak mau mengambil bahagian dalam perang sabil melawan Belanda.

Telah menjadi kebiasaan para pengarang Islam, bahwa pada mukaddimah karangan-karangannya didahului dengan puji-puja kepada Allah dan salam-sanjungan kepada Rasul-Nya.

Gambar 1. Manuskrip Hikayat Perang Sabil, sebagian halamannya.

Demikianlah, Teungku Tjhik Pante Kulu mendahului seluruh “Karya Sastra”nya itu dengan puji dan sanjung yang telah menjadi kebiasaan itu, yang terjemahannya :

Alhamdulillah Tuhan Pencipta,
Alam semesta karunia Ilahi,
Arasy tinggi, sorga dan neraka,
Langit bumi, segala isi

Setelah itu salat dan salam,
Untuk Junjungan penghulu Nabi,
Demikian pula sahabat kenalan,
Muhajirin dan Ansar pejuang asli.

Setelah itu, berulang-ulang pengarang menguraikan mengapa dia mengarang Hikayat Prang Sabi, yang menurut katanya atas permintaan Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman, yang disebutnya dengan kata-kata “abang”. Menurut keterangan yang muktamad pada waktu Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman akan kembali dari Mekkah ke Aceh, dipesannya sebuah hikayat yang dapat merangsang rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda.

Hal ini dapat kita baca dalam baitnya yang terjemahannya :

Setelah puji salat dan salam, (1)
Sewarkah hadiah hamba sembahkan,
Dengan hidayah Khalikul Alam,
Hikayat Perang Sabil hamba kissahkan.

Pekabaran Al Qur-an akan direka,
Pinta kakanda pada adinda,(2)
Menolak kehendak layak tiada,
Meski karangan kurang sempurna.

Benarlah ini amalan terpuji,
Semoga Ilahi beri pahala,
berguna hendaknya bagi semua,
Handai tolan sahabat segala.
Ganti memberi keris berdulang,

Lumbung padi berderet rapi,
Ganti pusaka pucuk kerawang,(3)
Inilah rangkaian intan baiduri

Ada satu kebiasaan lagi bagi para Ulama yang saleh, terutama di zaman yang lalu, bahwa mereka selalu mengemukakan kelemahan dan kekurangannya, termasuk tiada kesanggupannya mengarang, sekalipun pada hakekatnya karangan mereka itu bermutu tinggi. Kebiasaan inipun menjadi kebiasaan pula bagi Teungku Tjhik Pante Kulu dengan Hikayat Prang Sabinya.

Gambar 2. Azamnya tidak bisa ditahan-tahan lagi, setelah mendengar salah seorang sahabatnya, Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman telah diserahi tugas oleh kerajaan untuk memimpin perang semesta melawan serdadu-serdadu kolonial Belanda.

Beliau mengemukakan belum biasa mengarang dan meminta maaf atas segala kekurangan :
(terjemahan)

Ragulah hamba seketika,
Karena mengarang belum biasa.
Namun demikian hamba rekakan.
Tamsil ibarat bagi saudara.

Berikan hamba maaf berganda,
Andaikan salah rekaan kata,
Hamba mengarang Lillahi ta’ala,
Karena Allah semata-mata.

Selesai menyatakan kelemahan diri, mulailah pengarang mengancam dengan tajam sekali para ulebalang dan ulama yang telah bekerjasama dengan Belanda atau yang diam membeku :
(terjemahan).

Wahai saudara, adik dan abang,
Jangan bimbang, mari berperang,
Tak usah hiraukan hulubalang,
Merekalah sesat ikut setan.

Mengapa Agama tersia-sia,
Dunia laksana akan fana.
Ulama membisu bicara tiada,
Medan perang sunyi tiada bergema?

Manusia penaka kehilangan diri,
Jihad tiada hiraukan lagi,
Tinggal seorang berakal-budi,
Teungku di Tiro teladani Nabi (4)

Ulama lain di mana-mana,
Diam dalam seribu bahasa,
Disangkanya akan bebas saja,
Waktu diperiksa Maha Kuasa.

Saat nanti di pengadilan Ilahi,
Tiada jalan berlepas diri,
Di dalam kitab demikian pasti,
Firman Allah dan Hadis Nabi.

⭐️SERUAN PERANG SABIL

Setelah mengritik para hulubalang dan ulama yang tidak mau mengambil bahagian penting dalam peperangan melawan Belanda, terutama mereka yang telah menyebelah kepada musuh, maka pengarang dengan cara yang sangat menarik dan bahasa yang amat tajam menyeru rakyat turun ke medan perang, berjihad di Jalan Allah untuk mengusir serdadu-serdadu kolonial Belanda.

Pengarang juga menjelaskan, bahwa kandungan dari karangannya itu adalah berdasarkan Al Qur-an dan Hadis, sekalipun tidak disebut lafadh bahasa Arabnya : (terjemahan)

Yakinlah saudaraku sayang,
Ada firman dalam Al Qur-an:
Berperang di Jalan Allah,
Adalah penghulu ibadah.

Asli hadis kusebut tiada,
Makna saja kurakam di sini,
Peringatan agar siap-siaga,
Tiada siapa yang alpa diri

Renungkan saudaraku sayang,
Tidaklah hamba mangada-ada,
Benar ini berita Al Qur-an,
Bukan khabaran tiada berpunca.

Dalam Al Qur-an terakam ayat,
Firman Allah Mahakuasa,
Hadis Rasul pemimpin umat
Jangan lupakan saudara tercinta.

Hadis Nabi benar berkata,
Berperang di Jalan Allah,
Balasan akan datang nyata,
Sorga tersedia sudah.

Demikian tersurat di dalam kitab,
Firman Allah Ilahi Rabbi,
Dengar kata makna ayat,
Raja ibadat perang suci

Tubuhmu sayang dibeli Tuhan,
Sorga tinggi harganya pasti,
Yakinlah kita wahai budiman,
Orang beriman berbahagia nanti,

Siapa serahkan nyawa dan harta,
Biaya perang di jalan Ilahi,
Dibeli Allah harganya berganda,
Sorga tinggi tukarannya pasti.

Demikian saudara karunia Rabbi,
Pahala jihad di padang bakti,
Begitu suratan janji Ilahi,
Apalagi yang dinanti

Setelah itu pengarang memperingatkan agar kesempatan yang sedang terbuka segera dipergunakan; janganlah hendaknya lalai lagi. Kini adalah masanya untuk berbakti. Ditegaskan, kalau nanti pintu bakti telah ditutup, gerbang taubat telah terkunci erat, semua ibadat dan segala jihad sudah tidak ada gunanya lagi.
Pintu yang kini terbuka, sebentar lagi akan tertutup rapat, dunia sudah dekat akan berakhir. Sebelum segala-galanya ter-lambat, marilah berjihad, beramal dan berperang, demikian ditegaskan pengarang: (Terjemahan)

Wahai pemudaku intan baiduri,
Usia dunia akan berakhir,
Janji Ilahi akan berbukti,
Seperti dalam suratan takdir.

Selagi langit belum berantakan,
Beberapa tanda telah nyata,
Di dunia Dajal gentayangan,
Berkeliaran di mana-mana.

Sebelum datang dajal hakiki,
Sudah di dunia antek-anteknya,
Bila masa kehadirannya nanti,
Segala amal tiada berguna.

