Translator

saudiarabia inggris francis cina koreautara japan jerman belanda.

penjelasan thdp nasehat yg ditulis ibrahim arruhaili
bongkar fitnah alhalabi

Download

E-Books Free

Mutiara Salaf

أنت تكثر سواد أهل الضلال إذا كنت تراهم وتسكت عنهم ، أنت مؤيد ومشجع لهم إذا كنت تراهم يعيثون في الأرض فساداً وتسكت . المجموع280/14

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Engkau memperbanyak jumlah Ahlu Dholal (adalah) jika engkau melihat mereka namun engkau diam (tidak mengingkari mereka). Engkau (adalah) pendukung dan supporter mereka jika engkau melihat mereka melakukan kerusakan di muka bumi, namun engkau hanya membisu” (Majmu’ Fatawa 14/280)

"سنناطح ونجادل وندافع عن السنة وعن ديننا وليقل الأعداء ما يشاؤون"

Al-Imam Muqbil Al-Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Kami akan terus menghadang dan membantah (kesesatan) dan kami akan terus membela as-Sunnah dan agama kami. Dan silahkan para musuh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." [Kaset "Adh-Dhargham as-Sady"]

Tulisan Terbaru

tukpencarialhaq versi android new

PROVOKASI MENUMPAS WAHABI DARI BUMI ACEH, GERAKAN MENGUBUR dan MEMANIPULASI SEJARAH SERTA MELECEHKAN KEHORMATAN PARA “WAHABI” PAHLAWAN PERANG SABIL MELAWAN PENJAJAH KAFIR BELANDA bag.4 (Jihadnya Dua Orang Sahabat, “Wahabi” Aceh Panglima Perang Sabil & Penulis HIKAYAT PRANG SABI, Siapakah Mereka Rahimahumullah?)

bismillahirrohmanirrohim

PROVOKASI MENUMPAS WAHABI DI BUMI ACEH, GERAKAN MENGUBUR & MEMANIPULASI SEJARAH SERTA MELECEHKAN KEHORMATAN PARA “WAHABI” PAHLAWAN PERANG SABIL MELAWAN PENJAJAH KAFIR BELANDA (4)

KARENA ALLAH, KEMUDIAN SEJARAH:: JIHADNYA DUA ORANG SAHABAT, “WAHABI” ACEH PANGLIMA PERANG SABIL & PENULIS HIKAYAT PRANG SABI, SIAPAKAH MEREKA RAHIMAHUMULLAH?

 

Anti-Wahabi Telanjang Bulat di Panggung Sejarah Aceh. Spanduk telah dibentangkan, masyarakat telah pula diprovokasi untuk turun ke jalanan… diantara isinya: “Usir Wahabi dari Serambi Mekah”, “Wahabi Haus Darah Ulama”, “Rakyat Aceh Menolak Wahabi”, “Tumpas Wahabi” dst….

Gambar 1. Iya, Wahabi Aceh digambarkan sebagai kelompok sesat, gagasan Yahudi untuk merusak umat Islam.

Seperti apa sih kiprah Wahabi Aceh itu? Siapa mereka? Benarkah Wahabi muncul pasca bencana Tsunami 2004?

Saatnya membuka lembaran sejarah, buang jauh-jauh kepalsuan dan provokasi, tertipulah orang yang tertipu, marahlah orang yang marah dan sadarlah orang yang sadar. Kaum muslimin juga memiliki hak untuk mengetahui sejarah gilang-gemilang dari salah satu perang terlama di dunia, perang Sabil di Tanah Aceh…. Pesan yang sangat jelas,

Jas Merah, Jangan Sekali-kali Memanipulasi Sejarah!!

Pengantar penulis (A. Hasjmy)
Nukilan:

1. Hikayat Prang Sabi telah menjiwai setengah abad “Perang Aceh,” mungkin telah umum diketahui orang. Tetapi, apa dan bagaimanakah Hikayat Prang Sabi itu, mungkin sedikit sekali diketahui umum.
2. Pada tanggal 16 Desember 1961, saya pernah memberi kuliah kepada para Mahasiswa Kursus “C” S.S.K.A.D. tentang Kerajaan Aceh Darussalam di mana saya mengemukakan studi Hikayat Prang Sabi sebagai satu bahagian dari kulliah itu. Sehabis kulliah beberapa orang jendral mahasiswa pengikut kursus menyarankan agar saya mengarang sebuah buku tentang hikayat yang terkenal itu.
3. Bahan-bahan untuk menyusun buku dimaksud telah lama saya kumpul, tetapi sekian lama pula waktu berlalu sedangkan saya belum sempat memulai karya yang seharusnya telah beberapa tahun yang lalu selesai.
4. Kesulitan pertama yang saya hadapi, karena terdapat perbedaan-perbedaan kecil pada naskah-naskah Hikayat Prang Sabi yang telah beberapa kali disalin dari naskah ke naskah, yang berpindah dari tangan ke tangan. Akhirnya saya berpegang pada dua naskah, yang menurut anggapan saya lebih mendekati kebenaran, karena antara kedua naskah tersebut tidak ada perbedaan-perbedaan yang prinsipil, kecuali perbedaan penulisan dan satu-satu perbedaan pemakaian kalimat.
Dua naskah yang ada pada saya itu, yaitu :
a. Naskah tulisan Arab yang berasal dari Almarhum Sdr. Abdullah Arif MA, yang disalin ke dalam huruf Laten oleh Sdr. Anzib Lamnjong,
b. Naskah tulisan Arab yang berasal dari Sdr. Teungku M. Junus Djamil, yang telah disalin ke dalam tulisan Laten oleh Sdr. M. Junus Djamil sendiri.
(Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda. A. Hasjmy, hal. 9-10)

Gambar 2. Sampul buku

Dan berikut ini kami lampirkan sambutan dari Panglima Komando Wilayah Pertahanan – I Wilayah Sumatra, Letnan Jenderal Ahmad Thahir atas penerbitan buku ini, Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda.

Gambar 3. Kata pengantar dari Pangkowilhan I- Sumatra

Selanjutnya kami tampilkan bagian akhir dari kata pengantar dari Gubernur Aceh pada masanya sebagai petunjuk nilai penelitian dan keilmiyahan buku ini:

Gambar 4. Kata pengantar Gubernur Daerah Istimewa Aceh atas buku ini

🎁 HIKAYAT PRANG SABI DI MATA ORANG BELANDA

Hikayat Prang Sabi sebagai media dakwah yang sanggup membangkitkan semangat perang dan jihad fi Sabilillah untuk melawan serdadu-serdadu alat kolonial Belanda, dipandang oleh pimpinan tentara dan pentadbiran pemerintahan militer Hindia Belanda senjata yang sangat berbahaya, sehingga karenanya dilarang membaca, menyimpan dan mengedarkannya.
Ini adalah suatu hal yang jelas !

Tetapi, Hikayat Prang Sabi di mata sarjana dan sastrawan Belanda lain pula halnya.
Karena Hikayat Prang Sabi sanggup membangkitkan keberanian luar-biasa dalam hati Rakyat Aceh, maka hal tersebut menarik perhatian sejumlah sarjana Belanda untuk meneliti dan mempelajarinya, terutama mereka yang ahli bahasa Aceh. Salah seorang diantara sarjana Belanda yang menaruh perhatian sangat besar terhadap Hikayat Prang Sabi, yaitu Pro f.Dr. Christiaan Snouck Hurgronje (1857—1936), seorang ahli Aceh dalam arti yang luas.

Tentang ketinggian nilai sastra Hikayat Prang Sabi sebagai sebuah Karya Sastra Perang telah dipelajari dan diteliti secara mendalam oleh sejumlah sastrawan Belanda, tentunya sastrawan Belanda yang ahli bahasa Aceh.

Seorang ahli bahasa dan sastra Aceh, H T. Damste, yang pernah menjadi Controleur di Idi Aceh Timur, telah membahas Hikayat Prang Sabi dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Belanda, yang disiarkan dalam Bijdragen Tot de Taal—Land—en Volkenkunde van Nederlandse h—Indie Deel 84, yang diterbitkan di negeri Belanda oleh Het Koninklijk Instituut voor de Taai- Land—en Volkenkunde van Nederlandsch—Indie. Uraian H.T. Damste tersebut telah menarik perhatian yang luas di negeri Belanda dan dalam lingkungan ahli-ahli sastra dunia.

Karena itu, H.T. Damste telah berjasa memperkenalkan Karya Sastra Hikayat Prang Sabi kepada Dunia Barat, sehingga ia telah menjadi salah satu bacaan wajib bagi para mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sastra Aceh di Negeri Belanda, dan juga menjadi perhatian para mahasiswa Fakultas Sastra pada umumnya.
* * *

Untuk menghadiri Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh dan Hari jadi Universitas Syiahkuala pada tanggal 2 September 1977 yang lalu, Gubernur/Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, telah mengundang sejumlah orang-orang terkemuka dalam Dunia Pendidikan untuk menghadirinya, termasuk dua orang Sarjana Belanda yang’ sangat terkenal, yaitu Dr. A.J. Piekaar dan Prof. Dr. A. Teuw, seorang ahli bahasa dan sastra Indonesia, pengarang buku Pokok Dan Tokoh Dalam Kesusastraan Indonesia Baru.