Arti ibadat sudah tiada,
Masa bakti Tuhan akhiri,
Segala amal sia-sia,
Pintu ibadat terkunci erat.

Jangan lalai saudaraku.
Berjihad kumpulkan bekal akhirat,
Selagi pintu taubat masih terbuka,
Kini masanya memeras keringat.

Sebelum datang Malaikat Izrail,
Suruh Hadlarat Menjemput nyawa,
Baiklah datang sebelum dipanggil.
Serahkan rela, sayang mengapa.

Oh, saudaraku sayang,
Bangsawan dan rakyat biasa,
Di Jalan Allah marilah berperang,
Kehilangan nyawa gelisah mengapa?

Dalam melanjutkan seruan perang sabilnya, Teungku Tjhik Pante Kulu menekankan masalah kematian, dimana kebanyakan orang takut kepada mati, padahal mati itu sesuatu yang harus dihadapi oleh tiap yang hidup.

Pengarang menegaskan, biar siapa saja pasti akan dicegat oleh kematian, meski dia raja dari negeri Rum, bahkan Nabi Muhammad kekasih Allah sendiripun telah mati.
Kalau harta dan isteri cantik tercinta yang takut ditinggalkan, itu semua nanti akan ada gantinya yang lebih sempurna di sisi Tuhan : sorga Jannatu Na’im dengan bidadari yang cantik rupawan: (terjemahan)

Saudara-saudara kaum sebangsa,
Nyawa melayang sudahlah pasti,
Biar raja Rum yang hebat kuasa; (5)
Yang menguasai Seantero negeri

Kemana kita akan berlindung,
Di sana mati telah menanti,
Seperti Firman Tuhan Pelindung,
Dalam Al-Qur-an jelas pasti

“Akan berlindung dalam Kota berbeton besi,
Di sana maut sudah menanti” (6)
Karena itu, muda bestari,
Siap siaga, mawas diri.

Kendati Muhammad Rasul utama,
Maut telah merenggut nyawanya,
Menyerah kepada Mahakuasa,
Bukan ini pertanda nyata?

Bila masanya ajal menjemput,
Datang merenggut nyawa di badan
Tangguh sesaat jangan harapkan,(7)
Yang pergi takkan kembali

Renungkan muda bangsawan,
Bawa ke mana intan berlain,
Siapa saja makhluk Tuhan,
Mati pasti, jin ataupun insan,

Kita tidak tahu kapan,
Tiada daya menerka iradat Tuhan,
Sadari dan mengertilah teman,
Kecuali Ilahi semua mati. (8)

Apapun kerja kita teman,
Haruslah karena Tuhan,
Kasih hati yang bukan Ilahi,
Segera akan pergi

Entah sedang berpadu kasih,
Perpisahan datang merenggut cinta,
Entah dijalan, entah di mana,
Maut mengadang mencengkeram nyawa, (9)

Sebab itu, saudaraku sayang,
Ke medan perang marilah kita,
Daripada mati konyol di ladang,
Baiklah tewas di medan laga.

Alangkah hina dan pedihnya, teman,
Andai mati di pangkuan isteri,
Sakit nyawa keluar di badan,
Kecuali mati mengadang kompeni. (10)

Tidak mengapa, sayang.
Di medan perang berbantal pedang,
Badan terkapar rebah terlentang.
Menantang musuh di gelanggang.

⭐️JASAD REBAH DISAMBUT DARA

Setelah selesai meyakinkan pembacanya bahwa mati adalah hal yang tidak dapat dielakkan, tiap yang hidup mesti mati kecuali Allah, maka pengarang melukiskan betapa bahagianya orang yang mati dalam peperangan melawan Belanda, perang kemerdekaan, perang suci membela agama.

Digambarkan, bahwa seorang pahlawan yang syahid belum akan rubuh tubuhnya ke bumi, sebelum dara-dara sorga sampai untuk memangku badannya terkapar berlumuran darah itu : (terjemahan)

Menurut kata Pesuruh Allah,
Tubuhmu yang tertembak berlumuran darah,
Tidak akan terkapar rebah,
Kecuali dalam pangkuan Ainulmardlijah.(11)

Sebelum datang dara rupawan,
Tubuh pahlawan rubuh tiada,
Dara senyum mengulur tangan,
Barulah jasad terhantar bahagia.

Dara berlomba menadah tangan,
Jemput junjungan kekasih hati,
Dalam pangkuan gadis rupawan,
Nyawa di badan keluar sendiri

Melayanglah nyawa alhamdulillah,
Lazat bahagia tidak terkata,
Yang mengetahui hanya Allah,
Betapa mujahid mendapat pahala.

Saudaraku teungku hulubalang,
Janganlah ragu diam membisu,
Sayang adik mati di ladang,
Rindukan abang di medan kuru,

Entah tidak kembali pulang,
Rindu memendam di dalam hati,
Entah tewas di medan perang,
Jemput pulang bawa kembali.

Untuk memperhebat tekad juang, dan untuk lebih memperdalam rasa cinta di medan perang serta tidak ingin pulang, maka pengarang menekankan bahwa orang-orang yang syahid di medan perang bukanlah mati, tetapi, namanya hidup abadi : (terjemahan)

Jangan katakan mati,
Mujahid yang tewas di medan perang. (12)
Mereka hidup bahagia,
Bermandikan rahmat Tuhan.(13)

Jangan dianggap mati,
Meski nyatanya demikian,
Jangan ragukan kekasih hati,
Ada firman Tuhan. (14)

Jangan sebutkan mati,
Meski nyawa sudah tiada,
Di sisi Ilahi ia abadi,
Senantiasa bersukaria.

Demikian mulianya di sisi Tuhan.
Tiada di sini umpama yang sama,
Mana di mana coba bandingkan,
Wahai budiman resapkan di jiwa.

Kalau begitu saudaraku sayang,
Di medan perang hidup dan mati,
Cinta kampung, sayang halaman,
Kikis habis di dalam hati

Anak dan isteri tercinta,
Tiada mengapa tinggal di dunia,
Di sana menanti bidadari sorga,
Dara-dara usia sebaya.

Orang dahulu waktu berperang,
Cinta harta tiada lagi,
Nyawa dan badan segala barang,
Nyerah semua rela di hati.

Mengapa kita, saudaraku sayang,
Ragu hati pergi berperang,
Begitu kasihnya Tuhan Penyayang,
Patutkah kita berhati bimbang?

Akhirnya dalam mukaddimah ini sebagai pengantar dari Hikayat Prang Sabi yang dikarangnya, Teungku Tjhik Pante Kulu berdoa kepada Allah, memohon keteguhan hati dan ketetapan iman, dalam berjihad memerangi kafir Belanda : (Terjemahan)

Oh, Ilahi Mahakuasa,
Wahai Pengampun segala dausa,
Beri hatiku tetap membaja,
Memerangi harbi kafir Belanda.(15)

Wahai adinda muda belia,
Mengapa bermuram diam membisu,
Mari serahkan nyawa dan harta,
Biaya perang di medan kuru. (16)

Sungai Kalkausar bening airnya,
Untuk Muhammad ‘kurnia Ilahi,
Nabi pusakakan kepada ummat,
Yang berkhidmad dalam perang suci.

(APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESI BELANDA, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1977, hal. 77-90)

Dengan tegas pengarang mengajak rakyat bangun serentak memerangi kafir Belanda yang telah memperkosa kedaulatan dan kemerdekaan Kerajaan Aceh Darussalam.
Di samping itu, beliau mengritik dengan tajam sekali sebahagian penguasa yang tidak hiraukan peperangan lawan Belanda; rakyat diajak untuk tidak mengikuti perintah kepalanya yang telah zalim : (terjemahan).

Nabi Muhammad kekasih Allah,
Anjurkan perang lawan Belanda,
Siapa cintakan sorga indah,
Jangan gelisah angkat senjata.

Siapa cintakan dara rupawan,
Ainul Mardliyah puteri jelita,
Haruslah terjun ke medan perang,
Jangan bimbang wahai saudara.

Pergi, pergi saudaraku sayang,
Jangan bergelimang dengan harta,
Setelah berakad di padang jihad,
Kembalilah sahabat bawa bahagia.

Mari saudara duduk bersanding,
Dara sorga rindu menanti,
Mengapa saudara penaka bising,
Cinta mengapa harta dunia?

Oh, saudaraku teungku penghulu,
Bahari dan kini tiada bedanya,
Mengapa disangka tiada menentu,
Dahulu dan sekarang sama segala.

Jihad sekarang perang suci,
Perjuangan utama lebih mulia,
Karena berjihad kehendak sendiri,
Raja negeri ikut tiada.

Setelah itu, pengarang melengkapkan anjuran perangnya ini dengan Hadis Nabi, yang menjanjikan pahala berganda bagi mereka yang ikut dalam perang sabil. Dalam mengakhiri Kissah Ainul Mardliyah, pengarang berusaha membangkitkan semangat perang dengan bermacam susunan dan gaya bahasa: (terjemahan).

Sejak dahulu saudaraku tuan,
Kafir tiada dipulau ruja,
Kini ini zaman pilihan,
Belanda datang antar sorga.

Demikian kataku muda pahlawan,
Jangan rawan semua kita,
Sejak nenek dahulu zaman,
Nasib begini ada tiada.

Setelah lama masa dahulu,
Zaman Rasul Penghulu Nabi,
Perang Sabil tiada berlaku,
Kini baru datang lagi.

Tuhan kita Pengasih Penyayang,
Cinta berganda kepada hamba,
Buka jalan lurus memanjang,
Menuju sorga taman bahagia.

Wahai teungku raja jauhari,
Mengapa gelisah tenteram tiada,
Jika tiada memerangi musuh Ilahi,
Menyesal nanti tiada berguna.

Oh, saudaraku kaum bangsawan,
Firman Tuhan tegas nyata,
Harus percaya ayat Qur-an,
Segala ajaran di dalamnya ada.

Itu firman Kalam Allah,
Mengapa gundah wahai bentara,
Makna maksud maklum sudah,
Mengurai panjang berguna tiada.

Siapa enggan memerangi Belanda,
Siksa mereka dibalas Tuhan,
Demikian kataku adik dan abang,
Jangan bimbang senantiasa!

(APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESI BELANDA, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1977, hal. 128-130)

⭐️PENEKANAN JIHAD LAWAN BELANDA

Sehabis kissah pasukan gajah dihikayatkannya, maka pengarang mengarahkan kalamnya langsung ditujukan kepada Belanda.
Mula dengan memperingatkan kembali suatu peperangan yang telah berlangsung di Aceh sendiri, yaitu perang Idi, di mana banyak sekali mati kafir Belanda: (terjemahan)

Demikian hendaknya saudaraku,
Menjunjung tinggi perintah Ilahi,
Ambil ibarat peristiwa yang lalu,
Masa tenjadi perang di Idi.

Kafir terkutuk ribuan mati.
Mata pedang pecah berbingkah,
Demikian terjadi wahai jauhari,
Kaum Muslimin pantang menyerah.

Kenangkan sejarah saudaraku sayang,
Berperang mengapa berani tiada,
Sadari wahai adik dan abang,
Tuhan kita Maha Kuasa.

Berperang melawan musuh Allah,
Bantuan Tuhan pasti datang,
Seperti tersebut dalam firman,
Dalam Qur-an jelas terpampang, (17)

Saudara-saudara pahlawan Islam,
Mari berperang lawan Belanda,
Tetapkan hati, kuatkan iman,
Bantuan Tuhan pasti kan tiba. (18)

Firman Allah sepatah ini,
Jangan lupakan wahai saudara,
Demikian perintah Ilahi Rabbi,
Mari mara memerangi Belanda.

Aduhai teman, saudaraku sayang.
Kesempatan jihad tidak selalu,
Baru niat ingin berperang,
Dausa di badan hilang berlalu.

Baru selangkah tinggalkan rumah,
Dalam niat memerangi Belanda,
Segala dausa terhapus sudah,
Seperti bayi kembali semula.

Belum lagi sampai di medan,
Demikian pahala sudah berganda,
Konon pula bila berhadapan,
Dengan musuh kafir Belanda.

Tidak terkira besar pahala,
Kurnia Allah Khaliqulbahri,
Dengan perintah Mahakuasa,
Malaikat datang membantu pasti. (19)

Setelah itu, pengarang melukiskan betapa besar pahalanya orang mati syahid dalam peperangan melawan kafir, dalam hal ini Belanda; tidak saja kepada yang syahid, bahkan juga berganda diberi mereka yang ikut serta dalam jihad Perang Sabil : (terjemahan)

Pintu sorga terbuka lebar,
Atas perintah Allah Ta’ala,
Syahid badan jatuh terkapar,
Jiwa melayang pulang ke sorga. (20)

Demikian firman saudaraku sayang,
Hadis junjungan Rasul Utama,
Maksud makna jelas terang,
uraian panjang perlu tiada.

Saudaraku sayang adik dan abang,
Mari berperang lawan Belanda,
Setapak kita ke medan perang,
Berat timbangan tiada terkira.

Langit dan bumi tiada berdaya,
Memikul berat pahala jihad.
Lepaskan pelor tembak Belanda,
Musuh Ambiya kafir keparat.

Entah kena ataupun tidak,
Asalkan pelor keluar sudah,
Allah berikan pahala banyak,
Seperti pembebasan budak jariyah.

Demikian pahala diberi berganda,
Imbalan sekali menembak Belanda,
Entah betapa besarnya pahala,
Kalau menembak terhitung tiada.

Ke Mekkah kita saudaraku,
Habis harta tiada terkira,
Bermukim di sana berwaktu-waktu,
Pahala perang mengatasinya.

Sehari berjihad di medan perang,
Menggunung pahala wahai saudara,
Demikian Hadis sabda junjungan,
Bukan khabaran rekaan hamba.

Untuk lebih memberangsang semangat perang, maka pengarang mengungkap beberapa peristiwa semasa Rasul masih hidup.
Dilukiskannya peristiwa seseorang menanyakan kepada Rasul tentang pahala mati syahid dalam medan perang : (terjemahan)

Semasa hidup Rasul Allah,
Sebuah kissah dengar saudara,
Seorang pemuda berdatang sembah,
Pahala perang tanyakan apa;

“apa imbalan wahai junjungan,
Pahala perang apa rupanya”
Jawab Rasul ; “Sorga imbalan,
Balasan bagi mujahid setia.

Allah berikan kita sorga,
Lebar seluas langit dan bumi.”
Demi mendengar demikian sabda,
Semangat perang menyala berahi?