Dr. A.J. Piekaar yang di negeri Belanda dewasa ini mendapat predikat : Paus Ilmu Pengetahuan, pernah tinggal di Aceh sebagai alat dari Pemerintah Hindia Belanda; mula-mula menjadi Aspiran Controleur di Langsa; kemudian menjadi Controleur di Idi, Singkel dan Sigli; terakhir sekali menjadi Sekretaris Keresidenan Aceh sampai masuk Balatentara Jepang dan ditawan bersama orang-orang Belanda yang lain.

Selama dalam tawanan, Dr. A.J. Piekaar telah mengarang sebuah buku yang sangat bernilai, yaitu Aceh en de Oorlog Met Japan, sebuah buku tentang Aceh yang ditulis oleh bekas musuh orang Aceh. Dalam Ensiklopedia Islam yang besarnya puluhan jilid, yang diterbitkan dalam bahasa Inggeris, Perancis, Arab dan lain-lain,

Dr. A.J. Piekaar telah menulis tentang Aceh hampir 20 halaman banyaknya.
Di Negeri Belanda dewasa ini, Dr. A.J. Piekaar dikenal sebagai seorang Pencinta Aceh.
Dr. A.J. Piekaar dan Prof. Dr. A. Teuw datang ke Aceh pada tanggal 2 September 1977 yang lalu bersama-sama dengan nyonyanya masing-masing, memenuhi undangan Gubernur Aceh.
Prof. Dr.A. Teuw di Banda Aceh, antara lain telah memberi ceramah di depan para sarjana IAIN Jami’ah Ar Raniry Darussalam. Dr. A.J. Piekaar mendapat tugas untuk membaca Orasi Ilmiyah dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Syiahkuala; orasi ilmiyah mana berjudul : Pengetahuan Dan Masyarakat.

Dalam Orasi Ilmiyah-nya itu, dengan sengaja Dr. A.J. Piekaar membicarakan sedikit tentang Hikayat Prang Sabi, yang antara lain ditulisnya :
“Kita merasa berbahagia bahwa bagi Aceh sebagai bahagian dari Indonesia Merdeka tidak ada alasan lagi untuk prang sabi dan kita harap akan tumbuh pertalian-pertalian baru sehingga kita berhubungan antara kita pada taraf yang sama, sebagai berlaku pada saat sekarang ini. Sebagai lambang penutup priode ini, izinkanlah saya menyampaikan pada Rektor Universitas Syiahkuala dan Rektor Institut Agama Islam Negeri Jami’ah Ar Raniry satu Hikayat Prang Sabi, sebagai yang telah diterbitkan oleh H.T. Damste, seorang ahli terkenal mengenai Aceh, pada tahun 1928 dalam jilid 84 Bijdragen van het Konijnklijk Instituut voor de Taal—, en Volkenkunde.”

“Penyelidikan Hikayat Prang Sabi ini bukan perkara baru bagi tuan-tuan. Pada tahun 1971, A. Hasjmy menerbitkan Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda dengan kata pengantar Gubernur Aceh. Melihat perhatian ini saya harap agar penerbitan itu, tidak sebagai alat menaikkan semangat perang, tetapi sebagai dokumen sejarah, kenang-kenangan akan priode yang semua kita harap sudah ditutup erat-erat, dan akan mendapat tempat dalam perpustakaan di kedua Institusi tuan-tuan… “

Demikian Dr AJ. Piekaar tentang hikayat Prang Sabi dalam Orasi Ilmiyahnya yang berjudul : Pengetahuan dan Masyarakat yang diucapkan dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Syiahkuala pada tanggal 2 September 1977 di Banda Aceh.

Gambar 5. Dokumentasi acara orasi ilmiyah sejarah Perang Sabil di Tanah Aceh

Dari kesan Dr. A.J. Piekaar tersebut di atas kita masih dapat merasa betapa besar pengaruh Hikayat Prang Sabi di mata orang Belanda pada umumnya, dalam membangkitkan semangat orang Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda.
(Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda. A. Hasjmy, hal. 19-22).

🎁 PERNYATAAN PERANG 26 MARET 1873

Setelah terjadi beberapa kali surat menyurat yang tegang antara Sulthan Kerajaan Aceh Darussalam dengan Komisaris Pemerintah Belanda Nieuwenhuijzen yang berlindung di atas kapal perang “Citadel van Antwerpen”, maka surat “Pernyataan Perang” Belanda kepada Kerajaan Aceh yang telah ditulis pada tanggal 26 Maret 1873, disampaikanlah kepada Sulthan pada tanggal 1 April 1873; pernyataan mana selengkapnya berbunyi :(1)

“Komisaris gubernemen Hindia Belanda untuk Aceh;

Menimbang bahwa bagi gubernemen Hindia Belanda terpikul kewajiban untuk membersihkan segala rintangan dalam memelihara kepentingan umum atas perniagaan dan pelayaran di kepulauan Hindia Timur;

Bahwa kepentingan umum itu telah terganggu oleh berlanjutnya pertentangan antara sesama negeri rantau takluk Aceh, diantaranya ada yang telah datang meminta bantuan Gubernemen Hindia Belanda, tetapi masih saja belum bisa diberikan;

Bahwa keinginan yang berulang-ulang dikemukakan oleh gubernemen supaya keadaan sedemikian jangan terjadi lagi dan keinginan supaya ditentukan kedudukan Aceh dalam hubungan yang lebih tepat kepada Gubernemen Hindia Belanda, tetapi selalu saja terhambat oleh keengkaran dari pihak pemerintah Kerajaan Aceh dan oleh kelengahan kerajaan itu untuk memelihara ketertiban dan keamanan yang diperlukan dalam daerah takluknya;

Bahwa percobaan untuk keperluan itu telah disambut dengan amat curang di kala Gubernemen Hindia Belanda sedang didekati dengan maksud membina perhubungan lebih akrab dengan Aceh;

Bahwa telah diminta penjelasan kepada Sulthan Aceh, mula-mula dengan surat tanggal 22 bulan ini sesudah itu pada tanggal 24, hasilnya tidak hanya tidak diberikan sama sekali penjelasan itu, tetapi juga telah tidak membantah segala apa yang didakwakan dalam surat itu dan lebih dari itu pula telah digiatkan mengumpul apa saja untuk mengadakan perlawanan;

Bahwa dengan itu tidak bisa lain artinya selain bahwa Aceh menantang Gubernemen Belanda dan sikap permusuhannya semula hendak dipertahankannya;

Bahwa karena itu pemerintah kerajaan Aceh telah bersalah melanggar perjanjian yang sudah diikatnya dengan Gubernemen Hindia Belanda bertanggal 30 Maret 1857 tentang perniagaan,
perdamaian dan persahabatan, yang karena itu meyakinkan bahwa pemerintah kerajaan tersebut tidak dapat dipercayai;

Bahwa permintaan Hindia Belanda dalam keadaan sebagai ini merasa tidak mungkin lagi mempertahankan kepentingan umum sebagai yang diperlukan demi keamanan sendiri di bagian utara Sumatera, apabila tidak diambil tindakan kekerasan.

Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh pemerintah Hindia-Belanda, ia atas nama Pemerintah, menyatakan perang kepada Sulthan Aceh. Dengan pernyataan ini setiap orang diperingatkan terhadap beradanya mereka di bawah akibat perang dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam perang.

Termaktub di kapal perang “Citadel van Antwerpen” yang berlabuh di Aceh besar, pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873,

(Tertanda) Nieuwenhuijzen.
Disalin sama bunyinya :
Sekretaris d/p komisaris pemerintah untuk
Aceh.
(Tertanda) Cantervisser.

Sebenarnya sejak semula Pemerintah kerajaan Aceh telah meyakinkan bahwa pemerintah kolonial Belanda telah siap untuk menjajah Aceh, kalau mungkin dengan gertak, tetapi ternyata bahwa Aceh tidak dapat ditaklukkan hanya dengan gertak-sambal, terbukti dari kandungan surat Sulthan yang terakhir kepada komisaris Nieuwenhuijzen, yang antara lain berbunyi : (2)

“Surat yang telah kita kirimkan pada hari Ahad yang baru lalu telah tidak diberi tanggal hari bulan, hanya karena kesilapan belaka. Mengenai dengan permakluman yang dimaksud dalam surat kita itu, isinya tidak lain daripada mengemukakan bahwa dari pihak kita tidak ada tumbuh sedikitpun keinginan untuk merobah hubungan persaliabatan yang sudah diikat. Sebab kita hanya seorang miskin dan muda dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Akhirul kalam kita sampaikan kepada tuan-tuan sekaliannya.
Termaktub pada 1 hari bulan Safar 1290 (1 April 1873)”.

Isi surat Sulthan ini yang bunyinya seakan-akan terasa lembut, tetapi pada hakikatnya adalah suatu pernyataan keteguhan hati dan iman seorang Muslim sejati, yang hanya mengakui “kekuasaan dan perlindungan” Tuhan semata, seperti yang terpancar jelas dari kalimat-kalimat : “dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.”

Kalimat-kalimat itu sasaran utamanya ditujukan untuk menolak dengan tajam surat komisaris Nieuwenhuijzen bertanggal 27 Maret 1873, yang antara lain berbunyi (3)”

“Andainya sripaduka tuanku tidak bersedia mengakui kedaulatan raja Belanda atas negeri Aceh, maka dengan tidak dapat ditarik kembali lagi akan dipertimbangkanlah berlangsungnya penyerangan”.

Kalau komisaris Nieuwenhuijzen dapat menyadari api yang menyala dalam kelemah-lembutan surat Sulthan itu, yang melukiskan keteguhan iman rakyat Aceh. akan berjihad fi Sabilillah untuk mempertahankan kedaulatan negaranya, pasti dia akan mengurungkan niat agressinya kepada Aceh.

Ketaksanggupan Nieuwenhuijzen memahami apa yang tersirat dari surat Sulthan itu, telah menjerumuskan serdadu-serdadu sebangsanya atau antek-anteknya ke dalam nereka dunia sepanjang Belanda menjajah Aceh, seperti yang dapat kita baca dalam buku-buku sejarah.

Agressi Belanda yang pertama di bawah pimpinan Mayor Jendral Kohier dengan kekuatan 168 orang perwira dan 3800 serdadu Belanda dan sewaan, yang dilakukan pada pagi hari tanggal 10 Muharram 1290 (5 April 1873), telah dihancurlumatkan oleh Angkatan Perang Aceh yang gagah berani, sehingga setelah 18 hari bertempur dengan sia-sia, sisa-sisa serdadu Belanda lari puntang-panting ke kapal-kapalnya, dengan meninggalkan sekian banyak bangkai serdadunya yang mati konyol sementara bangkai panglimanya Mavor Jendral J.H.R. Kohier pada tanggal 15 April 1873 masih sempat dilarikan ke kapal, sedangkan komisaris Nieuwenhuijzen setelah melemparkan serdadu-serdadunya ke dalam neraka dunia terus lari menyelamatkan diri ke Penang dengan kapal perang “Citadel van Antwerpen”, yaitu pada tanggal 1 April 1873 setelah dia menyampaikan kepada Sulthan “pernyataan perang 26 Maret 1873.” (4)

“Pernyataan Perang 26 Maret 1873”, selain telah memusnahkan puluhan ribu serdadu-serdadu Belanda dan sewaan, juga telah menampilkan ke arena dunia internasional mujahid-mujahid dan pahlawan-pahlawan perang Aceh yang kenamaan, seperti Teungku Tjhik Muhammad Saman Tiro,Teuku Panglima Polem, Teuku Lung Bata, Teuku Umar Johan Pahlawan, Tjut Nyak Dhien, Tjut Meutia, Panglima Nyak Makam, Teungku Haji Muhammad yang lebih terkenal dengan nama Teungku Tjhik Pante Kulu dan masih terlalu banyak lain-lainnya untuk disebut.

Kalau Pernyataan Perang 26 Maret 1873 tidak ada, tentu 50 tahun perang Aceh lawan Belanda tidak ada pula, dan kalau perang Aceh lawan Belanda tidak ada, tentu Teungku Tjhik Pante Kulu tidak akan muncul sebagai “Penyair Perang Terbesar di dunia dengan karya sastranya Hikayat Prang Sabi.

🎁 PERANAN ULAMA DALAM PERANG ACEH

Kegagalan total dalam agressinya yang pertama tidak membuat Belanda menjadi sadar, malah dengan angkuh yang bercampur ketakutan Belanda mempersiapkan agressi keduanya, yang
didahului dengan gerakan subversif dan pengintipan di bawah pimpinan konsulnya di Penang, G. Lavino.(5)

Setelah usaha Kepala Mata-Mata G. Lavino dianggap matang, maka Gubernur Jendral Hindia Belanda Loudon mengangkat Letnan Jendral J. Van Swieten menjadi Panglima Agressi kedua tentera Hindia Belanda merangkap menjadi Komisaris Pemerintah Belanda untuk Aceh.(6)

Dengan dibebani tugas untuk menaklukkan Aceh dengan kekerasan, yang dibuat dalam sebuah instruksi oleh Loudon bertanggal 16 Nopember 1873, maka pada tanggal 16 Nopember 1873 berangkatlah panglima agressi kedua, Letnan Jendral J. Van Swieten menuju Aceh dengan membawa 60 buah kapal perang, yang diperlengkapi dengan 206 pucuk meriam, 22 pucuk mortir, 389 perwira, 7888 serdadu biasa, 32 orang perwira dokter, 3565 orang hukuman laki-laki yang dipaksa untuk berperang, 243 orang hukuman perempuan yang mungkin dijadikan tempat serdadu-serdadunya melampiaskan hawa nafsunya, pastor, guru agama,antek-antek kakitangannya seperti Sidi Tahil, Datok Setia Abuhasan, Mas Sumo Widikdjo, Mohammad Arsyad, Ke Beng Swie, Pie Auw, Josee Massang, Li Bieng Tjhet, Tjo Gee, Si Diman, Ramasamy, Si Kitab, Ameran, Malela dan Said Muhammad bin Abdurrahman Maysore. (7)

Pada tanggal 28 Nopember 1873 tentara kolonial Belanda di bawah pimpinan van Swieten tiba di pelabuhan Aceh dan pada tanggal 9 Desember 1873 tentara kolonial Belanda dibawah pimpinan Mayor Jendral Verspijck mendarat dipantai Kuala Lue dan besoknya berkumpul di Kuala Gigieng, dan setelah enam hari kemudian mereka baru dapat mencapai Kuala Aceh, yang kemudian menuju Peunayong dan Gampong Jawa, di mana sejak hari pertama mereka mendarat sampai direbutnya “Dalam” (keraton), perlawanan yang didapatnya dari Angkatan Perang dan Rakyat aceh sungguh dahsyat sekali. (8)

Setelah menderita korban yang sangat banyak, maka pada tanggal 24 Januari 1873 bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1290, panglima agressor Letnan Jendral J. van Swieten dapat menduduki “Istana Kerajaan” yang telah dikosongkan, di mana pada saat itu dia mengirim kawat kemenangannya kepada Gubernur Jendral Loudon di Jakarta, yang berbunyi :

“24 Januari kraton is ons stop koning en vaderland gelukgewenschtmet deze over winning” (24 Januari kraton sudah di tangan kita titik raja dan tanah air diucapkan selamat ‘atas kemenangan ini).

Dân di samping kawat itu, van Swieten mengeluarkan pula sebuah proklamasi yang berbunyi :

“Bahwa Kerajaan Aceh, sesuai dengan hukum-perang, menjadi hak-milik Kerajaan Belanda”. Banda Aceh itu dinamainya “Kutaraja” dengan mendapat pengesahan dari Pemerintah Pusat pada tanggal 16 Maret 1874.(9)

Setelah Istana Kerajaan dan Ibukota Negara Banda Aceh diduduki seluruhnya, serta pusat pemerintahan dengan Sulthan telah dipindahkan ke pedalaman, mula-mula ke Lungbata, kemudian ke Indrapuri dan seterusnya ke Keumala Dalam, setelah beberapa tempat penting di Aceh Besar direbut pula maka keadaan sudah sangat kritik. (10)

Untuk mengatasi keadaan yang sudah demikian gawatnya, beberapa langkah penting telah diambil, sehingga situasi dapat dikendalikan kembali.
Setelah Istana Kerajaan ditinggalkan, maka sejumlah kira-kira 500 orang para pemimpin terkemuka mengadakan satu musyawarah kemudian mengikrarkan satu sumpah dibawah pimpinan Imeum Lungbata dan Teuku Lamnga; sumpah yang diucapkan bersama dengan suara yang mengguntur, yang menyatakan “wajib perang sabil” untuk mengusir kafir Belanda.

Atas dasar wajib jihad yang diikrarkan bersama dalam musyawarah itu, maka ulama-ulama menjadi aktif dan mengambil peranan penting, baik sebagai pemimpin perang maupun sebagai pengawas koordinasi perlawanan total rakyat terhadap Belanda. (11)

Ketentuan-ketentuan terhadap rakyat umum, menurut keputusan musyawarah itu, ialah :
1) Sifat jihad, rakyat yang diwajibkan turut serta memanggul senapang atau kelewang (tegasnya bertempur) adalah mereka yang sudah menyatakan sukarela untuk ambil bahagian langsung ;
2). Rakyat diwajibkan gotong-royong untuk segera memperbaiki mesjid yang rusak akibat perang supaya kewajiban ibadat tetap terpelihara ;
3). Rakyat diwajibkan gotong-royong untuk bersama-sama mengatasi akibat perang ;
4). Dalam masa perang dilarang mengadakan pertemuan-pertemuan sukaria yang tiada bertalian dengan agama, seperti seudati dan yang seperti itu ;
5). Setiap yang membutuhkan bantuan, wajib diberi bantuan oleh penduduk, terutama jika mereka memerlukan pemondokan dan persembunyian ;
6). Apabila diperlukan untuk membikin benteng (kuta), rakyat diwajibkan bergotong-royong ;
7). Ulama setempat berwenang memberikan bantuan dan/atau menerima pengaduan-pengaduan rakyat di dalam mengatasi kesulitan yang dideritanya.