Pemuda kita gagah berani,
Ke medan perang berangkat garang,
Sesaat masa muda jauhari,
Terkapar syahid di medan juang,

Demi badan terkapar rebah,
Tunangan datang dara sorga,
Pangku kepala, hapus darah,
“Alhamdulillah” ucapkan puja.

Mati syahid sakit tiada,
Sama seperti mengerat kuku.
Jangan katakan mati mereka,
Mujahid abid hidup selalu.(21)

Mereka hidup di sisi Allah,
Dalam soraga bertakhta bahagia,
Mengendarai kereta keemasan,
Meski tubuh rubuh di dunia.

Siang malam kurnia Tuhan,
Makanan terhidang lezat rasanya,
Seperti hidangan Nabi Sulaiman,
Masih sisa lainpun tiba.

Demikian gerangan sesuntuk masa,
Tuhan Esa berikan segala,
Semua sentausa rasa bahagia,
Kembali ke dunia ingin tiada.

Dibawah bayangan pedang jenawi
Di sana sorga Allah tempatkan
Tempat hidup kekal abadi,
Nikmat kurnia aneka ragam.

Demikian perintah Tuhan hadlarat,
Tamsil ibarat bagi pejuang,
Nikmat kurnia pahala akhirat,
Begitu nanti hidup senang.

Di hari nanti kurnia pasti,
Pergilah kini ke medan perang,
Mujahid sejati disayangi Ilahi, ‘
Sayang Allah ‘kepada pejuang.

(APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESI BELANDA, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1977, hal. 141-146)

Setelah secara umum pengarang menganjurkan perang, kemudian anjuran jihad itu dikhususkan kepada kafir Belanda : (terjemahan)

Tiada Tuhan selain Allah,
Mahakuasa Pencipta dunia,
Nabi Muhammad Rasulullah,
Indah bahagia memerangi Belanda.

Siapa cinta rindu sorga,
Mari berperang saudaraku sayang,
Menjelang jodoh dara jelita,
Di taman firdaus dambakan abang.

Segala di dunia tiada serupa,
Kurnia Ilahi puas hati.
Lekas pergi pahlawan satria,
Dalam sorga kurnia menanti.

Mengapa hati terikat di sini,
Tertambat pada isteri muda,
Lekas, lekaslah pergi,
Bidadari menanti kakanda.

Mengapa saudara cinta keluarga,
Sayang sahabat yang anti jihad,(22)
Lekas turun panggul senjata,
Jangan digoda setan keparat.

Ikut saudara perintah Allah,
Jihad berperang di Jalan Allah,
Demikian firman suruh perintah.
Kalam Allah hikmah berisi, (23)

Selanjutnya pengarang melukiskan betapa besar siksa dan azab sengsara bagi mereka yang tidak mau ambil bahagian dalam peperangan melawan Belanda. Dilukiskan juga bahwa jihad di Jalan Allah itu perlu ain, wajib atas tiap-tiap orang Islam, demikian pula menjadi kewajiban bagi siapa saja yang mampu untuk memberi belanja perang : (terjemahan)

Bawa bersama harta segala,
Nyawa saja cukup tiada, (24)
Ingat saudara siksa neraka,
Untuk mereka yang kikir harta (25)

Menyimpan emas dalam peti,
Dalam perang pakai tiada,
Siksa pasti menimpa nanti,, ”
Badan hancur remuk segala (26)

Azab sengsara menimpa diri,
Karena ria gila kekayaan,
Nimbun harta emas berpeti,
Enggan menderma untuk peperangan.(27)

(APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESI BELANDA, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1977, hal. 181-183)

⭐️JIHAD MELAWAN PENJAJAH KAFIR BELANDA WAJIB HUKUMNYA

Kemudian pengarang (Teungku Tjhik Pante Kulu) menegaskan kembali, bahwa berperang di Jalan Allah untuk membela kebenaran, untuk melawan kafir, adalah wajib hukumnya, sehingga siapa saja yang tidak mau melaksanakannya, akan diazab di hari akhirat nanti : (terjemahan)

Anak dan isteri sayang mengapa,
Allah Ta’ala pelihara pasti,
Jihad wajib hukumnya nyata, (28)
Mukmin sekalian harus taati.

Azab dahsyat di Padang Mahsyar,
Pria wanita berkumpul ke sana,
Ingat saudara jangan kesasar,
Azab di sana bandingan tiada.

Karena itu lengah jangan,
Ibadat tuan semasa di dunia,
Apapun ada kerja amalan,
Jihad berperang lebih utama.

Jihad wajib atasmu tuan,
Hukumnya pasti ragu tiada,
Mula syahadat dua sembahyang,
Tiga berperang lawan Belanda. (29)

Demikian perang wajib sekarang,
Adik abang harus percaya,
Wajib berganda sudahlah terang,
Di sini kini Belanda-lah ada.

Berdiam diri mengapa saudara,
Bangkit segera mara berjihad,
Yakinlah wahai muda belia,
Sesal nanti diri melarat.

(APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESI BELANDA, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1977, hal. 212-213)

⭐️KECAMAN KERAS KEPADA ULAMA “TAHLIL(AN)” YANG TIDAK HIRAUKAN PERANG

Setelah pengarang menekankan wajib jihad melawan Belanda; setelah merangsangkan semangat perang dengan berbagai cara dan perbandingan, maka dilemparkan kritik yang tajam sekali kepada para ulama yang takut, yang tidak hiraukan jihad, yang mau kerjasama dengan musuh, yang gila putar lidah menjual ayat-ayat Qur-an, yang mabuk urusan tahlil dan bagi pusaka.

Rakyat dianjurkan untuk menjauhkan diri dari para ulama yang demikian, dilarang jangan mendengar nasehat-nasehat mereka, karena mereka memutar-balik ayat-ayat Al Qur-an : (terjemahan)

Mereka jangan jadi teladan.
Alim sesat setan daya,
Ayat jihad tinggal di Qur-an,
Gelap hati buta mata.

Ulama jahil cari helah,
Putar Qur-an berkawan Belanda,
Sayang ilmu tiada faedah,
Perintah Allah perduli tiada.

Sendiri tak mau orang dihalang,
Tinggal bimbang menanti bala,
Sangka boleh tidak berperang,
Bebas senang dausa tiada.

Seperti sabda titah Maulana,
Dengar saudara makna pasti,
Siapa bekerja karena ria,
Api neraka tempatnya nanti.(30)

Demikian hadis sabda Rasul,
Pedoman jihad ummat segala,
Percaya pasti doa makbul,
Engkar nyata hina menimpa.

Kemudian pengarang melukiskan betapa sekarang ajaran agama sudah tidak mempan lagi, sudah tidak berkat, karena ulama yang bertugas memberi nasehat ummat telah menyeleweng: (terjemahan)
Agama mundur berjalan tiada,
Dunia fana masanya berakhir,
ULAMA TAHLIL pikirkan hanya.
Bagi pusaka serta berzikir. (31)

DUDUK di kampung TUNGGU SEDEKAH,
Suruh Allah kerja tiada,
Seribu daya cari helah,
Hindarkan perang dengan Belanda.

Senif zakat bahagian sabil (32)
Ulama jahil makan semua,
Bagi tiada barang setahil, (33)
Kepada mujahid pejuang satria.