Di samping konsolidasi dalam negeri yang dijalankan dengan berhasil, juga Dewan Delapan yang berkedudukan di Penang dan diketuai oleh Teuku Paja menjalankan kegiatan diplomasi. (12)

Dengan suratnya yang bertanggal 20 Muharram 1291 (8 Maret 1874), dari Penang Dewan Delapan melaporkan kepada Kerajaan Aceh Darussalam dengan perantaraan Teuku Panglima Polem
laporan antara lain sebagai berikut :
“Bersama ini kami menyampaikan perkabaran dari Penang, bahwa pada dewasa ini hal ikhwal antara kerajaan negeri Aceh dengan negeri Belanda telah menjadi masalah negeri-negeri besar di Eropah. Terutama dengan bantuan kerajaan ratu Victoria negeri Inggris, dengan campur tangan negeri Eropah, mudah-mudahan pengepungan dilaut dalam dua bulan ini akan dicabut.
Demikian kami mendapat kabat.
Kamipun ingin mengabarkan juga bahwa Perdana menteri Inggeris bernama Gladstone sudah diganti oleh Perdana Menteri baru yang bernama Disraeli, Gladstone dijatuhkan karena terlalu menyebelah Belanda. Sedangkan sebaliknya Disraeli bukanlah sahabat Belanda.
Belanda sendiri pada waktu ini mengalami kesusahan uang. Kopi yang belum sampai (masih dalam perjalanan) sudah dijual murah-murah, sebab Belanda kekurangan uang. Selain daripada itu luas tersiar kabar bahwa Belanda telah banyak sekali tewas di dalam pertempuran. Jumlahnya 7000 orang. Demikian juga jendral-jendralnya, dan sejumlah 27 opsir yang berpangkat tinggi-tinggi mati, dan ada seorang panglima bernama Nono Bixio dan ada pula seorang pangeran Jawa turut tewas “. (13)

Surat laporan yang mengandung dorongan bertempur terus telah disambut dengan hangat di Aceh.
Di Lamsie, Aceh Besar, diadakan pula sebuah rapat rahasia yang dihadiri oleh Teuku Panglima Polem, Teungku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abee dan sejumlah ulama-ulama dan ulebalang-ulebalang yang belum menyerah kepada kompeni Belanda. Yang menjadi acara perundingan, yaitu menggiatkan perang jihad untuk mengusir Belanda.

Dalam rapat itu Teungku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abee menegaskan bahwa tenaga perjuangan masih belum hancur seluruhnya, tetapi yang sudah kurang yaitu kesucian batin dan kekuatan iman, yang akhirnya beliau menutup nasehatnya dengan kata-kata yang sangat berkesan:

“Sebelum kita memerangi musuh lahir, perangilah musuh batin dahulu, yaitu hawa nafsu. Harta rakyat yang ada pada kita masing-masing yang telah diambil karena menurut hawa nafsu, serahkanlah kembali dengan segera. Janganlah rakyat itu selalu ‘ teraniaya, tegakkanlah keadilan di tengah-tengah kita terlebih dahulu, sebelum kita minta keadilan pada orang lain. Dari itu tobatlah wahai teuku-teuku dahulu sebelum mengajak rakyat memerangi kompeni. Kalau tidak juga dikembalikan harta rakyat yang diambil dengan jalan yang tidak sah, yakinlah rakyat akan membelakangi kita dan kita akan tersapu bersih dari Aceh ini, melebihi dari yang sudah-sudah.

Kalau yang saya minta teuku-teuku penuhi, maka saya akan bersama-sama teuku-teuku ke medan perang. Bila tidak, saya dan murid-murid saya jangan dibawa serta”.(14)

Nasehat Teungku Tjhik Tanoh Abee ini dikuatkan oleh Teuku Panglima Polem, yang menganjurkan agar semua hulubalang kembali kepada ajaran Allah.
Kaum mujahid yang bergerak sekitar Lembah Seulawah berkumpul mengadakan rapat rahasia di Gunung Biram, Seulimeum. Dalam rapat tersebut, kecuali membicarakan masalah taktik dan strategi perang gerilya melawan serdadu-serdadu Belanda, juga diputuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Pidie untuk menjumpai Teungku Tjhik Dayah Tjut Tiro, yaitu Teungku Muhammad Amin, seorang ulama yang amat besar pengaruhnya.” (15)
(Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda. A. Hasjmy, Hal. 36-41)

🎁TEUNGKU TJHIK DI TIRO, SANG “WAHABI” ACEH RESMI DIANGKAT SULTAN ACEH SEBAGAI PANGLIMA PERANG SABIL MELAWAN PENJAJAH KAFIR BELANDA (peny.)

Nukilan:
Dalam suatu pertemuan dengan para Ulama dan pemimpin rakyat terkemuka di Tiro yang dipimpin oleh Teungku Tjhik Muhammad Amin Dayah Tjut, delegasi dari Gunung Biram mengemukakan kegawatan yang sedang melanda Aceh Besar, sehingga rapat akhirnya memutuskan untuk membantu perang ke Aceh Besar dengan mengirim sejumlah Ulama dibawah pimpinan kemenakan Teungku Tjhik Dayah Tjut sendiri, yaitu TEUNGKU HAJI MUHAMMAD SAMAN YANG BARU KEMBALI DARI MEKKAH, yang kemudian namanya termasyhur dengan “TEUNGKU TJHIK DI TIRO”.

Teungku Haji Muhammad Saman tidak saja mendapat mandat dan restu dari pamannya Teungku Tjhik Dayah Tjut, juga Sulthan yang sudah berkedudukan di Keumala Dalam memberi kuasa kepadanya untuk memimpin “Perang Sabil” melawan Belanda, dengan mengangkat beliau menjadi Wazir Sulthan atau Menteri istilah sekarang.” (16)

Dalam perjalanan dari Tiro ke Aceh Besar, diberbagai tempat sepanjang jalan, Teungku Haji Muhammad Saman mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para Ulama dan Pemimpin rakyat dalam rangka mengobarkan semangat jihad, seperti di Garut, Padangtiji, Gunung Biram, Tanoh Abee, Je Alang, Lamsie. Para Ulama dan pemimpin rakyat yang dijumpainya, termasuk Teungku Panglima Polem dan Teungku Tjhik Tanoh Abee, telah menjanjikan akan membantu usaha perang Teungku Tjhik di Tiro.

Gambar 6. Teungku Haji Muhammad Saman yang baru kembali dari Mekah tidak saja mendapat mandat dan restu dari pamannya Teungku Tjhik Dayah Tjut, juga Sulthan yang sudah berkedudukan di Keumala Dalam memberi kuasa kepadanya untuk memimpin “Perang Sabil”

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya Teungku Tjhik di Tiro membina Markas Besarnya di Mureu dekat Indrapuri, dari sanalah beliau mengirim utusan kesegala penjuru Aceh untuk menjumpai para Ulama dan pemimpin rakyat, sehingga dalam waktu tiga bulan saja keadaan di seluruh Aceh, terutama di Aceh Besar, telah terbakar oleh panasnya api jihad.

🎁Teungku Haji Muhammad Pante Kulu Pulang dari Mekah, Bergabung Jihad Fi Sabilillah Bersama Sahabatnya, Panglima Perang Sabil Teungku Tjhik di Tiro (peny.)

Selagi Teungku Tjhik di Tiro sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan angkatan Perang Sabil, datanglah menjumpai beliau Teungku Haji Muhammad Pante Kulu yang baru saja pulang dari Mekkah, yang dikirim oleh pamannya Teungku Tjhik Dayah Tjut. (17).

Gambar 7. Wahabi itu bernama… Di samping belajar, Teungku Haji Muhammad Pante Kulu MENGADAKAN HUBUNGAN DENGAN PEMIMPOIN-PEMIMPIN GERAKAN WAHABI YANG SEDANG MENGHANGAT juga dengan pemimpin-pemimpin Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Teungku Haji Muhammad Pante Kulu, yang lebih terkenal dengan nama “Teungku Tjhik Pante Kulu” mempersembahkan kepada Teungku Tjhik di Tiro, sebagai Panglima Perang Angkatan Sabil, sebuah karya-sastra yang bernama Hikayat Prang Sabi, sumbangannya untuk membangkitkan semangat perang jihad (mengenai dengan Teungku Tjhik Pante Kulu dan Hikayat Prang Sabinya akan dibicarakan dalam pasal tersendiri).