Siksa Allah maha dahsyat,
Kutuk laknat untuk mereka,
Yang enggan lawan keparat, (34)
Sekalipun Quraisy turunan mulia.

Ulama kini fatwa sesat,
Perang Belanda perlu tiada,
Apa lebihnya dari Muhammad.
Rasul Hadlarat jihad serta.

Kritik yang amat tajam itu terhadap para ulama, dalam bait-bait berikutnya oleh pengarang dinyatakan tidaklah ditujukan kepada orang-orang tertentu, hanya pandangan yang bersifat umum. Setelah pernyataan demikian, diulangi lagi kecaman pedasnya, di mana dikatakan bahwa ulama bertambah banyak, tetapi ajaran Qur-an tambah tidak berarti:(terjemahan)

Ulama banyak lahir sekarang,
Ajaran Qur-an mengalir saja,
Bicara banyak amal kurang,
Segan melawan kafir Belanda.

Seorang yang suruh sepuluh yang larang,
Demikian gerang tingkah ulama,
Satu-satu yang kuat iman,
Yang lain banyak munafik di dada.

Takut tiada kepada Allah,
Tiada gundah azab neraka,
Kepada Tuhan tiada menyembah,
Pencipta badan dengan nyawa.

Demikian teungku jangan lagi,
Menyerah diri kepada setan,
Dausa berganda engkar Ilahi,
Yakinlah wahai saudaraku tuan.

Setelah kecaman dan peringatan yang demikian keras dan pedas, maka pengarang merobah irama dakwahnya, dimana dengan lembut membujuk mengajak orang kembali kepada Qur-an dan Hadis. Kemudian diulangi betapa besar pahala Tuhan sedia bagi orang-orang yang mati syahid dalam perang melawan Belanda.

Dilukiskan kembali nikmat sorga dengan bidadari yang cantik jelita, sungai-sungai yang mengalir tenang berair bening.
Barulah setelah itu dianjurkan agar menyerahkan harta kekayaan untuk biaya perang sabil. Katanya kekayaan kita tidak ada arti apa-apa bila dibandingkan dengan kekayaan Nabi Sulaiman: (terjemahan)
Demikian firman Tuhan Penyayang,
Mengapa bimbang saudara ragu,
Mari teungku jihad berperang,
Sayang harta gila mengapa.

Arti apa hartamu tuan,
Bukankah Sulaiman Nabi yang kaya,
Kuasa memerintah jin dan insan,
Ternak hewan margasatwa.

Sulaiman tak pernah lupakan Tuhan,
Siang dan malam ibadat takwa,
Kenang renungkan wahai budiman,
Setarafkah Sulaiman dengan saudara?

Semua Nabi Rasul Ilahi,
Bangsawan budi kaya takwa,
Lupa tiada kepada bakti,
Patut menjadi teladan kita.

Kita saudara megah tiada,
Harta mertua apapun tidak,
Lalai mengapa gila dunia,
Daya setan tertolak tidak.

Sulaiman kaya martabat tinggi,
Dunia akhirat bahagia sejahtera,
Murah tangan dermawan hati,
Rakyat negeri santun segala. (35)

Pengarang menutup kissahnya dengan nasehat-nasehat yang berkesan sekali: (terjemahan)

Saudara-saudara lalai mengapa,
Ke dunia baka kembali pasti,
Sebelum mati sedia segala (36)
Ingat resapkan dalam hati.

Selagi muda belajar wajib,
Ibadat tertib teratur sempurna,
Terlambat jangan fardlu rawatib,
Bukan ajaib dunia kan fana. (37)

Entah tua dapat tiada,
Usia muda masuk kuburan,
Sudah sunnah Mahakuasa,
Maut mara di luar dugaan. (38)

Percaya wajib muda pahlawan,
Dalam Qur-an tersebut nyata.
Mati tak tentu waktu kapan, (39)
Menjadi ingatan hendaknya saudara.

Gilakan dunia manja jangan,
Bukan di fana tempat bahagia,
Di sini sengsara hanya gerangan,
Di akhirat intan ria gembira. (40)

Kita semua kekal tiada,
Hidup di dunia bayang-bayang,(41)
Bimbang jangan mabuk harta,
Sediakan bekal belanja pulang.

Apabila maut datang menerkam, (42)
Megah dan kaya tinggal di sini, (43)
Tinggallah pangkat tinggal kerajaan,
Sesalpun datang menyiksa diri. (44)

Tiada tempat mengadu untung, (45)
Menangis meraung di padang mahsyar, (46)
Allah, ya Allah tiada beruntung,
Nasib buntung badan terlantar.

Udara hangat panas membara,
Terik surya hanguskan badan,
Lapar dahaga makanan tiada,
Berlindung dimana tiada naungan.

Azab sengsara menyiksa anggota,
Dalam mata keringat bercucuran,
Datang berduyun kepada Ambiya,
Minta dausa dapat ampunan (47)
-selesai penukilan-
(APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESI BELANDA, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1977, hal. 214-247)

💥📌Dengan berbagai fakta di atas, muncullah pertanyaan; Bagaimana mungkin anti-Wahabi masih terus berbangga dengan sejarah Perang Sabil Aceh (yang dikobarkan oleh ulama lulusan Mekah yang memiliki hubungan dengan para pemimpin Wahabi)?
Bukankah konsekwensi dari tuduhan keji bahwa Wahabi adalah hasil gagasan Yahudi untuk merusak aqidah umat Islam yaitu Perang Sabil di Aceh adalah buah pula dari hasil gagasan Yahudi untuk merusak aqidah umat Islam?!

Gambar 3. Anti Wahabi & Hikayat Perang Sabil. Di samping belajar, beliau Teungku Tjhik Pante Kulu mengadakan hubungan dengan pemimpin-pemimpin gerakan Wahabi yang sedang menghangat…

Setelah terungkapnya fakta sejarah peran besar ulama-ulama Wahabi dalam mengobarkan jihad fi sabilillah di bumi Aceh Nanggroe Darussalam dalam melawan penjajah Belanda kemudian sekarang berbalik digencarkannya kampanye hitam pemanipulasian sejarah, pembodohan umat dengan menuding Wahabi sebagai aliran sesat hasil gagasan Yahudi untuk merusak aqidah umat Islam maka ini adalah bentuk nyata penghinaan terhadap para ulama “Wahabi” pahlawan Perang Sabil.

Seperti kata pepatah…
Habis manis sepah dibuang, Air susu dibalas dengan air tuba.

Semoga penyusunan tulisan ini berikut penukilannya bisa menjadikan sadar orang yang tersilap, menjadikan terbangun orang yang tertidur, menjadikan baik orang yang telah berlaku buruk. Sesungguhnya hidayah itu hanyalah turun kepada siapa manusia-manusia pilihan yang Allah kehendaki kebaikan padanya. Wallahul musta’an.

💎Kesimpulan

🌷Alangkah pahitnya jejak peninggalan sejarah Prang Sabi di tanah Seuramoe Mekah di sisi anti-Wahabi, dapatlah kita ambil pelajaran betapa Perang Sabil melawan penjajah kafir Belanda tersebut dipimpin, digerakkan dan dikobarkan oleh para pemuka agama-ulama Aceh yang baru pulang dari kota suci Mekah.

🌷Tanpa menghilangkan peran besar tokoh-tokoh besar pejuang Aceh pada masanya, Perang Sabil di Aceh dipimpin dan dikobarkan semangat jihadnya oleh Wahabi Aceh, Panglima Perang Sabil (yang ditunjuk oleh Sultan Aceh) Teungku Tjhik di Tiro bersama sahabat beliau, Teungku Tjhik Pante Kulu, rahimahumullah.

🌷Teungku Tjhik Pante Kulu tatkala masih di kota suci Mekah menjalin hubungan dengan para pemimpin-pemimpin “Wahabi”.

🌷Penulis Hikayat Prang Sabi adalah “Wahabi” Teungku Tjhik Pante Kulu rahimahullah.

🌷Dalam salah satu bagian karya sastranya yang mengobarkan semangat perang Sabil itu bahkan Teungku Tjhik Pante Kulu mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi dengan meneladani para shahabat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.

🌷Dengan tegas, secara khusus beliau mengecam keras adanya ulama-ulama kenduri kematian anti-jihad yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah yang beliau istilahkan sebagai ulama tahlil penunggu sedekah tatkala kematian tiba yang enggan untuk berjihad.

🌷Menyaksikan fakta Panglima Perang Sabil Teungku Tjhik di Tiro adalah “alumnus” Mekah serta hubungan erat tokoh perang Sabil pengobar bendera jihad fi sabilillah di bumi Aceh -Teungku Tjhik Pante Kulu- dengan para pemimpin-pemimpin “Wahabi”, nyatalah (marah ataupun tidak) adalah fakta sejarah gemilang Perang Sabil di tanah Rencong (sebagai salah satu perang terlama di dunia- 50 tahun) merupakan buah dari dakwah Tauhid yang disebarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