Perang Sabil yang dilancarkan Rakyat Aceh di bawah pimpinan para Ulama, di mana Teungku Tjhik di Tiro duduk sebagai pemimpin tertinggi, benar-benar telah memusingkan kepala pimpinan Angkatan Perang Hindia Belanda yang sedang mabuk menang perang, seperti yang digambarkan Hazil :

” . . . . Teungku Tjhik di Tiro Syekh Saman dan barisan sabilnya yang berjumlah 6000 orang (jumlah yang sebenarnya puluhan ribu orang, A.H. ) menghebatkan serangan atas garis konsentrasi.
Ia telah mendirikan benteng-benteng yang berderet letaknya, seolah-olah mengurung kompeni dalam garis konsentrasinya.
Benteng-benteng ini memungkinkan bagi lasykarnya melakukan aksi sewaktu-waktu. Dari benteng-benteng ini keluar gerombolan-gerombolan, yang menyeberangi garis demarkasi kompeni yang lebarnya 1000 m. itu dan sampai ke batas pagar-besi kompeni.

Berbagai gerombolan berhasil menyusup liwat pagar besi sampai ke tengah-tengah daerah musuh dan mengamuk di sana. Banyak bencana yang mereka sebabkan; juga kaum wanita masuk ke dalam benteng musuh, dengan menyamar seperti penjual makanan di siang hari dan pejuang gerilya di waktu malam. Kian besar kemenangan mereka, kian hebat pula anjuran kaum penyair (maksudnya para penyanyi Hikayat Prang Sabi, A.H.) untuk melakukan perang sabil.

Tentara kompeni hampir tidak bisa bergerak : jalan kereta api dan jalan trem rusak, kawat tilpon yang menghubungkan benteng yang satu dengan yang lain digunting oleh lasykar. Menurut catatan administrasi ketentaraan yang sangat teliti, kawat yang hilang dirampas dalam setahun saja panjangnya 51 km.

🎁“WAHABI” TEUNGKU TJHIK DI TIRO MENYERU PIMPINAN KOMPENI BELANDA UNTUK MASUK ISLAM & MENGIKUTI SUNNAH RASUL (peny.)

Teungku di Tiro juga menulis surat kepada Residen van Langen, memajukan syarat-syarat atas mana perdamaian di Aceh dapat dilaksanakan (bunyinya antara lain) :

“Setahun yang lalu kami dalam sebuah surat kepada Tuan tentang mengadakan perdamaian memajukan dengan tegas syarat kami : demi Tuan Besar masuk dalam agama Islam dengan mengucapkan Syahadat, maka kami sudi mengadakan perjanjian dengan Tuan” demikian mulai surat Ulama yang masyhur itu. Ia menguraikan pula betapa lemah kedudukan Kompeni sejak ia mengurung diri dalam daerah konsentrasi :

“Tapi hingga sekarang kami tidak mendapat balasan dari Tuan atas surat kami. Sesungguhnya, apabila Tuan-Tuan memeluk agama Islam dan mengikuti Sunnah Rasul Allah, ini adalah yang sebaik-baiknya bagi Tuan-Tuan. Tuan akan selamat di dunia, tidak akan menderita bahaya dan ancaman dibunuh, tidak dihinakan harus lari menyelamatkan diri liwat sawah-sawah, pipa air, hutan dan jalan; sedangkan sekarang kehinaan yang sebesar-besarnya menanti Tuan, yakni bahwa Kompeni harus meninggalkan Aceh seluruhnya, miliknya dirampas semuanya oleh tangan kaum Muslimin Aceh yang miskin dan lemah ini! Malapetaka yang paling besar masih menanti Tuan; ialah hukuman hari kiamat, yakni di Neraka, menurut hukum Tuhan seru sekalian alam!”.

Gambar 8. Seruan Teungku Tjhik di Tiro kepada pemimpin kompeni agar memeluk agama Islam dan mengikuti Sunnah Rasul Allah.

Tegas syarat-syarat yang dimajukan oleh Teungku di Tiro!
Surat ini menggambarkan bagaimana kedudukan tentara kompeni telah merosot. Ini pula sebabnya, Pemerintah Belanda tidak dapat memberi jawab yang tepat atas ancaman ulama ini. Lama sekali baru Pemerintah di Den Haag mendapat “rumus yang tepat untuk menjawab tuntutan yang dimajukan itu”.

Pada tahun 1888 Menteri Daerah Jajahan Keuchenius menulis pada G.G. di Buitenzorg :
“Tuntutan yang tidak benar, bahwa kita harus masuk agama Islam, agaknya akan diakui juga oleh Teungku di Tiro, kalau ia membaca ayat 257 Sura ke-II dari Qur-an yang berbunyi : “Janganlah ada paksaan dalam agama; siapa yang menyangkal tahyul dan percaya Allah, dialah bersandar pada tongkat yang tidak akan patah-patah”. (18)

Dari jawab menteri ini terbukti, betapa Pemerintah Belanda menyegani musuhnya. Sebaliknya Belanda merasa malu terhadap luar-negeri, karena Aceh dalam masa 15 tahun belum tunduk-tunduk saja, sedangkan di lain bagian di dunia kekuasaan penjajah semakin kokoh”.(19)

Dari uraian-uraian di atas jelaslah, betapa besar peranan para Ulama dalam masa 50 tahun perang Aceh melawan Belanda.

🎁SIAPA PENGARANG HIKAYAT PRANG SABI?

Telah menjadi kebiasaan bagi pengarang-pengarang dan pujangga-pujangga Aceh di masa yang lalu, tidak mencantumkan namanya pada buku-buku karyanya, baik buku itu prosa ataupun puisi.
Demikianlah, dalam hikayat-hikayat Aceh yang semuanya dalam bentuk puisi, yang ditulis tangan dalam huruf Arab, kita tidak bisa mengetahui siapa pengarangnya, karena namanya memang tidak ditulis di atasnya, hal mana menimbulkan satu kesulitan bagi para penyelidik kesusastraan Aceh. Memang ada juga satu-dua buku hikayat yang disebut di dalamnya nama pengarangnya.

Hal ini tidak terkecuali dengan “Hikayat Prang Sabi”, dimana pada naskah-naskah yang disimpan oleh orang-orang yang berminat, sama sekali tidak ditulis siapa pengarangnya.
Dalam koleksi naskah-naskah hikayat Aceh diperpustakaan pribadi saya, terdapat dua naskah Hikayat Prang Sabi. Satu naskah berasal dari naskah lama yang disimpan oleh Teungku M. Junus Djamil seorang ahli sejarah, dan satu naskah lagi berasal dari naskah yang disimpan oleh Almarhum Sdr. Abdullah Arif M.A.

Kedua naskah ini disalin ke dalam huruf Latin oleh sdr. Anzib, seorang pengarang dan sastrawan Aceh, dengan dilengkapi satu uraian tentang ejaan bahasa Aceh dalam huruf Laten, keterangan tentang asal usul naskah dan tiga mukaddimah dalam bentuk puisi sebagai pengantar dari salinan naskah Hikayat Prang Sabi itu, masing-masing dari sdr. Abdullah M.A., Haji Zainuddin dan sdr. Anzib sendiri.

Pada kedua naskah Hikayat Prang Sabi yang tersebut di atas tidak dicantumkan nama pengarangnya, sehingga karenanya menimbulkan perbedaan pendapat tentang siapa sebenarnya pengarang Hikayat Prang Sabi.
Ada yang mengatakan, bahwa Hikayat Prang Sabi yang masyhur itu dikarang oleh Teungku Tjhik Tiro Muhammad Saman, ada yang mengatakan oleh Teungku Tjhik Kuta Karang; ada yang mengatakan oleh Teungku Tjhik Tanoh Abee, dan kebanyakan ahli mengatakan dikarang oleh Teungku Tjhik Pante Kulu yang bernama asli Haji Muhammad; saya termasuk dalam kelompok yang terakhir.

Menurut penyelidikan saya semenjak sebelum perang dunia kedua, bahwa yang banyak dipertengkarkan orang tentang siapa pengarang Hikayat Prang Sabi, yaitu antara Teungku Tjhik Tiro dengan Teungku Tjhik Pante Kulu.
Tetapi banyak orang tua yang saya jumpai yang ikut dalam perang bersama Teungku Tjhik Tiro dan Teungku Tjhik Pante Kulu, antaranya nenekanda saya sendiri Pang Abbas, menyatakan bahwa pengarang Hikayat Prang Sabi yang Masyhur itu adalah Teungku Tjhik Pante Kulu.

Dengan mengetahui bahwa Teungku Tjhik Tiro sendiri memang ada mengarang sebuah hikayat yang bernama Sa’labah, yang di dalamnya juga ada dicantumkan hal-hal yang berhubungan dengan “Prang sabi”, (20) maka dapatlah kita meyakini bahwa pengarang Hikayat Prang Sabi yang ditakuti Belanda itu adalah Teungku Tjhik Pante Kulu.

Dalam “mukaddimah” dari Hikayat Prang Sabi tersebut ada dilukiskan bahwa banyak para ulama sudah tidak menghiraukan urusan jihad memerangi kafir (Belanda), hanya Teungku Tjhik Tiro saja yang bukan demikian. Dengan adanya pelukisan ini sudah dapat dipastikan, bahwa bukanlah Teungku Tjhik Tiro yang mengarang Hikayat Prang Sabi, sebab tidak masuk akal bahwa beliau yang demikian saleh akan bertindak memuji diri demikian rupa.

Bait yang melukiskan hal tersebut terjemahannya berbunyi :

Mengapa Agama tersia-sia,
Dunia laksana akan fana,
Ulama membisu bicara tiada,
Medan perang sunyi tiada bergema?
Manusia penaka kehilangan diri,

Jihad tiada hiraukan lagi,
Tinggal seorang berakal budi,
Teungku di Tiro teladani Nabi. (21)

Dalam pengantar penyalinan naskah Hikayat Prang Sabi, Abdullah Arif menandaskan kepastiannya Teungku Tjhik Pante’ Kulu yang mengarang hikayat tersebut :

Amma ba’du sekedar puji,
Sebuah berita hamba rawikan,
Pesan datu Teungku di Tiro,

Kissah perang sabil beta himpunkan.
Pengarang hikayat pujangga utama,
Mujahid besar ulama sufi,
Teungku Pantekulu masyhur nama,
Orientasi ke Tiro dalam Perang Kompeni (22)

Ismail Jakub dalam bukunya Teungku Tjhik di Tiro juga menandaskan bahwa pengarang Hikayat Prang Sabi adalah Teungku Tjhik Pante Kulu.(23)

Prof. Dr. Anthony Reid, ahli sejarah bangsa Australia, dalam hal ini menyatakan “Though Teungku Chik Pante Kulu, from a Deah close to Tiro, is reputed in Aceh to have composed the Hikayat Perang Sabil on this back from Mecca about 1880, this Hikayat was popularized by Teungku Sheikh Saman as a means to arouse religious ferfour for the war”. (Meskipun Teungku Tjhik Pante Kulu, dari Dayah yang dekat dengan Tiro, termasyhur di Aceh yang mencipta Hikayat Prang Sabi dalam perjalanan pulangnya dari Mekkah sekitar 1880, namun hikayat ini dipopulairkan oleh Teungku Syekh Saman dengan maksud untuk mengobarkan semangat agama untuk berperang).(24)

Dari uraian-uraian di atas bolehlah diyakinkan, bahwa Hikayat Prang Sabi adalah karya pujangga besar Teungku Tjhik Pante Kulu.

🎁 SIAPAKAH TEUNGKU TJHIK PANTE KULU?

Penyair perang terbesar Teungku Tjhik Hadji Muhammad Pante Kulu, dilahirkan dalam tahun 1251 H. (1836 K.) di desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kecamatan Kemalawati, Kabupaten Pidie, dalam suatu keluarga ulama yang ada hubungan kerabat dengan kelompok ulama Tiro.(25)

Setelah belajar AJ Qur-an dan ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Jawi (Melayu), pemuda Muhammad melanjutkan pelajarannya pada “Dayah Tiro” yang dipimpin oleh Teungku Haji Tjhik Muhammad Amin Dayah Tjut, seorang tokoh Ulama Tiro yang baru pulang dari menunaikan ibadat haji di Mekkah, dan sangat besar pengaruhnya di Aceh.

Setelah belajar beberapa tahun di “Dayah Tiro” sehingga mahir bahasa Arab dan menamatkan beberapa macam kitab ilmu pengetahuan, maka dengan izin gurunya Teungku Haji Tjhik Muhammad Amin, pemuda Muhammad yang telah bergelar Teungku di Rangkang (kalau istilah sekarang : Asisten Dosen) melanjutkan studinya ke Mekkah sambil menunaikan rukun Islam kelima ibadat haji.
Di Mekkah beliau memperdalam ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya, seperti sejarah, logika, falsafah, sastra dan sebagainya.

Di samping belajar, beliau mengadakan hubungan dengan Pemimpin-pemimpin gerakan Wahabi yang sedang menghangat juga dengan pemimpin-pemimpin Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia….

Gambar 9. Orator dari Jawa-pun datang jauh-jauh ke Aceh untuk menghangatkan masyarakat Aceh dalam mengobarkan kebencian dan permusuhan terhadap Wahabi Aceh. Air susu dibalas dengan air tuba, Kura-kura dalam perahu bahwa “Wahabi” Aceh-lah yang memimpin dan mengobarkan semangat jihad perang sabil?

Sebagai seorang yang berjiwa seni, beliau sangat gemar membaca buku-buku syair Arab, terutama karya penyair perang di zaman Rasul, seperti Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Malik, Ka’ab
bin Zubair. Syair-syair mereka itu membimbing jiwa pemuda Muhammad, sehingga akhirnya dia menjadi Penyair Perang terbesar dalam sejarah dan namanya diabadikan sebagai penyair
Perang.

Di samping membaca kitab syair (diwaanusy-syi’r), juga beliau sangat gemar mempelajari sejarah pahlawan-pahlawan Islam yang kenamaan, seperti Khalid bin Walid, Umar bin Chaththab, Hamzah, Usamah bin Zaid, Thariq bin Ziyad dan lain-lainnya.
Hal ini akan memberi arah kepada Hikayat Prang Sabi yang akan dikarangnya nanti.

Setelah empat tahun bermukim di Mekkah, beliau telah menjadi ulama besar yang berhak memakai gelaran Syekh dipangkal namanya, sehingga jadi Teungku Tjhik (Guru Besar kalau istilah sekarang).
Pada waktu pecah perang Aceh sebagai akibat agressi Belanda, Teungku Tjhik Muhammad Pante Kulu telah berada di Tanah Suci. (26)

Sebagai seorang patriot yang ditempa oleh sejarah hidup pahlawan-pahlawan Islam kenamaan, maka beliau telah bertekad untuk pulang ke Aceh ikut berperang bersama-sama ulama-ulama dan pemimpin-pemimpin serta rakyat Aceh.
Azamnya tidak bisa ditahan-tahan lagi, setelah mendengar salah seorang sahabatnya, Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman telah diserahi tugas oleh kerajaan untuk memimpin perang semesta melawan serdadu-serdadu kolonial Belanda.

Kira-kira akhir tahun 1881 M. Teungku Tjhik Muhammad Pante Kulu meninggalkan Mekkah menuju Tanah Aceh yang bergelar Serambi Mekkah.
Dalam perjalanan pulang, di atas kapal antara Jeddah dengan Penang, beliau berhasil mengarang sebuah karya sastera yang sangat besar nilainya, yaitu Hikayat Prang Sabi, sebagai sumbangsihnya untuk membangkitkan semangat jihat melawan Belanda.(27)

Yang mendorong beliau untuk mengarang sajak-riwayat Hikayat Prang Sabi, yaitu kesadaran beliau tentang betapa besar pengaruhnya syair-syair Penyair Hassan bin Tsabit dalam mengobarkan semangat jihad kepada kaum Muslimin di zaman Rasul…

Karya sastra yang amat berharga ini sesampainya di Aceh dipersembahkan kepada Teungku Tjhik di Tiro oleh pengarangnya Teungku Tjhik Pante Kulu, dalam suatu upacara khidmat
di Kuta Aneuk Galong. (28)

Gambar 10. Azamnya tidak bisa ditahan-tahan lagi, setelah mendengar salah seorang sahabatnya, Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman telah diserahi tugas oleh kerajaan untuk memimpin perang semesta melawan serdadu-serdadu kolonial Belanda.

Menurut Abdullah Arif, selain dari Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu, masih ada lagi karya Teungku Tjhik Pante Kulu, baik dalam bentuk prosa ataupun puisi, baik dalam bahasa Melayu Jawi ataupun dalam bahasa Aceh sendiri, tetapi tidak begitu luas tersiarnya.(29)

Teungku Tjhik Muhammad Pante Kulu mempunyai dua orang isteri : yang pertama berasal dari kampung Titeue, Kecamatan Kemalawati, Kabupaten Pidie, sementara isteri yang kedua Tgk. Njak Aisjah berasal dari Kampung Grot, Kecamatan Montasie, Kabupaten Aceh Besar.
Dari isteri yang pertama, beliau memperoleh seorang putera yang kemudian ikut serta bertempur sebagai Mujahid di Aceh Besar.

Setelah menyertai Teungku Tjhik di Tiro dalam berbagai medan perang dengan senjata Hikayat Prang Sabi-nya, maka Teungku Tjhik Muhammad Pante Kulu berpulang ke rahmatullah di Lam Leuot, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar dan dimakamkan di sana.

(Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda. A. Hasjmy, hal. 46-52)

🎁HIKAYAT PERANG SABIL BERHASIL MENGOBARKAN SEMANGAT JIHAD KAUM MUSLIMIN ACEH (peny.)

Telah menjadi kebiasaan para pengarang Islam, bahwa pada mukaddimah karangan-karangannya didahului dengan puji-puja kepada Allah dan salam-sanjungan kepada Rasul-Nya.
Demikianlah, Teungku Tjhik Pante Kulu mendahului seluruh “Karya Sastra”nya itu dengan puji dan sanjung yang telah menjadi kebiasaan itu, yang terjemahannya :

Alhamdulillah Tuhan Pencipta,
Alam semesta karunia Ilahi,
Arasy tinggi, sorga dan neraka,
Langit bumi, segala isi

Setelah itu salat dan salam,
Untuk Junjungan penghulu Nabi,
Demikian pula sahabat kenalan,
Muhajirin dan Ansar pejuang asli.

(Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda. A. Hasjmy, hal. 77-78)

Hikayat Prang Sabi sebagai karya sastra, sebagai “puisi perang”, benar-benar telah berhasil mencapai sasarannya dan benar-benar telah membuat pimpinan dan serdadu-serdadu tentara kolonial Belanda mati ketakutan.

Untuk apa maka Hikayat Prang Sabi dicipta, dilukiskan oleh pengarang dengan indahnya dalam empat rangkum sajak yang terjemahannya :

Setelah puji salat dan salam,(30)
Sewarkah hadiah hamba sembahkan,
Dengan hidayah Khalikul Alam,
Hikayat Perang Sabil hamba kissahkan.

Pekabaran Al Qur-an akan direka,
Pinta kakanda pada adinda, (31)
Menolak kehendak layak tiada,
Meski karangan kurang sempurna.

Benarlah ini amalan terpuji,
Semoga Ilahi beri pahala,
Berguna hendaknya bagi semua,
Handai tolan sahabat segala.

Ganti memberi keris berdulang,
Lumbung padi berderet rapi,
Ganti pusaka pucuk kerawang,(32)
Inilah rangkaian intan baiduri.

Dari lukisan ini jelas kita lihat bahwa pengarang bermaksud dengan karangannya itu untuk membangkitkan semangat perang sabil dalam hati rakyat, sehingga mereka bersedia syahid dalam
mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.

Dari kenyataan sejarah terbukti bahwa Hikayat Prang Sabi benar-benar telah menjiwai perang Aceh lawan Belanda selama puluhan tahun, benar-benar telah membuat rakyat Aceh menjadi “Muslim Sejati” yang tidak takut mati untuk membela kebenaran, al-haq: benar-benar telah melahirkan pahlawan-pahlawan yang tidak ingin pulang dari medan perang; benar-benar telah menjadikan Aceh sebagai neraka bagi tentara Belanda sepanjang sejarah penjajahan di rantau ini.

Bagaimana besarnya pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam membangkitkan semangat perang, sehingga menyebabkan kedudukan tentara Hindia Belanda sangat terjepit, oleh seorang pengarang Belanda Zentgraaf melukiskan sebagai berikut :

“… menig jong man deersteschreden op het oorslogpad onder den machtigen indruk dier lectuur op zijn emotioneele ziel…. zeer gevaarlijke lectuur…. ( Para pemuda meletakkan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya-sastra ini …. Hikayat Prang Sabil, menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung…. karya-sastra yang sangat berbahaya). (33)

Seorang sarjana barat lain, Prof. Dr. Anthony Reid ahli sejarah bangsa Australia, melukiskan Hikayat Prang Sabi itu sebagai sesuatu yang sangat dahsyat :

“This ulama activity of the 1880’s produced a whole new literature of popular epic poetry in Atjehnese. The Hikayat perang sabil was the most famous of these exhortations to the holy war, but Teungku Tiro, Teungku Kutakarang and others also circulated their own shorter works stressing the helplessness of the kafir and the successess in store for Atjehnese when once the true disciplines of Islam. Seular poets like wise compose more entertaining accounts of the heroism of the Atjehnese and the more comic aspects of Dutch policies. These poems, read aloud by one of their number, became the most popular evening entertainment for the young men gathered in the meunasah (communal hall),” (34)

(Kegiatan para ulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya-sastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan populair dalam lingkungan rakyat Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah
yang paling masyhur dalam membangkitkan semangat perang-suci, bahkan Teungku Tiro, Teungku Kutakarang dan Ulama-Ulama lainnya, juga telah menyiarkan karya-karya pendek mereka yang
melukiskan kelemahan pihak kafir dan kemenangan telah tersedia untuk rakyat Aceh apabila pada satu waktu nanti mereka telah menerima kebenaran ajaran-ajaran Islam.
Para penyair duniawi juga telah mencipta sejumlah bacaan hiburan yang melukiskan kepahlawanan rakyat Aceh dan segi-segi kelucuan dari para politisi Belanda.
Syair-syair ini, yang dibaca nyaring oleh salah seorang mereka, telah menjadi hiburan malam yang terpenting bagi para pemuda yang berkumpul di meunasah (ruangan bersama).

Setelah membaca pandangan dua orang asing tentang berhasilnya Hikayat Prang Sabi mencapai sasarannya, seorang diantara mereka adalah musuh rakyat Aceh pada waktu itu.

Marilah sekarang kita coba mengenyam pula lukisan seorang-orang Aceh tentang hal tersebut.
Dalam sepatah kata pengantar salinan naskah Hikayat Prang Sabi, pengarang ANZIB telah berhasil mengarang sebuah prosa bahasa Aceh yang menggambarkan betapa takutnya Belanda kepada akibat meluasnya tersiar Hikayat Prang Sabi sehingga oleh pembesar Belanda yang berkuasa di Aceh waktu itu dilarang membacanya. Lukisan tersebut antara lain berbunyi sebagai berikut :

Salinan dalam bahasa Indonesia : (35)

“Apabila Belanda mengetahui ada orang yang menyimpan Hikayat Prang Sabi, terus dirampas dan penyimpannya dihukum, demikian pula terhadap siapa saja yang membacanya.
Penyalin naskah ini pernah mengetahui, ada seorang orang yang bernama Leem Abah, penduduk kampung Peurada kemukiman Kajeeadang daerah XXVI Mukim (sekarang Kecamatan Inginjaya).
Pada suatu malam dia mendengar orang membaca Hikayat Prang Sabi. Besoknya tanpa diketahui siapapun, pada pagi-pagi buta dia telah berada di Pekan Aceh di depan Sociëteit Atjeh Clup (sekarang Balai Teuku Umar), di mana dijumpainya seorang orang Belanda lagi berjalan-jalan, lantas dengan mendadak Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain dan ditikam Belanda itu tepat pada dadanya, hingga jatuh terlentang dan mati terus di situ juga.
Sesaat kemudian, Leem Abah tersebut terus ditangkap dan akhirnya diinternir ke Pulau Jawa, yang mungkin telah dibunuh, sebab tidak pernah pulang lagi ke Aceh.

Peristiwa ini terjadi dalam tahun 1907, pada waktu pertama kali Belanda menetapkan wajib bayar pajak bagi orang Aceh.
Selain dari peristiwa tersebut pada masa itu, masih banyak lagi terjadi kejadian-kejadian yang serupa, di mana satu dua orang masuk kota dan terus membunuh Belanda, sehingga terpaksa diadakan penjagaan yang ketat, dan siapa saja yang dicurigai terus ditangkap.

Demikianlah tajam dan berbisanya kandungan Hikayat Prang Sabi itu. Karena itulah, maka Belanda takut setengah mati kepada orang yang membaca ataupun mendengar Hikayat Prang Sabi tersebut.
Lantaran itu, di mana saja diketahui ada orang yang menyimpan hikayat tersebut, terus dibeslah (diambil dengan paksaan) dan penyimpannya dihukum berat, agar orang lain menjadi ketakutan.

Sungguhpun demikian, Hikayat Prang Sabi tersebut tetap disimpan orang kita naskahnya dengan cara sembunyi-sembunyi, ataupun ditulis kembali karena banyak orang yang bisa menghafalnya.
Sebab itulah, maka kadang-kadang terdapat sedikit perbedaan antara satu dengan lain naskah. “

Lukisan di atas sudah cukup jelas! Uraian pasal ini akan saya akhiri dengan menukilkan sebuah lukisan pengarang ANZIB (36) yang lain lagi, bukan prosa, tetapi puisi dalam bahasa Aceh juga, yang juga menggambarkan kehebatan Hikayat Prang Sabi :

Kendati beracun rencong dan pedang,
Hikayat Perang Sabil lebih berbisa,
Belanda takut lutut bergoyang,
Kissah dilarang menyimpan-membaca.

Di zaman Belanda hikayat dilarang,
Siapa menyimpan hukuman berganda,
Karena kandungan merangsang perang,
Mengobar semangat lawan Belanda.

Demikian kissah mengandung racun,
Mematikan kafir Belanda celaka,
Penyimpan dihukum tiada ampun,
Hikayat dirampas, pembaca disiksa.

Kaki tangan Belanda berkeliaran,
Siang malam sibuk mencari,
Demi diketahui siapa penyimpan,
Kepada Belanda laporan diberi.

Sesaat ketika serdadupun datang,
Hikayat disita, pemilik digari,
Kepada Belanda dipersembahkan,
Penyimpan digiring ke dalam tangsi.

Demikian hikayat merangsang perang,
Membangkitkan semangat pendengar berita,
Di mana jumpa Belanda dicencang,
Hilang melayang cinta dunia. (37)
(Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda. A. Hasjmy, hal. 53-58)

Berikut ini contoh tiga rangkum sajak dari Hikayat Prang Sabi, sajak pengobat jihad fi sabilillah:

Dengan haru cucurkan airmata, (38)
Kenangkan Allah Mahakuasa,
Demi darah merah terpandang,
Mukanya bercaya cemerlang.