📝Catatan kaki
(1) Tgk. Tjhik Pante Kulu : Hikayat Prang Sabi halaman 16.
(2) Yang dimaksud dengan abang (kakanda), yaitu Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman. A.H.
(3) Semacam perhiasan kebesaran di Aceh, yang terbuat dari emas murni. A.H
(4) Anzib : Pengantar Hikayat Prang Sabi halaman 6
(5) Yang dimaksud dengan negeri Rum oleh orang-orang Aceh dahulu, yaitu Kerajaan Turky Usmaniyah.
(6) Yang disyairkan pengarang dalam bait ini, yaitu ayat 78 dari Surat An Nisa, yang terjemahannya : “Di mana saja kamu berada, pasti maut akan mengejar, sekalipun kamu berlindung dalam benteng yang tangguh kuat”.
(7) Ayat yang di-puitisasikan ini, yaitu ayat 34 Surat Al A’raf, ayat 49 dari Surat Junus dan ayat 61 Surat An Nahl, yang terjemahannya : “Apabila ajal mereka datang, sedetikpun tidak dapat diminta tangguh, juga tidak bisa minta dipercepat”.
(8) Q. Surat Al Furqan ayat 58, yang terjemahannya : “Bertawakkallah kepada Allah yang Hidup, tidak akan mati-mati dan bertasbihlah memuji-Nya”.
(9) Q. Surat Ibrahim ayat 17 yang terjemahan : “Dan kematian datang menghadangnya dari segala penjuru”
(10) Yang dimaksud dengan kompeni, yaitu kafir yang menjadi serdadu Belanda dalam perang Aceh.
(11) Yang dimaksud dengan Ainul Mardlijah, yaitu ratu dari bidadari sorga, menurut hikayat ini, disediakan Allah untuk orang-orang yang syahid dalam peperangan di Jalan Allah.
(12) Q. Al Baqarah : 154 yang terjemahannya : “jangan kamu katakan mati terhadap orang-orang yang terbunuh di Jalan Allah, bahkan pada hakekatnya mereka hidup, tetapi kamu tidak merasa.”
(13) Q. Ali Imran : 157 yang terjemahannya : “Dan kalau terbunuh di Jalan Allah atau meninggal, sesungguhnya ampunan dan rahmat Allah itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkannya.”
(14) Q. Ali Imran : 169 -170.
(15) Yang dimaksud dengan “kafir harbi” (dalam sajak tertulis “harbi kafir”), yaitu orang-orang kafir yang dalam keadaan perang dengan kaum Muslimin, di mana Allah dalam keadaan demikian telah mengizinkan berperang bagi kaum Muslimin, seperti tersurat dalam surat Al Hajj ayat 39, yang terjemahannya : “Telah diizinkan berperang kepada kaum Muslimin yang teraniaya karena diserang oleh orang kafir, dan sesungguhnya Allah sanggup membantu mereka.”
(16) Q. Al Baqarah ayat 261 – 362, yang terjemahannya : “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan harta kekayaannya di Jalan Allah, laksana sebiji benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, di setiap tangkai tujuh buah, dan Allah akan melipat-gandakan pahala bagi orang-orang yang dikehendakinya, dan Allah Maha Pemurah dan Maha Mengetahui. Orang orang yang mendermakan hartanya di Jalan Allah, lantas pemberiannya itu tidak diiringinya dengan kebanggaan dan cercaan, mereka akan memperoleh pahala di sisi Tuhannya, dan mereka tidak akan terancam dan tidak akan berdukacita.”
(17) Q. Surat At Taubah: 14, yang terjemahannya: “Ayoh, perangilah mereka, Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan tanganmu; akan memberi kehinaan kepada mereka; akan membantu kamu untuk mengalahkan mereka dan akan mengobati hati orang-orang yang beriman.”
(18) Q. Muhammad : 7, yang terjemahannya; “Wahai orang-orang yang beriman! Kalau kamu membantu Allah (menjalankan perintahnya) niscaya Allah akan membantu kamu dan akan memperhebat kekuatanmu.”
(19) Q. Ali Imran : 124-125, yang terjemahannya : “Ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman : Belumkah cukup lagi, bahwa Tuhan akan membantu kamu dengan tigaribu Malaikat yang diturunkan dari langit? Memang, kalau kamu sabar dan bertakwa, sedangkan mereka datang dengan cepatnya kepadamu, niscaya Tuhan akan membantu kamu dengan limaribu malaikat yang akan membinasakan mereka”.
(20) Q. Shad : 49-52 yang terjemahannya : “Ini adalah suatu peringatan! Sesungguhnya untuk orang-orang yang berbakti telah tersedia tempat kembali yang baik: Sorga Adnin yang pintu-pintunya terbuka lebar untuk mereka. Di sana mereka duduk bertakhta, di mana mereka boleh meminta buah-buahan yang ranum dan minuman yang lezat rasanya. Di samping mereka bidadari yang cantik jelita.”
Q. Az Zumar : 73 yang terjemahannya : “Orang-orang yang berbakti diantar ke hadapan Tuhannya berbondong-bondong dibawa ke dalam Sorga yang pintu-pintunya telah terbuka lebar untuk mereka, di mana para penjaganya mengucapkan tahniah; Selamat datang dan berbahagialah tuan-tuan, silakan memasuki Taman Sorga dan tinggal abadilah di dalamnya.”
(21) Q. Al Baqarah : 154-155, yang terjemahannya : “Jangan kamu katakan mati mereka yang terbunuh di Jalan Allah, bahkan mereka hidup, hanya kamu tidak menyadarinya. Dan kami akan mencoba kamu dengan menjatuhkan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta kekayaan, kehilangan jiwa dan kemerosotan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang tabah menderita.”
(22) Q. Al Baqarah : 165, yang terjemahannya: “Dan sebahagian manusia ada yang mengambil selain daripada Allah menjadi tandingan-Nya, mereka mencintai orang-orang itu sama dengan mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah. Kalau sekiranya orang-orang yang melanggar ajaran Allah dapat memikirkan bagaimana siksaan dahsyat nanti, tahulah mereka bahwa kekuasaan seluruhnya berada ditangan Allah, dan sesungguhnya siksaan
Allah Maha Dahsyat.”
(23) Q. Al Baqarah: 216, yang terjemahannya: “Diwajibkan kepadamu berperang, sekalipun perang itu tidak kamu sukainya. Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ia berguna untukmu, dan barangkali kamu menyukai sesuatu, padahal ia membawa bencana kepadamu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak.”
(24) Q. As Shaf: 10 -11, yang terjemahannya: “Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Ku-tunjuki satu perniagaan yang akan membebaskan kamu dari malapetaka yang dahsyat? yaitu : beriman dengan Allah dan Rasul-Nya; berperang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu; yang demikian lebih baik untukmu kalau kamu mengerti.”
(25) Q. Muhammad : 28, yang terjemahannya : “Nah, ingatlah! Kamu ini diajak untuk mendermakan hartamu di jalan Allah, tetapi diantara kamu ada yang kikir. Dan orang yang kikir, kekikirannya itu hanyalah akan merugikan dirinya sendiri, dan Allah Mahakaya sedangkan kamu fakir papa. Dan kalau kamu membelakangi Allah, Dia akan mengganti kamu dengan orang lain, yang tidak serupa
dengan kamu.”
(26) Q. At Taubah : 34 -35, yang terjemahannya: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tidak didermakannya di Jalan Allah, sampaikan peringatan kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa dahsyat. Nanti akan dilemparkan dalam neraka jahannam, akan terbakar hangus dahi, punggung dan rusuk mereka. Inilah simpanan dahulu, dan karena itu rasailah akibatnya.”
(27) Q. Al Baqarah : 195, yang terjemahannya : “”Berdermalah di Jalan Allah dan janganlah kamu membinasakan dirimu sendiri; berbuat baktilah, sesungguhnya Allah sayang kepada orang-orang yang berbuat kebalikan. Q. At Taubah : 53-54, yang terjemahannya : “Katakan : Berdermalah di Jalan Allah, dengan senang atau dengan paksa; namun demikian derma itu tidak akan keluar juga dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah kaum durjana. Tiadalah sesuatu sebab yang menghalangi mereka dari menderma, kecuali karena mereka membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya; mereka tidak mengerjakan sembahyang, kecuali dengan cara setengah-setengah (malas) dan tidak berderma, kalau tidak dipaksa.
(28) Q. Al Baqarah : 216, yang terjemahannya : “Peperangan telah diwajibkan atas kamu ”
(29) Q. Ash Shaff : 11, yang terjemahannya : “Kamu beriman dengan Allah dan Rasul-Nya serta berperang di Jalan Allah dengan harta dan jiwamu”(30) Q. Ali Imran : 195-197, yang terjemahannya : “Lantas Allah menerima pinta mereka seraya berkata: Aku tidak akan melengahkan amal jihad para pejuang di antara kamu, baik pria ataupun wanita dalam kedudukan yang sama. Karena itu, orang-orang pindah, diusir dari kampung halamannya, disiksa di Jalanku, berperang dan terbunuh akan kuhapuskan segala dausanya dan akan kumasukkan dalam sorga, yang di dalamnya mengalir sungai berair bening. Itulah pahala dari Allah : pahala yang sebaki-baiknya. Janganlah engkau terpengaruh karena orang-orang kafir berkeliaran dalam negeri. Itu hanya kesenangan. sebentar dan nanti tempat mereka neraka jahannam.”
(31) Tahlil yaitu membaca “zikir” untuk orang yang telah mati pada malam-malam tertentu dan dalam jumlah yang tertentu. Dan setelah itu para teungku atau ulama yang membaca tahlil diberi sedekah oleh ahli waris si mati. Hal ini terjadi pada zaman ummat Islam telah mengalami kemunduran. Mereka
inilah yang dikecam oleh Teungku Tjhik Pante Kulu.
(32) Salah satu bahagian zakat, yaitu untuk biaya perjuangan di Jalan Allah (Sabilillah), seperti yang ditetapkan Allah dalam Al Qur-an surat At Taubah ayat 60, yang terjemahannya : “Sedekah (zakat) hanya dibagi untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat sendiri, muslim baru (muallaf), pembebasan perbudakan, orang-orang yang dijerat hutang, perjuangan di Jalan Allah dan pengembara melarat. Ini suatu perintah dari Allah dan Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” Hak sabilillah yang dimakan oleh ulama-ulama jahil itulah yang dikecam pedas oleh pengarang Hikayat Prang Sabi.
(33) Tahil yaitu ukuran timbangan yang kecil di Aceh.
(34) Yang dimaksud dengan keparat yaitu Belanda.
(35) Q. An-Naml : 15-44
(36) Q. Al Qashash: 77, yang terjemahannya: “Dengan kurnia Allah yang telah diberikan kepada engkau, sediakanlah bekal untuk kampung akhirat, tetapi nasibmu di dunia tidak boleh dilupakan”
(37) Q. Al Kahfi: 21, yang terjemahannya: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada mereka agar mereka mengetahui, bahwa janji Allah itu benar dan kedatangan hari akhirat sudah tidak dapat diragukan lagi”
Q. Al Qamar: 1, yang terjemahannya: “Kedatangan hari kiamat sudah dekat sekali, dan waktu itu bulan pecah berserakan.”
(38) Q. Ali Imran: 145, yang terjemahannya: “Dan siapapun tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah, pada waktu yang telah ditentukan. Q. Az Zumar: 42, yang terjemahannya: “Allah lah yang mengambil jiwa manusia waktu mati, dan ketika tidurnya sebelum wafat, lalu ditahannya jiwa yang telah wafat dan dilepasnya yang lain sampai waktu yang tertentu. Sesungguhnya hal tersebut boleh menjadi bukti nyata bagi mereka yang cakap mempergunakan pikirannya.”
(39) Q. Luqman: 34, yang terjemahannya: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya ada di sisi Allah. Dia yang menurunkan hujan, dan Dia pula yang mengetahui apa yang ada dalam kandungan wanita. Dan siapapun tiada mengetahui apa yang akan dikerjakan besok dan di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengerti.”
(40) Q. Junus: 70, yang terjemahannya: “Itu adalah kesenangan di dunia, setelah itu mereka akan kembali kepada Kami, di mana akan Kami timpakan ke atas mereka azab yang dahsyat, sebagai akibat dari kekafirannya.”
Q. Hud: 15-16, yang terjemahannya: “Siapa saja yang ingin kehidupan dunia dan perhiasannya, akan Kami cukupkan segala keinginan mereka, dan sedikitpun mereka tidak dirugikan. Untuk mereka itu di akhirat nanti hanya tersedia neraka. Di sana tiada berguna apa-apa yang mereka usahakan dan terbuang percuma apa yang telah mereka kerjakan.”
Q. Ar Ra’d: 26, yang terjemahannya: “Allah telah memberi dan membatasi rezki kepada orang-orang yang dikehendakinya, dan mereka bersuka cita dengan kehidupan dunia ini, padahal apalah artinya kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat, ia hanya kesenangan sementara.”
(41) Q. Muhammad: 36, yang terjemahannya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan iseng belaka. Dan kalau kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberi pahala kepadamu dan Allah tidak akan meminta harta kekayaanmu.”
Q. Al Kahfi: 46, yang terjemahannya: “Harta dan anak adalah permainan kehidupan dunia, sedangkan amal perbuatan baik adalah lebih baik pahala dan harapan di sisi Tuhanmu.”
(42) Q. An Nisa: 18, yang terjemahannya: “Orang-orang yang melakukan kejahatan tidak akan diterima taubat mereka, sehingga pada waktu kematian datang kepada salah seorang mereka, barulah dia berkata: Sekarang aku taubat ”
Q. As Sajadah: 11, yang terjemahannya: “Katakan: Malaikat maut akan mengambil nyawamu dan kamu akan dikembalikan kepada Tuhanmu.”
Q. Al Ahzab: 16, yang terjemahannya: “Katakan: Kalau kamu ingin lari dari kematian atau pembunuhan, tokh tidak ada gunanya, dan kamu di sini hanya dapat bersenang-senang sekejap saja.”
(43) Q. Asy Syu’ara: 88-89, yang terjemahannya: “Pada hari itu harta-benda dan anak yang banyak tiada berguna lagi, kecuali orang yang kembali kepada Allah dengan hati yang suci bersih.”
(44) Q. An Nazi’at: 40, yang terjemahannya: “Sesungguhnya Kami memberi peringatan kepada kamu tentang siksaan yang dekat akan datang; yaitu pada hari di mana manusia akan merasai akibat dari perbuatan tangannya, sehingga orang kafir menangis menyesal: Oh, alangkah baik kalau aku bisa menjadi tanah … ”
(45) Q. Al Mumtahanah: 3, yang terjemahannya: “Kaum dan anak-anakmu tiada berguna lagi untukmu pada harj kiamat; Allah membatasi antara kamu dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.”
Q. Al Muddatstsir: 48, yang terjemahannya: “Karena itu, tiada berguna lagi bagi mereka bantuan-bantuan orang-orang yang akan memberi bantuan-bantuan.”
(46) Q. Maryam: 85—87, yang terjemahannya: “Pada hari mi, Kami kumpulkan orang-orang yang bertakwa di hadapan Tuhan sebagai utusan terhormat; dan Kami halau orang-orang jahat ke dalam neraka secara kasar, di mana mereka tidak berhak mendapat pertolongan, kecuali yang telah mengikat janji dengan Tuhan Pemurah.”
(47) Yang di-puisikan pengarang dalam dua bait yang terakhir dari hikayat ini, yaitu ayat-ayat mengenai peristiwa kiamat :
Q. Thaha: 100—102, yang terjemahannya’. “Siapa yang menyeleweng dari Jalan Allah, dia akan menanggung akibatnya di hari kiamat nanti. Mereka tinggal abadi dalam keadaan dausa dan nasib mereka amat buruk di hari itu nanti, yaitu hari dibunyikan sangkala di waktu mana orang-orang jahat yang berdausa Kami kumpulkan dengan mata yang berkunang-kunang kelabu”
Q. Al Hajj: 1-2, 7 dan 55 yang terjemahannya: “Wahai ummat manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan datangnya hari kiamat adalah suatu peristiwa yang amat dahsyat. Pada hari itu engkau lihat wanita yang lagi menyusu lupa akan anaknya dan wanita yang hamil mendadak
melahirkan bayinya; engkau lihat manusia mabuk kebingungan, padahal mereka tidak mabuk, hanya siksaan Allah yang amat hebat. Dan sesungguhnya “as sa’ah (kiamat) pasti datang, tidak ragu lagi, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan orang-orang yang dalam kubur. Dan orang-orang kafir tetap dalam keraguan, sehingga datang “as sa’ah” dengan mendadak atau mereka mengalami azab sengsara yang amat dahsyat”
Q. At Taubah: 35, yang terjemahannya: “Di hari itu semuanya dijerumuskan dalam neraka jahannam, lantas terbakar hanguslah dahi, rusuk dan punggung mereka.”
Q. At Taubah: 113, yang terjemahannya: “Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman bertindak meminta ampun kepada orang-orang musyrik, sekalipun kaum kerabatnya sendiri, karena telah nyata bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim”
Q. Al Mukmin: 7—18, yang terjemahannya: “Para Malaikat yang menjaga Arasy dan orang-orang sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman dengan-Nya, selanjutnya mereka meminta ampunan bagi orang-orang mukmin: Oh Tuhan kami, amat luaslah rahmat dan pengetahuan Engkau mengenai segala-galanya. Karena itu, ampunilah orang-orang yang kembali (taubat) kepada-Mu dan mengikuti Jalan Engkau, dan bebaslah mereka dari siksaan neraka. ” ‘Oh Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam sorga adnin yang telah Engkau janjikannya kepada mereka dan kepada orang-orang saleh yang terdiri dari bapak-bapak dan isteri-isteri serta turunan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.”
“Dan jauhilah mereka dari perbuatan-perbuatan yang salah, dan siapa yang Engkau pelihara dari kesusahan, sesungguhnya Engkau telah merahmatinya, dan itu adalah keberuntungan besar.”
“Sesungguhnya orang-orang kafir pada hari itu diseru: Benarlah kutukan Allah lebih besar daripada kutukanmu kepada dirimu sendiri, di mana kamu dipanggil untuk beriman, tetapi tetap menjadi kafir.
“Mereka berkata: Oh Tuhan kami, telah dua kali Engkau mematikan dan menghidupkan kami. Karena itu, kini kami sadar akan segala dausa kami, apakah masih ada bagi kami jalan keluar ?”
“Hal itu adalah karena kamu membangkang waktu dijelaskan bahwa Allah itu Esa, sedangkan kamu mempercayai kalau dipersekutukan Allah. Segala kekuasaan berada di tangan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.”
“Allah yang memperlihatkan kepadamu ayat-ayat kebenarannya dan menurunkan rezki untukmu dari langit. Hanyalah orang-orang yang taubat, yang dapat menyadarinya.”
“Karena itu, berdoalah kepada Allah dan beragama karena-Nya, semata, sekalipun orang-orang kafir jengkel.”
“Allah Yang Maha tinggi Penguasa Arasy, menurunkan ruh kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, untuk memberi peringatan tentang datangnya hari pertemuan.”
“Yaitu hari di mana semua mereka hadir nyata, dan semua hal ihwal mereka tidak tersembunyi bagi Allah. Di tangan siapakah kekuasaan pada hari itu? Sudah pasti di tangan Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa.”
“Hari di mana tiap-tiap pribadi mendapat balasan sesuai dengan amal usahanya; pada hari itu tidak ada penganiayaan. Sesungguhnya Allah Mahacepat membuat perhitungan.”
“Dan berilah mereka peringatan tentang sudah dekatnya datang hari itu, ketika mana hati menyesak sampai kerongkongan; tidak akan ada bagi orang dhalim teman dan pembantu yang setia”

Baca artikel terkait:

🔆👣🔆👣🔆👣🔆👣🔆
⚔️🛡Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
📇 Klik ➡️JOIN⬅️ Channel Telegram: http://bit.ly/tukpencarialhaq
🌎 http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.