Oh, anakku
Lah datang panggilan sayang,
Janji Ilahi dari azali,
Dara sorga lah menanti
Pulangnya abang pahlawan.

Janjimu dahulu, intan,
Jual jiwa di medan laga,
Kini terimalah sayang,
Hadiah perang indah rupawan.

Apabila kita menelaah Hikayat Prang Sabi dengan teliti, kita pasti akan berakhir pada suatu kesimpulan bahwa Hikayat Prang Sabi sebagai sebuah karya-sastra memenuhi segala syarat pendidikan. Ia telah sanggup mendidik akal manusia Aceh dalam, zaman sulit itu, telah sanggup mendidik akhlak mereka, telah sanggup mendidik rasa mereka dan bahkan telah sanggup memberi nilai-nilai keindahan kepada jiwa mereka, sekalipun negaranya sedang dibakar api peperangan.

Lima rangkum sajak yang saya rekam di bawah, seperti halnya semua sajak dalam Hikayat Prang Sabi, dalam penilaian saya telah memenuhi syarat-syarat pendidikan:

Oh, muda belia, (39)
Lupakan dara rupawan,
Gantinya Ainulmardliyah puteri jelita,
Telapak kakinya emas tempawan.

Berkain tujuh dipinggang ramping,
Betisnya licin berseri cahaya,
Dari nur yang memutih gading,
Wujudnya menjelma.

Renung sejenak adikku sayang,
Lupakan dunia fana,-
Untuk apa pedang kehormatan,
Tinggalkan senjata keemasan.

Oh, saudaraku muda rupawan,
Cita dunia tiada gunanya,
Kikis habis dalam ingatan,
Mari kita menuju sorga.

Wahai pemudaku intan baiduri,
Usia dunia akan berakhir,
Janji Ilahi akan berbukti,
Seperti suratan takdir.

Jangan katakan mati, (40)
Mujahid yang tewas di medan perang,
Mereka hidup bahagia,
Senantiasa bermandikan rahmat Tuhan.

Jangan dianggap mati,
Meski nyatanya demikian,
Jangan ragukan kekasih hati,
Ada firman Tuhan. (41)

Jangan sebutkan mati,
Meski nyawa sudah tiada,
Di sisi Ilahi ia abadi.
Senantiasa bersukaria.

Dari uraian-uraian yang telah diketengahkan di atas, jelaslah bahwa Hikayat Prang Sabi sebagai suatu “karya-sastra”, sebagai “puisi-perang”, sebagai “epic-poetry” telah berhasil dengan gemilang, dan penciptanya Teungku Tjhik Pante Kulu berhaklah mendapat gelaran “Penyair Perang” terbesar di dunia.

Mereka, para provokator ternyata terselip untuk berkata jujur kepada masyarakat bahwa Perang Sabil melawan penjajah kompeni Belanda di Serambi Mekah dikobarkan oleh “Wahabi”!!

Bersambung—–

Catatan kaki
(1) Muhammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 389-400.
Ismail Jakob : Teungku Tjhik di Tiro halaman 15-16.
(2) Muhammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 397.
(3) Ibid halaman 395 – 396
(4) Ibid halaman 401-425.
Ismail Jakob : Tgk. Tjhik di Tiro halaman 15-18.
Abdullah Arif : Srikandi Tjut Njak Dhien halaman 10-11 .
Hazil : Teuku Umar dan Tjut Njak Dhien halaman 11-15 ;
Anthony Reid : The Contest for North Sumatera halaman 152-155.
(5) Muhammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 428-430.
Anthony Reid : The Contest for North Sumatra halaman 156-158.
(6) Muhammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 435-436.
(7) Ibid halaman 437-439.
Ismail Jakub : Teungku Tjhik di Tiro halaman 18-20.
Abdullah Arif : Srikandi Tjut Nyak Dhien halaman 11.
(8) Muhammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 445-456.
(9) Muhammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 473.
Ismail Jakub : Teungku Tjhik di Tiro halaman 20-21.
(10) Mohammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 461 — 470.
(11) Ibid halaman 473
(12) Anthony Reid : The Contest for North Sumatera 119-155.
(13) Mohammad Said: Aceh Sepanjang Abad halaman 474-475.
(14) Ismail Jakub : Teungku Tjhik di Tiro halaman 22-23 .
(15) Ibid halaman 2 4-27.
(16) Anthony Reid : The Contest For North Sumatra halaman 251.
Mohammad Said : Aceh Sepanjang Abad halaman 347.
(17) Ismail Jakub : Teungku Tjhik di Tiro halaman 35-47.
(18) Menurut kitab Fathurrahman dan beberapa Qur-an yang ada pada kami, yaitu surat Al Baqarah ayat 256 (bukan ayat 257 seperti yang disebut Menteri Jajahan Belanda itu), yang selengkapnya terjemahan demikian : “Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, siapa saja yang engkar kepada thaghut dan .beriman dengan Allah, sesungguhnya dia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” A.H.
(19) Hazil : Teuku Umar Dan Tjut Njak Dhien halaman 78-79.
(20) Hikayat Prang Sabi halaman 17.
(21) Anzib : Pengantar Hikayat Prang Sabi halaman 6.
(22) Abdullah Arif : Pengantar Hikayat Prang Sabi halaman 10.
(23) Ismail Jakub : Teungku Tjhik di Tiro halaman 44.
(24) Anthony Reid : The Contest for North Sumatra halaman 204.
(25) Abdullah Arif : 10 t»hun Darussalam halaman 302.
(26) Abdullah Arif : 10 Tahun Darussalam halaman 303.
Tgk. M. Hasballah Saleh : Sinar Darussalam No. 5 halaman 78.
(27) Tgk. M. Hasballah Saleh : Sinar Darussalam No. 5 halaman 79.
(28) Tgk. M. Hasballah Saleh : Sinar Darussalam No. S halaman 80.
(29) Abdullah Arif : 10 Tahun Darussalam halaman 307.
(30) Tgk. Tjhik Pante Kulu : Hikayat Prang Sabi halaman 16.
(31) Yang dimaksud dengan abang (kakanda), yaitu Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman. A.H.
(32) Semacam perhiasan kebesaran di Aceh yang terbuat dari emas murni. A.H.
(33) Zentgraaf : Aceh halaman 244 (via Sinar Darussalam No. 5 halaman 79).
(34) Anthony Reid : The Contest for North Sumatra halaman 252
(35) Anzib : Pengantar Naskah Hikayat Prang Sabi halaman 89.
(36) Pengarang ANZIB berpendidikan guru dan pada waktu sebelum perang dunia II beliau menjadi guru di samping menjadi pengarang. Banyak karangan-karangan beliau dalam bahasa Aceh baik prosa atau puisi. Balai Pustaka pernah menerbitkan karangan beliau, antara lain buku sejarah Sulthan Iskandar Muda yang di-Indonesiakan dari bahasa Aceh. Beliau adalah pengarang penyair dan ahli bahasa Aceh.
Sekarang beliau telah pensiun, tetapi masih terus ada kegiatan dalam bidang kesusasteraan Aceh. Koleksi buku-buku kesusasteraan (hikayat) Aceh agak banyak pada beliau. Saya sendiri banyak mendapat salinan berbagai hikayat Aceh dari beliau, yang disalin dari naskah asli, termasuk diantaranya Hikayat Prang Sabi. Almarhum Abdullah Arif salah seorang yang mengikuti jejak beliau dalam memperkembangkan dan mengumpul karya-karya sastera Aceh. A.H.
(37) Anzib: Pengantar salinan Hikayat Prang Sabi halaman 13 – 14.
(38) Teungku Tjhik Pante Kulu : Hikayat Prang Sabi hlm. 56.
(39) Teungku Tjhik Pante Kulu : Hikayat Prang Sabi hlm. 19.
(40) Teungku Tjhik Pante Kulu: Hikayat Prang Sabi hlm. 23.
(41) Yang dimaksud Firman Tuhan oleh pengarang, yaitu ayat 169 -170 Surat Ali Imran di mana beliau mempuisikan dua ayat tersebut dalam tiga bait sajaknya di atas.
Ayat 169 -170 Surat Ali Imran tersebut terjemahannya sebagai berikut :
“Orang-orang yang tewas di medan perang karena membela agama Allah, janganlah kamu sangka mati, bahkan mereka hidup terus, senantiasa mendapat rezeki dari Tuhannya, mereka bersukaria dengan nikmat yang diberikan Allah kepada mereka, dan sangat ingin agar jejak mereka dapat diikuti oleh orang-orang di belakang mereka, tanpa merasa takut gelisah.” A.H.

Baca artikel terkait:

🔆👣🔆👣🔆👣🔆👣🔆
⚔️🛡Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
📇 Klik ➡️JOIN⬅️ Channel Telegram: http://bit.ly/tukpencarialhaq
🌎 http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com

 

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.